Rabu, 15 Mei 2013

Catatan Seorang (Yang Jadi) Editor Video

Ketika kalian masih kecil profesi apakah yang menurut kalian keren dan kalian cita-citakan? Sebagai generasi sebelum tahun 2000 sepertinya cita-cita itu tidak lepas dari profesi-profesi seperti Dokter, Guru, Pilot, Polisi atau mungkin Presiden. Mungkin sampai sekarang profesi itu masih cukup populer di mata anak-anak. Tapi menariknya sekarang makin bervariasi juga cita-cita anak kecil zaman sekarang. Terakhir ketika saya coba bertanya pada seorang anak kecil tentang cita-citanya, dia bercita-cita ingin menjadi supir truk sampah.
Saya sendiri pernah bercita-cita menjadi pilot pesawat terbang karena bisa terbang di langit dan katanya banyak duitnya, buktinya dulu anak kecil suka teriak-teriak "montor mabur njaluk duit e! (peasawat terbang minta uangnya!)" ketika melihat pesawat terbang melintas di langit. Ketika SD saya sangat terobsesi dengan pelajaran IPA, dan senang sekali melakukan percobaan-percobaan seperti di acara Indosat Galileo sehingga saya pun bercita-cita menjadi ilmuwan seperti Albert Einstein. Tapi setelah SMP dan mengetahui bahwa IPA dan Matematika adalah pasangan abadi, saya merasa dihianati dan akhirnya patah hati pada cita-cita saya menjadi ilmuwan *haduh*. Meski kemudian saya tertarik pada dunia IT dan turunannya tapi saya tidak pernah menyatakannya sebagai cita-cita saya. Dan kehidupan pun terus berjalan sampai detik ini.
Sepertinya benar adanya jika cita-cita itu penting dan cita-citalah yang akan menciptakan jalan hidup kita. Meskipun bukan cita-cita saya secara resmi, ketertarikan saya dibidang IT sepertinya telah menuntun saya ke posisi saat ini, sebagai seorang yang jadi editor video. Sebuah cerita yang panjang jika ditanya dimana hubungan antara IT dan editor video. Tapi ya begitulah adanya.
Editor Video, apakah itu profesi yang populer bagi anak 90an waktu itu? Tidak. Bahkan Profesi terpopuler di dunia pervideoan yang tidak populer pun dipegang oleh Sutradara atau artis/talent nya. Tidak pernah rasanya sebuah film disebut-sebut seperti ini, "Film yang dieditori oleh A memenangkan award di bla bla bla" atau "eh nonton film XYZ yuk, editornya si A lho...". Kalaupun nantinya ada orang awam yang tidak baca tulisan ini bilang editornya lebih terkenal daripada sutradara atau artisnya, saya traktir es krim selama sebulan*.
Pertamakali mengenal dunia editing video berawal dari mata kuliah Penulisan Naskah Iklan untuk tugas TVC. Lagi-lagi PNI, ya..mata kuliah ini memang mengubah banyak hal dalam hidup saya. Meskipun ketika SMP pernah mencoba editing video tapi rasanya baru ketika mengambil matakuliah itu mengedit video ada tujuannya. Karena asas bagi tugas dan terpaksa, mulailah saya bergelut di dunia itu. Karena hanya mengedit TVC 30-60 detik awalnya saya mengira editing video adalah hal yang sulit menguasai software karena banyak yang bilang tidak bisa, tapi baru saya sadari ketika tugas Tenik-teknik kehumasan membuat video company profile bahwa editing video adalah pekerjaan yang benar-benar tidak enak sehingga jarang ada yang bisa atau males jadi editor video T.T
Menjadi editor video berarti harus siap bekerja ditahap paling akhir sebuah alur kerja produksi video. Ketika pra produksi team yang bertugas mencari properti dan talent bekerja bersama-sama. Ketika proses produksi sutradara, kameramen, sound dan lain-lain bekerja bersama-sama syuting. Ketika post produksi editor sendirian menghadapi berbagai file video hasil syuting ketika yang lain sudah leyeh-leyeh, ya masih untung kalau sutradaranya ikut mengawasi #foreveralone. Belum lagi kalau revisi, ketika ada kesalahan saat syuting, semua akan ikut revisi,  tapi jika kesalahan terjadi saat editing, seorang editor berjibaku sendirian merevisi kesalahan. Setidaknya itu Gambaran alur produksi sederhana, ingat se der ha na. Karena mungkin untuk level yang lebih profesional mungkin akan berbeda, tapi setidaknya begitulah alur kerjanya.
Itu baru secara alur kerja, masih ada lagi tantangan seorang editor dalam menunaikan tugasnya. Di dalam kesendiriannya, seorang editor harus tahan melihat dan mendengar adegan atau kata-kata secara berulang-ulang untuk mencari bagian yang pas untuk dipotong dan disambungkan dengan adegan lainnya. Sehingga seringkali sebuah adegan atau dialog/kata sampai tengiang-ngiang hingga mimpi dan alam bawah sadarnya. Belum lagi menghadapi layer atau tumpukan file video puluhan hingga ratusan yang seringkali terlihat ruwet dan membuat stress. Ditambah lagi ketika musuh alat elektronik datang, yang tidak lain dan tidak bukan adalah "mati listrik". Saat proses editing sudah berjalan cukup banyak, layer beratus-ratus, deadline sudah dekat dan belum tersimpan, mati listrik bisa jadi alasan yang tepat untuk bunuh diri. 

Contoh tampilan editing video
Mungkin sebenarnya tidak seseram itu, karena ada tindakan-tindakan preventif yang bisa dilakukan untuk menghindarinya, tapi tetap saja hal-hal seperti itu tidak bisa dipisahkan dari tugas editor video. Meski sampai detik ini saya masih menyebut editing video adalah hal paling tidak enak dan menyebalkan. Toh nyatanya saya justru menyukai pekerjaan ini. Melalui editing video saya menjadi lebih dewasa, terutama dalam hal kesabaran. Ya, editing video haruslah sabar dan tertata, sabar untuk memulai sesuatu. Seperti saat kita memulai proses editing, dengan sabar kita menata apa saja yang materi-materi yang dibutuhkan ke dalam satu folder dan merencanakan akan seperti apa nantinya hasil dari pekerjaan kita. 
Sabar melihat dan mendengarkan sesuatu yang terus berulang-ulang, seperti dalam kehidupan banyak hal atau masalah yang mungkin tidak kita sukai terus berulang-ulang tapi toh kalau kita bersabar semua juga pasti akan berlalu. Kita perlu menunggu dan memilih dimana saat yang tepat untuk bertindak.
Sabar melihat hal-hal yang kacau dan rumit seperti tumpukan layer di Premiere. Kita hidup bersama banyak orang tentu menciptakan hubungan yang rumit termasuk permasalahannya. Tugas kita adalah bagaimana menjalani permasalahan yang rumit itu bahkan jika bisa menyederhanakannya sesederhana mungkin agar enak dilihat dan dijalani.
Sabar ketika apa yang sudah kita tata dan perjuangkan hilang begitu saja karena mati listrik. Yakin lah dalam hidup kita ini barang cuma sekali pasti pernah mengalami suatu masa dimana semua yang telah kita rencanakan, perjuangkan, kita susun rapi satu persatu tiba-tiba musnah hilang begitu saja seperti habis diterjang badai karena suatu masalah. Tapi apa yang kita bisa perbuat? tak ada ctrl+z di kehidupan nyata, hidup harus terus berjalan.
Sabar menanti hasil dari apa yang kita kerjakan seperti halnya proses rendering. Di komputer yang tidak begitu tinggi spesifikasi hardwarenya mungkin menunggu sebuah file video jadi disimpan adalah sebuah tantangan yang berat. Menunggu, menunggu dan menunggu...ada kalanya kita harus menunggu hingga 5 jam untuk sebuah file video berdurasi 30 menit untuk siap ditonton. Dalam hidup kita pasti pernah menunggu kan? apalagi di Indonesia.
Sejak awal dari tulisan ini saya tidak pernah mengklaim bahwa saya adalah seorang editor video, tapi saya adalah Seorang Yang Jadi Editor Video. Karena bagi saya seorang editor video sesungguhnya adalah orang yang benar-benar secara sadar belajar ilmu editing video, mempunyai naluri, insting dan sense seorang editor yang "tajam", sedangkan saya hanya terpaksa belajar editing video dan kebetulan sering mendapat tugas atau pekerjaan sebagai editor video, dan pengalaman saya baru 3 tahun. Saya juga belum pernah mengedit video yang berdurasi lebih dari 45 menit.
Seperti yang saya bilang tadi bahwa editing video menurut saya adalah perkerjaan yang tidak enak, tapi justru saya lebih memilih pekerjaan ini dibanding jadi kameramen, atau desainer grafis atau disuruh cari talent maupun properti. Pernah saya dimintai tolong untuk membuatkan desain packaging. Meskipun fee yang diberikan hampir sama dengan fee  untuk editing video pendek, tapi saya merasa berat sekali untuk mengerjakannya meski katanya itu lebih mudah daripada mengedit video.
Menjadi editor video mungkin pekerjaan yang tidak menyenangkan (menurut saya), tapi di dunia ini eee..atau setidaknya di Jogja ini hanya sedikit orang yang mau dan berprofesi sebagai editor video. Terlebih saat ini video sudah menjadi media yang banyak dipakai, sehingg banyak orang atau perusahaan yang mau membayar cukup tinggi untuk seorang editor video apalagi dia punya sedikit kemampuan tambahan lain dibidang video. Jadi pekerjaan ini patut di pertimbangkan.


***

Huaaah...bulan Mei akhirnya datang lagi, dan 31 Hari Menulis diselenggarakan lagi. Sudah tahun ketiga ini saya mengikuti acara yang diselenggarakan teman-teman komunikasi UGM ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tidak mengharap atau bercita-cita menjadi pemenang dalam acara ini, saya masih sadar bahwa kemampuan menulis saya belum pantas menerima gelar pemenang dalam acara ini. Saya hanya senang berbagi dan melihat acara ini adalah momen yang tepat untuk berbagi dan mengasah kemampuan menulis saya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tidak merencanakan secara detail akan menulis apa nantinya. Karena menurut saya dengan tidak merencanakannya saya justru dituntut untuk terus berpikir setiap harinya demi tidak mendapat denda. Karena seperti yang dikatakan mentor saya dalam sebuah acara, seorang yang benar-benar kreatif adalah seorang yang selalu berpikir untuk menyelesaikan masalah. 
Namun saya tetap mempunyai gambaran akan menulis topik apa saja. Beberapa tulisan saya nanti kebanyakan akan menuliskan cerita tahun lalu yang saat ini hanya menjadi draft di blog ini. Cerita di masa kini pun akan saya tulis juga dan beberapa tips selo dari saya. Di 31 Hari Menulis kali ini saya juga akan mencoba membuat sebuah fiksi jika nantinya memungkinkan.
Mari menulis.

4 comments:

Hannah R.A.B mengatakan...

woahh

Asihun El janatun mengatakan...

Boleh berbagi perjalanan proses belajar editing videonya.. Awalnya pakai software apa?

zado Alves mengatakan...

Proud of you sobat arie...sya sangt suka dgn kehebatn mu itu..bravo

Habib Radityapraba mengatakan...

bang kata katanya cakep, ijin copy ya

Posting Komentar