Bulan Mei benar-benar berlalu begitu cepat seperti biasanya. Tak terasa hari ini sudah tanggal 28 yang artinya 3 hari lagi kita harus sudah bersiap-siap menyambut bulan Juni. Berakhirnya bulan Mei juga menandakan berakhirnya #31harimenulis tahun ini, yang alhamdulillah sudah 28 hari saya lalui bersama peserta yang lain tanpa tekena denda satu sen pun.
Di hari ke-28 ini juga blog ini genap berusia 100 postingan, sejak pertama kali online di dunia maya pada 21 Januari 2010. Selama 2 tahun lebih online, blog ini sejujurnya tergolong blog yang sangat jarang sekali di update. Kalaupun terupdate mungkin karena ada 31 Hari Menulis dan karena keharusan untuk memposting sesuatu untuk suatu kepentingan, sisanya baru benar-benar keinginan tulus untuk mengupdate, itupun dengan kualitas tulisan yang menurut saya belum bisa dibilang bagus.
Sejujurnya saya benar-benar ingin bisa menulis secara rutin di blog dengan tulisan-tulisan yang bagus, hanya saja faktor M (malas) masih sering menjadi masalah belum lagi tidak terbiasanya membuat tulisan membuat tulisan-tulisan saya tidaklah bagus. Saya selalu takjub ketika membaca postingan teman-teman di blog mereka, tulisan mereka begitu mengalir, berisi dan bermakna. Sebut saja seperti blog nya Awe 06 yang sangat "angker", ketika membaca tulisan-tulisannya rasanya seperti "muntah pelangi", coba saja kunjungi blognya.
Ada yang pernah bilang agar kita bisa menciptakan sebuah tulisan yang bagus tidaklah cukup hanya terbiasa menulis saja. Agar tulisan kita juga lebih berisi dan hidup, kita juga harus rajin membaca, membaca apapun itu. Ketika kita tidak pernah membaca, maka apa yang kita tulis seolah hanya berisi apa yang menurut kita benar saja, sehingga tulisan kita menjadi sangat miskin dan kering. Menurut saya disinilah kekurangan saya, membaca sesuatu yang berbobot saja jarang, menulispun lebih jarang lagi.
Meski kekurangan saya sebenarnya begitu fatal, setidaknya saya punya pembenaran bahwa yang terpenting sekarang saya masih mempunyai keinginan untuk menulis. Seperti kata buku Dasar-dasar penulisannya mas Nunung, "Tulis Saja Kapan Lagi?" yang terpenting sekarang adalah tulis saja apapun itu yang ada dikepala dan apa yang ingin ditulis, masalah bagus atau tidaknya nanti saja. Doa saya malam ini adalah semoga mulai dari tulisan ini saya posting, ke depannya tulisan saya semakin bagus, bermutu dan bermakna :)
Why So Serious?
Senin, 28 Mei 2012
Minggu, 27 Mei 2012
6 Tahun Gempa Jogja
Sudah 6 tahun berlalu, sebuah peristiwa terdahsyat dalam hidup saya dan mungkin seluruh masyarakat Jogja dan sekitarnya. Tepat ditanggal yang sama di tahun 2006, gempa 5,9 SR mengguncang Jogja. Kejadian yang telah merenggut banyak korban baik korban jiwa, luka, harta dan rumah seolah belum tidak akan pernah terlupakan.
Jika disuruh bercerita tentang gempa Jogja waktu itu, mungkin saya termasuk orang yang beruntung tidak menjadi korban apapun selain korban kerusakan rumah. Tapi sebagai orang yang ada ditempat kejadian itu, seringan apapun kerugian yang diderita, pasti merasakan betapa mencekamnya kejadian hari itu.
Hari itu Sabtu 27 Mei 2006 pukul 05.50 seperti biasa saya sudah bangun dan menonton TV di kamar sembari mempersiapkan diri berangkat ke sekolah. Masih ingat acara yang saya tonton kalau tidak salah adalah Cat & Dog di Global TV. Belum juga berangkat mandi saya masih asyik menonton TV sambil tiduran, tiba tiba mendengar suara gemuruh yang semakin lama semakin besar dan terdengar suara teriakan Bapak yang menyuruh kami keluar. Sadar itu gempa dan guncangan semakin besar kami langsung lari ke halaman belakang sambil terhuyung-huyung hampir jatuh tak kuasa menahan goncangan. Begitu sampai di halaman belakang, kami (saya, adik, dan bapak) hanya berdiri bergandengan merasakan guncangan dan melihat semua benda terjatuh. Meski menurut catatan gempa terjadi sekitar 1 menit, seseorang yang merasakannya pasti merasa itu sangatlah lama. Begitu gempa berhenti, suasana pagi itu mendadak menjadi hening seperti tidak ada kehidupan. Setelah memastikan semua selamat tak ada kurang satupun, semua tetangga berkumpul di depan salang bercerita. Karena rumah terlihat masih baik-baik saja, kami semua mengira itu seperti gempa biasanya hanya saja lebih besar. Saya bergegas masuk ke dalam dan kemudian mandi untuk segera berangkat ke sekolah. Dengan diantar naik motor, saya mengamati lingkungan sekitar, yang sepertinya tidak banyak berubah. Tapi semakin jauh dari komplek rumah, suasana mencekam dan memilukan semakin tak terhindarkan. Banyak rumah yang hampir roboh bahkan rata dengan tanah.
Jika disuruh bercerita tentang gempa Jogja waktu itu, mungkin saya termasuk orang yang beruntung tidak menjadi korban apapun selain korban kerusakan rumah. Tapi sebagai orang yang ada ditempat kejadian itu, seringan apapun kerugian yang diderita, pasti merasakan betapa mencekamnya kejadian hari itu.
Hari itu Sabtu 27 Mei 2006 pukul 05.50 seperti biasa saya sudah bangun dan menonton TV di kamar sembari mempersiapkan diri berangkat ke sekolah. Masih ingat acara yang saya tonton kalau tidak salah adalah Cat & Dog di Global TV. Belum juga berangkat mandi saya masih asyik menonton TV sambil tiduran, tiba tiba mendengar suara gemuruh yang semakin lama semakin besar dan terdengar suara teriakan Bapak yang menyuruh kami keluar. Sadar itu gempa dan guncangan semakin besar kami langsung lari ke halaman belakang sambil terhuyung-huyung hampir jatuh tak kuasa menahan goncangan. Begitu sampai di halaman belakang, kami (saya, adik, dan bapak) hanya berdiri bergandengan merasakan guncangan dan melihat semua benda terjatuh. Meski menurut catatan gempa terjadi sekitar 1 menit, seseorang yang merasakannya pasti merasa itu sangatlah lama. Begitu gempa berhenti, suasana pagi itu mendadak menjadi hening seperti tidak ada kehidupan. Setelah memastikan semua selamat tak ada kurang satupun, semua tetangga berkumpul di depan salang bercerita. Karena rumah terlihat masih baik-baik saja, kami semua mengira itu seperti gempa biasanya hanya saja lebih besar. Saya bergegas masuk ke dalam dan kemudian mandi untuk segera berangkat ke sekolah. Dengan diantar naik motor, saya mengamati lingkungan sekitar, yang sepertinya tidak banyak berubah. Tapi semakin jauh dari komplek rumah, suasana mencekam dan memilukan semakin tak terhindarkan. Banyak rumah yang hampir roboh bahkan rata dengan tanah.
Sabtu, 26 Mei 2012
Dari Rumah Ke Kampus
Setiap kali terlibat suatu pembicaraan tentang rumah, hampir bisa dipastikan ada ekspresi terkejut bagi orang-orang yang baru mengetahui rumah saya. Rumah saya memang tergolong jauh dari kampus, rumah yang selama 22 tahun ini saya tinggali berada di Kabupaten Bantul di selatan Kota Yogyakarta. Setelah iseng saya ukur dengan Google Maps dan Wikimapia, jarak rumah ke kampus, antara pintu garasi rumah hingga tempat parkir Fisipol UGM diperoleh jarak kurang lebih 17,7 km. Dan menurut perkiraan kedua situs navigasi tersebut perjalanan dari pintu garasi hingga tempat parkir diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 30 menit jika ditempuh dengan mobil. Perkiraan tersebut bisa dibilang cukup akurat mengingat selama hampir 4 tahun ini perjalanan rumah-kampus biasa saya tempuh dalam waktu sekitar 40 menit mengguakan motor di siang hari dan 17-20 menit saat tengah malam.
Pada awal-awal kuliah saya merasa jarak segitu tidaklah jauh sama sekali, tapi hari demi hari saya lewati selama hampir 4 tahun, makin lama jarak tersebut terasa cukup jauh dan lumayan berat. Jarak sejauh itu terasa makin jauh dan melelahkan ketika ditempuh dengan mobil dikala lalu lintas sangat macet. Ketika orang mengetahui jarak rumah saya, hampir bisa dipastikan mereka akan bertanya, "kenapa kamu ga kos aja?". Jika ditanya begitu, saya pun juga agak bingung menjawabnya. Karena menurut saya jarak bukanlah sebuah big deal dalam kasus ini. Kalaupun mau saya memang bisa saja kos di daerah dekat kampus, tapi rasanya agak sayang dengan uang yang digunakan untuk kos yang kalau dihitung-hitung tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan untuk perjalanan rumah-kampus-rumah.
Meskipun jarak bukan menjadi masalah yang besar, tapi bukan berarti tidak ada masalah atau tantangan sama sekali. Yang paling terasa adalah ketika ada perubahan jadwal mendadak. Misal ada janji untuk kumpul jam 15.00 di kampus, tapi tiba-tiba dibatalkan karena banyak yang tidak bisa dan baru diinfokan pukul 14.45. Meski jauh sejujurnya saya menikmati perjalanan rumah-kampus-rumah asal tidak sedang buru-buru. Ada sensasi berbeda terutama saat perjalanan pulang dan merasakan energi rumah saat sampai di rumah.
![]() |
| Total Jarak (klik untuk memperbesar) |
Pada awal-awal kuliah saya merasa jarak segitu tidaklah jauh sama sekali, tapi hari demi hari saya lewati selama hampir 4 tahun, makin lama jarak tersebut terasa cukup jauh dan lumayan berat. Jarak sejauh itu terasa makin jauh dan melelahkan ketika ditempuh dengan mobil dikala lalu lintas sangat macet. Ketika orang mengetahui jarak rumah saya, hampir bisa dipastikan mereka akan bertanya, "kenapa kamu ga kos aja?". Jika ditanya begitu, saya pun juga agak bingung menjawabnya. Karena menurut saya jarak bukanlah sebuah big deal dalam kasus ini. Kalaupun mau saya memang bisa saja kos di daerah dekat kampus, tapi rasanya agak sayang dengan uang yang digunakan untuk kos yang kalau dihitung-hitung tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan untuk perjalanan rumah-kampus-rumah.
Meskipun jarak bukan menjadi masalah yang besar, tapi bukan berarti tidak ada masalah atau tantangan sama sekali. Yang paling terasa adalah ketika ada perubahan jadwal mendadak. Misal ada janji untuk kumpul jam 15.00 di kampus, tapi tiba-tiba dibatalkan karena banyak yang tidak bisa dan baru diinfokan pukul 14.45. Meski jauh sejujurnya saya menikmati perjalanan rumah-kampus-rumah asal tidak sedang buru-buru. Ada sensasi berbeda terutama saat perjalanan pulang dan merasakan energi rumah saat sampai di rumah.
Jumat, 25 Mei 2012
Dendang Legenda Komkustiknya Dua Ribu Sembilan
Baru saja pulang dari Komkustik, sebuah acara di Komunikasi UGM dengan konsep akustik yang diselenggarakan angkatan tahun ketiga. Kali ini acara tersebut diselenggarakan oleh angkatan 2009 dengan tema Dendang Legenda. Dimana lagu-lagu yang dibawakan seputar lagu-lagu yang pernah menjadi legenda di era-nya. Acara tersebut dimeriahkan beberapa angkatan yang masih dan sudah tidak "hidup" di kampus Fisipol UGM, dari 2011 hingga 2007 bahkan angkatan 2005 masih diundang untuk memeriahkan acara komkustik tahun ini.
Dengan melewatkan Komkustik angkatan 2006, tahun ini merupakan ketiga kalinya saya menghadiri acara komkustik, setelah tahun lalu angkatan 2008 sukses menyelenggarakan komkustik dengan tema Soundtrackustik. Pukul 18.44 sampailah saya di kampus fisipol, dari tempat parkir terlihat tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Sempat terpikir apakah acara bukan diselenggarakan di fisipol, dengan sedikit ragu-ragu saya masuk ke dalam dan disambut beberapa anak-anak 2009. Sebagai angkatan 2008 saya datang paling pertama, yang kemudian disusul Matahari beberapa saat kemudian. Tak lama kemudian acara dimulai meski belum terlalu ramai.
Satu persatu band tampil dipanggung Komkustik yang berada di kantin Fisipol. Sebuah panggung yang sederhana namun meriah telah dipersiapkan anak-anak 2009 siap dimeriahkan band-band dari tiap angkatan, dimulai dari angkatan 2011 dan terus naik ke angkatan yang lebih tua. Hingga akhirnya tibalah kesempatan angkatan 2008 untuk tampil. Seperti biasa 2008 membuat acara yang cukup meriah semakin semarak dan heboh ketika seluruh masa 2008 maju ke depan panggung. penampilan pertama adalah Gunung Salak sebuah band yang terdiri dari Ciprut, Ijat, Ari Burjo, dan Yesa. Pada kesempatan kali ini bisa juga disebut sebagai debut pertama Ciprut yang membawakan sebuah lagu berjudul Hotel California. Selesai Gunung Salak memeriahkan Komkustik, panggung kini beralih pada LOUD, dengan sedikit "dagelan" sebagai pembuka, seperti biasa LOUD tampil dengan lagu-lagu yang ceria.
Dengan melewatkan Komkustik angkatan 2006, tahun ini merupakan ketiga kalinya saya menghadiri acara komkustik, setelah tahun lalu angkatan 2008 sukses menyelenggarakan komkustik dengan tema Soundtrackustik. Pukul 18.44 sampailah saya di kampus fisipol, dari tempat parkir terlihat tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Sempat terpikir apakah acara bukan diselenggarakan di fisipol, dengan sedikit ragu-ragu saya masuk ke dalam dan disambut beberapa anak-anak 2009. Sebagai angkatan 2008 saya datang paling pertama, yang kemudian disusul Matahari beberapa saat kemudian. Tak lama kemudian acara dimulai meski belum terlalu ramai.
Satu persatu band tampil dipanggung Komkustik yang berada di kantin Fisipol. Sebuah panggung yang sederhana namun meriah telah dipersiapkan anak-anak 2009 siap dimeriahkan band-band dari tiap angkatan, dimulai dari angkatan 2011 dan terus naik ke angkatan yang lebih tua. Hingga akhirnya tibalah kesempatan angkatan 2008 untuk tampil. Seperti biasa 2008 membuat acara yang cukup meriah semakin semarak dan heboh ketika seluruh masa 2008 maju ke depan panggung. penampilan pertama adalah Gunung Salak sebuah band yang terdiri dari Ciprut, Ijat, Ari Burjo, dan Yesa. Pada kesempatan kali ini bisa juga disebut sebagai debut pertama Ciprut yang membawakan sebuah lagu berjudul Hotel California. Selesai Gunung Salak memeriahkan Komkustik, panggung kini beralih pada LOUD, dengan sedikit "dagelan" sebagai pembuka, seperti biasa LOUD tampil dengan lagu-lagu yang ceria.
Kamis, 24 Mei 2012
Kehilangan Momentum
Pernahkah kalian merasakan bagaimana rasanya kehilangan momentum? Menurut definisi pribadi, kehilangan momentum adalah saat dimana kita terlambat, melewatkan moment atau timing yang tepat untuk melakukan sesuatu dengan atau tanpa perencanaan. Momentum menjadi sangat penting karena disaat itulah semua faktor pendukung keberhasilan suatu tindakan ada di saat itu. Ketika momentum telah terlewatkan tingkat keberhasilan suatu tindakan yang akan kita lakukan menjadi semakin kecil, atau setidaknya meleset dari objektif yang diharapkan sebelumnya jika dipaksakan untuk dilakukan.
Begitulah kira-kira gambaran hari ini, sebuah hari yang diawali dengan ekspektasi lumayan besar tetapi menjadi "rusak" setelah kejadian "kehilangan momentum". Mungkin tidak ada penyesalan akibat kejadian tersebut karena memang benar-benar di luar kendali saya. Tapi akibat kejadian tersebut cukup membuat mood seharian terjun bebas. Mungkin tidur lebih awal bisa banyak membantu.
Begitulah kira-kira gambaran hari ini, sebuah hari yang diawali dengan ekspektasi lumayan besar tetapi menjadi "rusak" setelah kejadian "kehilangan momentum". Mungkin tidak ada penyesalan akibat kejadian tersebut karena memang benar-benar di luar kendali saya. Tapi akibat kejadian tersebut cukup membuat mood seharian terjun bebas. Mungkin tidur lebih awal bisa banyak membantu.
Rabu, 23 Mei 2012
BCA Tweet Saving
Beberapa waktu yang lalu saya iseng-iseng mengadu peruntungan di ajang kompetisi periklanan internasional, Future Lions. Future Lions adalah sebuah kompetisi yang diselenggarakan sebuah agensi periklanan bernama AQKA. Peserta yang mengikuti kompetisi ini adalah mahasiswa dari berbagai negara, karena memang kompetisi ini di khususkan untuk para pelajar/mahasiswa.
Iseng-iseng saya mengeksekusi ide yang dulu tidak jadi dipakai saat akan mengikuti D&AD. Sayangnya entri saya tidak berhasil masuk seleksi, mungkin karena ide nya yang terlalu biasa dan agak aneh atau karena brand yang saya pakai kurang mengglobal. Hal itu baru saya sadari ketika membaca kembali brief, padahal project sudah saya submit. Ya..mungkin belum rejekinya saja, di kesempatan lain semoga lebih beruntung.
Iseng-iseng saya mengeksekusi ide yang dulu tidak jadi dipakai saat akan mengikuti D&AD. Sayangnya entri saya tidak berhasil masuk seleksi, mungkin karena ide nya yang terlalu biasa dan agak aneh atau karena brand yang saya pakai kurang mengglobal. Hal itu baru saya sadari ketika membaca kembali brief, padahal project sudah saya submit. Ya..mungkin belum rejekinya saja, di kesempatan lain semoga lebih beruntung.
Selasa, 22 Mei 2012
Fenomena Nice Peace dan Duo Ular
Beberapa hari belakangan ini saya sering bergaul dengan anak-anak 2009 untuk sebuah project iklan. Seperti biasa, ketika kita masuk dalam sebuah kelompok yang berbeda kita pasti akan mendapatkan atau memberikan sebuah pengaruh baru dari interaksi kita. Kasus dari pergaulan dengan anak-anak 2009 ini adalah menyebarnya fenomena Nice Peace dan Duo Ular. Lalu apakah Nice Peace dan Duo Ular tersebut? mungkin harus kita simak terlebih dahulu...
Bagaimana? cukup mengganggu bukan dipikiran kalian? Mungkin kedua video tersebut sama halnya dengan jebakan betmen dan disturbing video/foto yang selalu di share Matahari, hanya saja kedua video tersebut hanya menyerang short term memory sementara punya matahari menyerang sampai inti pikiran kita., meski begitu tetap saja mengganggu pikiran -______-
Bagaimana? cukup mengganggu bukan dipikiran kalian? Mungkin kedua video tersebut sama halnya dengan jebakan betmen dan disturbing video/foto yang selalu di share Matahari, hanya saja kedua video tersebut hanya menyerang short term memory sementara punya matahari menyerang sampai inti pikiran kita., meski begitu tetap saja mengganggu pikiran -______-
Senin, 21 Mei 2012
Campaign of the Day, Afternoon Delight
Sore ini saya habiskan bersama teman-teman untuk mengerjakan sebuah project iklan. Disela-sela kebuntuan menggali ide, matahari iseng membuka sebuah situs iklan. Di situs tersebut matahari menemukan campaign interaktif sebuah brand pakaian dalam, untuk lebih dahsyat efeknya ada baiknya kita simak langsung dari situsnya di http://afternoondelight.stonemen.com/ . Tapi pastikan anda cukup umur untuk mengikuti campaign ini :)
Minggu, 20 Mei 2012
Fisipol Waktu Itu...
Malam ini saya iseng membuka-buka foto lama yang di-upload teman-teman di Facebook. Perhatian saya tersita pada foto-foto yang mengambil kampus sebagai setting tempatnya, waktu itu kampus fisipol belumlah semegah sekarang. Entah definisi megah mana yang harus dipakai, yang jelas terasa sekali perbedaannya dengan fisipol sekarang.
Jika definisi megah yang dipakai adalah sesuatu yang besar, modern, dan mewah, mungkin benar gedung baru fisipol adalah gedung yang megah. Saya juga setuju gedung baru fisipol membuat kuliah lebih nyaman, lingkungan lebih bersih, rapi, fasilitas memadai. Tapi gedung baru fisipol sekarang kurang menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk bisa duduk berkumpul sekedar mengobrol, bercanda di waktu senggang atau untuk berdiskusi membuahkan ide-ide kreatif khas mahasiswa. Tak mengenal itu teman satu angkatan atau bahkan dengan angkatan yang jauh lebih senior. Sebagai seorang mahasiswa fisipol yang merasakan dua periode yang berbeda, sungguh saya merindukan masa-masa itu. hmmm..mungkin zaman sudah berubah...
![]() |
| cah 2008 berkumpul di suatu siang (foto: Brinalloy ) |
![]() |
| Taman Fisipol (foto: Dwi Kurniawan) |
![]() |
| Cah PPC berkumpul di Kepel (foto: Dwi Kurniawan) |
![]() |
| Kantor Jurusan Ilmu Komunikasi (foto: Dwi Kurniawan) |
![]() |
| Maba 2009 bekumpul di Taman Fisipol |
![]() |
| Kepel di suatu pagi |
![]() |
| Tempat parkir mobil Fisipol |
![]() |
| San Siro |
![]() |
| Tempat parkir motor |
![]() |
| Pintu masuk Fisipol |
![]() |
| Kepel |
Jika definisi megah yang dipakai adalah sesuatu yang besar, modern, dan mewah, mungkin benar gedung baru fisipol adalah gedung yang megah. Saya juga setuju gedung baru fisipol membuat kuliah lebih nyaman, lingkungan lebih bersih, rapi, fasilitas memadai. Tapi gedung baru fisipol sekarang kurang menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk bisa duduk berkumpul sekedar mengobrol, bercanda di waktu senggang atau untuk berdiskusi membuahkan ide-ide kreatif khas mahasiswa. Tak mengenal itu teman satu angkatan atau bahkan dengan angkatan yang jauh lebih senior. Sebagai seorang mahasiswa fisipol yang merasakan dua periode yang berbeda, sungguh saya merindukan masa-masa itu. hmmm..mungkin zaman sudah berubah...
Sabtu, 19 Mei 2012
Playground vs Reality
Sore ini ketika mengendarai motor melintasi perbatasan antara Bantul dan Yogyakarta, terpikir sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan. Seperti halnya melintasi batas suatu daerah tadi, kehiduupan kita sebenarnya juga terbagi dalam dua zona. Saya menyebut zona ini zona tempat bermain dan zona realita.
Zona tempat bermain atau bahasa mainstreamnya playground, adalah zona dimana kita merasa aman dan merasa bebas melakukan apapun tanpa takut akan tuntutan-tuntutan dan kewajiban yang akan menekan kita. Ketika kita suka menggambar maka kita akan menggambar, kita suka menulis kita akan menulis, ketika kita suka menyanyi kita akan menyanyi begitu saja sesuka kita. Berbeda dengan zona realita atau reality, kita tidak sebebas di zona playground. Kita harus memikirkan mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak kita lakukan. Kita tidak bisa hidup untuk kesenangan kita sendiri. Kita melakukan sesuatu karena kita diminta melakukannya. Kita melakukan sesuatu maka kita harus mempertanggungjawabkannya.
Setiap orang pasti akan melalui dua zona ini. Dan pada saatnya nanti seseorang yang telah berada di zona playground pasti akan melangkah ke zona reality. Kita pasti akan berpindah, kepindahan tersebut terjadi ketika kita telah menyelesaikan satu level atau suatu kewajiban. dari level ke level intensitasnya semakin memudar, hingga pada saatnya sampailah pada perbattasan antara playground dan reality. Beberapa orang mungkin bisa mengubah zona reality menjadi sama menyenangkannya dengan zona playground, bahkan dia menghadirkan playground ditengah-tengah reality. Apakah semua orang bisa?
Zona tempat bermain atau bahasa mainstreamnya playground, adalah zona dimana kita merasa aman dan merasa bebas melakukan apapun tanpa takut akan tuntutan-tuntutan dan kewajiban yang akan menekan kita. Ketika kita suka menggambar maka kita akan menggambar, kita suka menulis kita akan menulis, ketika kita suka menyanyi kita akan menyanyi begitu saja sesuka kita. Berbeda dengan zona realita atau reality, kita tidak sebebas di zona playground. Kita harus memikirkan mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak kita lakukan. Kita tidak bisa hidup untuk kesenangan kita sendiri. Kita melakukan sesuatu karena kita diminta melakukannya. Kita melakukan sesuatu maka kita harus mempertanggungjawabkannya.
Setiap orang pasti akan melalui dua zona ini. Dan pada saatnya nanti seseorang yang telah berada di zona playground pasti akan melangkah ke zona reality. Kita pasti akan berpindah, kepindahan tersebut terjadi ketika kita telah menyelesaikan satu level atau suatu kewajiban. dari level ke level intensitasnya semakin memudar, hingga pada saatnya sampailah pada perbattasan antara playground dan reality. Beberapa orang mungkin bisa mengubah zona reality menjadi sama menyenangkannya dengan zona playground, bahkan dia menghadirkan playground ditengah-tengah reality. Apakah semua orang bisa?
Jumat, 18 Mei 2012
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berbohong
Tulisan ini terinspirasi kejadian tadi sore ketika seorang teman (tidak perlu disebutkan identitasnya) mencoba mencari alasan untuk tidak ikut kami kembali ke kampus. Karena mungkin persiapan yang kurang matang alasan yang dia sampaikan menjadi sangat jelas kalau dia sedang berbohong. Dan tentu saja teman-teman yang lain menyadarinya tanpa perlu bersusah payah.
Berbohong mungkin merupakan salah satu mekanisme bertahan manusia ketika menjadi makhluk sosial. Secara alamiah berbohong mungkin bertujuan agar seseorang merasa aman karena tidak ingin sesuatu yang tidak dia inginkan diketahui orang lain. Akan tetapi karena semakin kompleksnya hubungan antara manusia di masa kini, berbohong tidak hanya sekedar menjadi mekanisme bertahan. Bahkan seseorang berbohong untuk melindungi orang lain atau bahkan berbohong untuk menjatuhkan orang lain. Dalam konteks yang lebih tinggi ada sebuah konsep komunikasi dimana kita tidak memberitahukan semua fakta yang ada kepada seseorang. Secara teori mungkin itu bukan berbohong tapi sebenarnya esensinya sama dengan berbohong itu sendiri, sama-sama tidak memberitahukan fakta yang sebenarnya.
Disini saya sedikit berbagi hal-hal yang harus dilakukan saat berbohong. Saya mencoba berbagi tips ini bukan berarti saya ahli dalam berbohong. Tapi setidaknya hal-hal ini pernah coba saya terapkan ketika terpaksa saya harus menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
Berbohong mungkin merupakan salah satu mekanisme bertahan manusia ketika menjadi makhluk sosial. Secara alamiah berbohong mungkin bertujuan agar seseorang merasa aman karena tidak ingin sesuatu yang tidak dia inginkan diketahui orang lain. Akan tetapi karena semakin kompleksnya hubungan antara manusia di masa kini, berbohong tidak hanya sekedar menjadi mekanisme bertahan. Bahkan seseorang berbohong untuk melindungi orang lain atau bahkan berbohong untuk menjatuhkan orang lain. Dalam konteks yang lebih tinggi ada sebuah konsep komunikasi dimana kita tidak memberitahukan semua fakta yang ada kepada seseorang. Secara teori mungkin itu bukan berbohong tapi sebenarnya esensinya sama dengan berbohong itu sendiri, sama-sama tidak memberitahukan fakta yang sebenarnya.
Disini saya sedikit berbagi hal-hal yang harus dilakukan saat berbohong. Saya mencoba berbagi tips ini bukan berarti saya ahli dalam berbohong. Tapi setidaknya hal-hal ini pernah coba saya terapkan ketika terpaksa saya harus menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
- Berpikir masuk akal 2-3 langkah ke depan. Yang dimaksud disini bukanlah beragamnya alasan atau kebohongan, tapi banyaknya "lapisan" alasan/kebohongan yang mendukung alasan/kebohongan pertama. Sehingga ketika kebohongan pertama berhasil dikritisi masih ada backup. Disinilah modal utama para penutup fakta dipercaya, semakin masuk akal dan berlapis-lapis, semakin berhasil pula strategi komunikasi menutupi fakta yang sesungguhnya.
- Perhatikan bahasa tubuh kita. Bahasa tubuh adalah reaksi yang tidak bisa kita hindari ketika berinteraksi dengan orang lain. Sehingga disinilah kadang menjadi awal kebohongan terungkap, namun ketika kita bisa mengendalikannya akan menjadi sebuah senjata ampuh. Ketika berbohong secara alamiah tubuh kita menjadi gelisah, gugup dan tidak tenang. Seseorang yang berbohong biasanya cara bicaranya menjadi terbata-bata dan tidak lancar. Kemudian lirikan matanya mengarah ke kanan atas dan tangan menjadi terlalu banyak bergerak. Untuk mengatasinya cobalah berbicara dengan tenang tidak usah terburu-buru dan usahakan padangan mata tetap pada lawan bicara, cobalah pandang daerah lekukan hidung antara kedua mata.
- Konsisten. Konsisten disini adalah sikap untuk tetap pada "alur" yang telah dibuat. Jadi ketika sudah bilang A, maka kita harus selalu bilang A kepada siapapun yang berhubungan dengan target kalau perlu selamanya sampai upaya menutupi fakta yang sebenarnya terbongkar. Kalau kita bilang sakit flu ya kita harus konsisten bilang sakit flu. Sikap konsisten ini adalah pendukung keberlangsungan hidup sebuah kebohongan. Kunci utamanya ada pada kesadaran dan selalu ingat apa yang telah kita katakan. Serta jangan lupa memperhatikan detail-detail kecil pendukung sikap konsisten, misal seperti status twitter atau facebook. Bukankah lucu ketika tweet kita "jalanan macet" tapi kita tweet dari web
Hahaha..tulisan kali ini mungkin bisa disebut mengajarkan keburukan, tapi jujur niatan dari penulis sendiri bukan untuk itu. Sebuah kebohongan pada dasarnya hanya akan memicu kebohongan lain dan jika kalian percaya dosa, setiap kebohongan pasti memiliki nilai dosa sendiri. Jadi sebaiknya jangan berbohong! lho???
Kamis, 17 Mei 2012
Sebuah Matakuliah Bernama Penulisan Naskah Iklan (2)
Sebelum menulis postingan ini sejujurnya saya dilanda kebingungan mau menulis apa. Berjam-jam mengutak-atik google chrome yang bermasalah dengan font nya yang tiba-tiba berubah jadi Helvetica Black tak kunjung membuahkan solusi, hampir saja membuat saya lupa harus posting 31 Hari Menulis. Ketika melihat tweet dari Sinsko berisi link setoran ke @31harimenulis, iseng saya buka isinya tentang PNI. Barulah saya ingat minggu lalu saya sempat posting sebuah tulisan berjudul "Sebuah Matakuliah Bernama Penulisan Naskah Iklan" yang masih bersambung.
Mungkin seharusnya tulisan ini saya posting beberapa saat setelah selesai semester 4 dua tahun lalu. Tapi toh yang namanya bercerita tidak harus sesuatu yang baru saja terjadi. Pada posting kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang kelompok PNI saya waktu itu, kelompok/agensi ini bernama Kendil. Sebuah nama yang tercetus begitu saja dari lanturan Dian Ep ketika sedang bersama-sama menikmati Whooper di Taman Fisipol. Kendil sendiri terinspirasi dari Gudeg Kendil yang muncul secara asal waktu itu saat kami berimajinasi bagaimana seandainya Burger King yang disajikan dengan Kendil.
Bersambung...
Mungkin seharusnya tulisan ini saya posting beberapa saat setelah selesai semester 4 dua tahun lalu. Tapi toh yang namanya bercerita tidak harus sesuatu yang baru saja terjadi. Pada posting kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang kelompok PNI saya waktu itu, kelompok/agensi ini bernama Kendil. Sebuah nama yang tercetus begitu saja dari lanturan Dian Ep ketika sedang bersama-sama menikmati Whooper di Taman Fisipol. Kendil sendiri terinspirasi dari Gudeg Kendil yang muncul secara asal waktu itu saat kami berimajinasi bagaimana seandainya Burger King yang disajikan dengan Kendil.
Kelompok ini terdiri dari 8 orang yaitu Dian Ep, Nesha, Ijem, Tika, Bj, Agung, Aldi, dan saya sendiri. Bisa dibilang saya adalah anggota terakhir yang bergabung di kelompok ini, jika saja Aldi tidak bergabung di kelompok kami setelah kelompok lamanya dibubarkan. Kelompok kami selalu membawa semangat untuk menjadi kelompok yang berbeda dengan yang lain. Karena harus diakui waktu itu diantara kami hanya memiliki kemampuan pendukung yang biasa-biasa saja, ide biasa-biasa saja, kemampuan editing biasa-biasa saja. Tapi sesuatu yang biasa-biasa saja akan terlihat luar biasa ketika dikemas dengan cara yang berbeda. Alhamdulillah dengan semangat tersebut berhasil membawa kami pada 4 besar kelompok terbaik kelas PNI waktu pitching final brief. Berikut salah satu aksi kelompok kami saat presentasi pitching final brief, meski dengan berat hati saya ucapkan selamat menikmati... :|
Bersambung...
Rabu, 16 Mei 2012
Salah Satu Jalan Cepat Menjadi Kaya
Pada postingan kali ini saya ingin berbagi tentang sebuah blog yang sangat berguna. Blog ini saya temukan kira-kira setahun yang lalu ketika sedang iseng-iseng searching di google tentang info lomba. Waktu itu hasrat untuk mengikuti kompetisi sedang tinggi-tingginya. Blog tersebut bernama Dunia Lombaku. Ya, blog ini berisi tentang update terbaru info berbagai macam lomba dengan berbagai macam kategori.
Melalui blog ini dulu saya mendapatkan info lomba Goodyear Creativideo dan lomba video gokil mintz. Dan alhamdulillah berhasil medapatkan hadiah yang lumayan buat tambah-tambah uang saku. Peluang untuk menang jika mengikuti lomba-lomba yg ada dalam blog ini cukup tinggi. Selain karena pilihannya banyak, peserta yang ikut belum tentu banyak karena sosialisasinya kadang sangat terbatas. Dan yang pasti hadiahnya cukup untuk menjadikan mahasiswa kere menjadi lebih kaya.
Semoga blog tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengasah kreatifitas dan sebagai salah satu jalan menjadi kaya hehehe. Selamat mengasah kreativitas, dan selamat berkompetisi :)
Melalui blog ini dulu saya mendapatkan info lomba Goodyear Creativideo dan lomba video gokil mintz. Dan alhamdulillah berhasil medapatkan hadiah yang lumayan buat tambah-tambah uang saku. Peluang untuk menang jika mengikuti lomba-lomba yg ada dalam blog ini cukup tinggi. Selain karena pilihannya banyak, peserta yang ikut belum tentu banyak karena sosialisasinya kadang sangat terbatas. Dan yang pasti hadiahnya cukup untuk menjadikan mahasiswa kere menjadi lebih kaya.
![]() |
| dunialombaku.blogspot.com |
![]() |
| Beragam kategori |
Selasa, 15 Mei 2012
Anti Rokok VS Anti Anti Rokok
Sore tadi sebelum menunaikan shalat Maghrib tanpa sengaja melihat tweet dari senior saya @doppyprasetya. Tweet tersebut berisi link sebuah video Youtube tentang gerakan yang mencoba melawan gerakan Anti Rokok. Ada empat isu yang diangkat mereka untuk melawan gerakan anti merokok. Keempat isu tersebut mereka tuangkan dalam empat buah video yang berisi tentang argumen mereka dan diberi sedikit data dan analogi, mungkin terlebih dahulu ada baiknya kita tonton dulu videonya...
Melihat video-video tersebut, saya jadi teringat sebuah video dokumenter yang sempat hangat diperbincangkan di social media beberapa waktu yang lalu. Video tersebut menceritakan tentang fakta mengenai industri rokok di Indonesia dan tentu saja bahaya yang mengancam masyarakat Indonesia. Video ini memang sangat bertentangan dengan video yang telah ditampilkan di atas.
Setelah melihat video yang diupload oleh KomunitasKretek, tentang fakta yang melawan gerakan anti rokok mungkin sebagian dari kita pasti terpikir "oh, iya benar juga...". Sebagai seorang yang tidak suka rokok, saya juga berpikiran begitu, tapi menurut saya argumen yang mereka bawa masih belum kuat dan terkesan mencari pembenaran dari "kesalahan" yang mereka lakukan. Entahlah tapi kedua belah pihak pastinya mempunyai kepentingannya sendiri-sendiri, dan di dunia yang semakin rumit ini sepertinya sudah tidak ada yang benar-benar menjadi "malaikat". Bagaimana menurut kalian?
Melihat video-video tersebut, saya jadi teringat sebuah video dokumenter yang sempat hangat diperbincangkan di social media beberapa waktu yang lalu. Video tersebut menceritakan tentang fakta mengenai industri rokok di Indonesia dan tentu saja bahaya yang mengancam masyarakat Indonesia. Video ini memang sangat bertentangan dengan video yang telah ditampilkan di atas.
Setelah melihat video yang diupload oleh KomunitasKretek, tentang fakta yang melawan gerakan anti rokok mungkin sebagian dari kita pasti terpikir "oh, iya benar juga...". Sebagai seorang yang tidak suka rokok, saya juga berpikiran begitu, tapi menurut saya argumen yang mereka bawa masih belum kuat dan terkesan mencari pembenaran dari "kesalahan" yang mereka lakukan. Entahlah tapi kedua belah pihak pastinya mempunyai kepentingannya sendiri-sendiri, dan di dunia yang semakin rumit ini sepertinya sudah tidak ada yang benar-benar menjadi "malaikat". Bagaimana menurut kalian?
Senin, 14 Mei 2012
Sedikit Harapan Untuk Indonesia
Sebagian besar diantara kita mungkin akan tutup mata dan diam ketika ditanya tentang bagaimana persoalan masyarakat Indonesia saat ini. Tutup mata dan diam bukan karena tidak ada masalah sama sekali yang harus dibicarakan, akan tetapi karena ada apa-apa di masyarakat Indonesia. Seperti sebuah benang kusut yang entah dimana semua bermula dan dimana semua berakhir, begitulah gambaran singkatnya.
Dari sekian banyak permasalahan yang melanda masyarakat Indonesia, kita ambil satu saja masalah praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Mungkin selama ini ketika kita membicarakan praktik KKN yang terbayang dipikiran kita adalah para pejabat-pejabat di atas sana yang mencuri uang rakyat. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa praktik KKN sebenarnya ada dimana-mana, bahkan mulai dari rakyat biasa. Berbagai orang pintar juga pernah berkata bahwa korupsi di Indonesia sudah membudaya dan mendarah daging di setiap individu.
Ada sebuah cerita yang berkaitan dengan praktik KKN ketika saya mengantri di Kantor Imigrasi. Ketika sedang duduk manis menunggu antrian, datanglah dua orang pegawai kantor (entah lupa itu seragam kantor mana) yang satu ibu-ibu cukup muda, sekitar 28-30 tahun dan (mungkin) temannya seorang pria yang sepertinya seumuran dengan ibu tersebut. Begitu datang mereka langsung duduk di depan saya, tidak lama kemudian ibu tersebut menelepon seseorang, sekilas saya mendengar ibu itu berkata "aku lagi di ruang tunggu nih... bla...bla..bla..." selesai dengan obrolan singkat tersebut tak sampai lima menit seorang pegawai Kantor Imigrasi datang, dan mereka saling menyapa. Tidak perlu bertanya pun semua orang yang memperhatikan pasti tahu kalau mereka saling berteman atau setidaknya saling kenal. Karena tidak ada kerjaan lain selain menunggu, iseng saya memperhatikan apa yang mereka perbincangkan. Perbincangan mereka kemudian semakin menarik perhatian saya ketika si Ibu berkata "iya antrinya lama nih...mbok aku dibantu...".
Mendengar kalimat tersebut saya hanya tersenyum sambil menghela nafas dan geleng-geleng. Sambil memperhatikan sekeliling saya melihat sepasang kakek-nenek yang baru saja menyerahkan berkas ke loket kemudian duduk dengan sabar mengantri lagi. Dalam pikiran saya, bagaimana bisa ibu tadi bilang antriannya lama ketika belum ada lima menit duduk, kemudian berniat memotong prosedur yang ada dengan "minta tolong" temannya tadi. Pengalaman tersebut mungkin bukan yang pertamakalinya. Saat KKN (Kuliah Kerja Nyata) saya sempat menemani teman saya yang berniat membuat program SIM Keliling ke Polres. Kami ke Polres untuk menanyakan bagaimana prosedur mengadakan program tersebut kepada pejabat terkait yang berwenang mengurusi SIM. Ditengah pembicaraan kami, tiba-tiba ada seorang bapak dan anak perempuannya masuk ke kantor dan duduk di ruang tunggu, karena kami sudah selesai bertanya-tanya, kami segera bergegas pulang. Karena saya penasaran dengan apa keperluan bapak dan anak perempuannya tersebut, sengaja saya berjalan pelan-pelan agar bisa sedinkit mendengar apa yang mereka bicarakan. Agak lupa bagaimana pembicaraan mereka, tapi yang jelas maksud dari bapak tadi ternyata ingin minta tolong agar proses pembuatan SIM anaknya tadi "dipermudah".
Mungkin masih banyak contoh praktik KKN di masyarakat kita yang tidak akan cukup dibahas ditulisan ini. Tapi selain cerita negatif tentang praktik KKN tersebut, saya juga pernah membaca beberapa artikel yang menceritakan bahwa orang Indonesia yang bekerja di luar negeri terkenal dengan produktifitas kerjanya yang tinggi. Mereka dikenal sebagai pekerja yang rajin, disiplin, cekatan, jujur, dan rapi hasil kerjanya. Cerita dari artikel tersebut juga semakin dikuatkan dengan cerita dari saudara dan teman saya yang pernah tinggal sementara di luar negeri. Dari cerita mereka orang Indonesia di luar negeri juga bisa disiplin dan "beradab". Tidak kelihatan kalau mereka orang Indonesia yang dalam bayangan kita orang Indonesia itu tidak disiplin, buang sampah sembarangan, tidak sabar mengantri, dan tidak tahu aturan. Lalu kenapa orang Indonesia yang bisa "beradab" negeri orang tidak bisa di negerinya sendiri?
Dari dua cerita berbeda di atas mungkin secara bodoh dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya yang patut dipersalahkan atas segala permasalahan masyarakat di Indonesia saat ini bukanlah orangnya tapi sistem yang berjalan. Karena sistem kita yang memungkinkan terjadinya praktik KKN, maka orang-orang yang ada dalam sistem menjadi terbiasa melakukan praktik KKN. Lalu ketika dibawa ke sistem yang jauh lebih bersih, maka orang-orang tersebut juga berlaku bersih juga.
Melihat ada cerita-cerita positif diantara cerita-cerita kebobrokan bangsa ini, seolah memberi kita harapan bahwa masa depan bangsa ini masih bisa cerah. Untung saja pegawai Kantor Imigrasi yang dimintai "tolong" ibu-ibu itu dengan sopan menolak permintaan "tolong" tersebut. Untung saja ketika saya mengantri, masih banyak anak-anak kecil yang dengan sabar juga ikut mengantri. Untung saja ketika membuat SIM saya tidak sendirian mengikuti Diklat Berlalu-lintas, ujian tulis, dan ujian praktik. Semoga saja masih diberi kesempatan untuk bisa melihat bangsa ini menjadi bangsa yang jauh lebih baik di masa depan :)
Dari sekian banyak permasalahan yang melanda masyarakat Indonesia, kita ambil satu saja masalah praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Mungkin selama ini ketika kita membicarakan praktik KKN yang terbayang dipikiran kita adalah para pejabat-pejabat di atas sana yang mencuri uang rakyat. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa praktik KKN sebenarnya ada dimana-mana, bahkan mulai dari rakyat biasa. Berbagai orang pintar juga pernah berkata bahwa korupsi di Indonesia sudah membudaya dan mendarah daging di setiap individu.
Ada sebuah cerita yang berkaitan dengan praktik KKN ketika saya mengantri di Kantor Imigrasi. Ketika sedang duduk manis menunggu antrian, datanglah dua orang pegawai kantor (entah lupa itu seragam kantor mana) yang satu ibu-ibu cukup muda, sekitar 28-30 tahun dan (mungkin) temannya seorang pria yang sepertinya seumuran dengan ibu tersebut. Begitu datang mereka langsung duduk di depan saya, tidak lama kemudian ibu tersebut menelepon seseorang, sekilas saya mendengar ibu itu berkata "aku lagi di ruang tunggu nih... bla...bla..bla..." selesai dengan obrolan singkat tersebut tak sampai lima menit seorang pegawai Kantor Imigrasi datang, dan mereka saling menyapa. Tidak perlu bertanya pun semua orang yang memperhatikan pasti tahu kalau mereka saling berteman atau setidaknya saling kenal. Karena tidak ada kerjaan lain selain menunggu, iseng saya memperhatikan apa yang mereka perbincangkan. Perbincangan mereka kemudian semakin menarik perhatian saya ketika si Ibu berkata "iya antrinya lama nih...mbok aku dibantu...".
Mendengar kalimat tersebut saya hanya tersenyum sambil menghela nafas dan geleng-geleng. Sambil memperhatikan sekeliling saya melihat sepasang kakek-nenek yang baru saja menyerahkan berkas ke loket kemudian duduk dengan sabar mengantri lagi. Dalam pikiran saya, bagaimana bisa ibu tadi bilang antriannya lama ketika belum ada lima menit duduk, kemudian berniat memotong prosedur yang ada dengan "minta tolong" temannya tadi. Pengalaman tersebut mungkin bukan yang pertamakalinya. Saat KKN (Kuliah Kerja Nyata) saya sempat menemani teman saya yang berniat membuat program SIM Keliling ke Polres. Kami ke Polres untuk menanyakan bagaimana prosedur mengadakan program tersebut kepada pejabat terkait yang berwenang mengurusi SIM. Ditengah pembicaraan kami, tiba-tiba ada seorang bapak dan anak perempuannya masuk ke kantor dan duduk di ruang tunggu, karena kami sudah selesai bertanya-tanya, kami segera bergegas pulang. Karena saya penasaran dengan apa keperluan bapak dan anak perempuannya tersebut, sengaja saya berjalan pelan-pelan agar bisa sedinkit mendengar apa yang mereka bicarakan. Agak lupa bagaimana pembicaraan mereka, tapi yang jelas maksud dari bapak tadi ternyata ingin minta tolong agar proses pembuatan SIM anaknya tadi "dipermudah".
Mungkin masih banyak contoh praktik KKN di masyarakat kita yang tidak akan cukup dibahas ditulisan ini. Tapi selain cerita negatif tentang praktik KKN tersebut, saya juga pernah membaca beberapa artikel yang menceritakan bahwa orang Indonesia yang bekerja di luar negeri terkenal dengan produktifitas kerjanya yang tinggi. Mereka dikenal sebagai pekerja yang rajin, disiplin, cekatan, jujur, dan rapi hasil kerjanya. Cerita dari artikel tersebut juga semakin dikuatkan dengan cerita dari saudara dan teman saya yang pernah tinggal sementara di luar negeri. Dari cerita mereka orang Indonesia di luar negeri juga bisa disiplin dan "beradab". Tidak kelihatan kalau mereka orang Indonesia yang dalam bayangan kita orang Indonesia itu tidak disiplin, buang sampah sembarangan, tidak sabar mengantri, dan tidak tahu aturan. Lalu kenapa orang Indonesia yang bisa "beradab" negeri orang tidak bisa di negerinya sendiri?
Dari dua cerita berbeda di atas mungkin secara bodoh dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya yang patut dipersalahkan atas segala permasalahan masyarakat di Indonesia saat ini bukanlah orangnya tapi sistem yang berjalan. Karena sistem kita yang memungkinkan terjadinya praktik KKN, maka orang-orang yang ada dalam sistem menjadi terbiasa melakukan praktik KKN. Lalu ketika dibawa ke sistem yang jauh lebih bersih, maka orang-orang tersebut juga berlaku bersih juga.
Melihat ada cerita-cerita positif diantara cerita-cerita kebobrokan bangsa ini, seolah memberi kita harapan bahwa masa depan bangsa ini masih bisa cerah. Untung saja pegawai Kantor Imigrasi yang dimintai "tolong" ibu-ibu itu dengan sopan menolak permintaan "tolong" tersebut. Untung saja ketika saya mengantri, masih banyak anak-anak kecil yang dengan sabar juga ikut mengantri. Untung saja ketika membuat SIM saya tidak sendirian mengikuti Diklat Berlalu-lintas, ujian tulis, dan ujian praktik. Semoga saja masih diberi kesempatan untuk bisa melihat bangsa ini menjadi bangsa yang jauh lebih baik di masa depan :)
Langganan:
Entri (Atom)

















