Rabu, 05 Juni 2013

Ukuran Kebahagiaan

Sebenarnya apa tujuan manusia hidup di dunia ini? Jika mendapat pertanyaan seperti itu jawabannya pasti beragam. Ada yang menjawab karena sudah takdir, ada juga yang bilang mencari bekal di akhirat, ada juga mungkin yang tidak tahu. Sebenarnya jika di telusuri lebih dalam hampir semua orang tujuan hidupnya atau setidaknya capaian terakhirnya adalah mencari kebahagiaan.

Bahagia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Setelah membaca definisi tersebut tentu kita setuju kalau kebahagiaan adalah sesuatu yang kita semua cari, rasanya tidak ada orang yang tidak ingin merasa senang dan bebas dari segala yang menyusahkan. Hanya saja ukuran bahagia masing-masing seseorang tentu berbeda-beda. Ada yang bahagia ketika bergelimangan harta yang tidak akan habis hingga keturunan ke 21, ada yang bahagia ketika semua cita-citanya tercapai, ada yang bahagia karena dipertemukan dengan belahan jiwanya, ada yang bahagia ketika melihat orang lain bahagia, ada juga yang bahagia ketika melihat orang lain sengsara, ada.

Beberapa waktu yang lalu ketika liburan long weekend. Saya diminta sepupu saya dari Jakarta menemaninya berwisata kuliner di Bantul. Hari pertama sepupu saya minta diantar ke sebuah warung bakmi jawa di dekat rumah saya. Karena menurutnya belum ke Bantul rasanya kalau belum mampir makan bakmi jawa. Warung bakmi jawa Pak Tris ini letaknya cukup jauh dari jalan utama, dan berada ditengah-tengah desa. Tidak ada papan petunjuk apapun kecuali yang ada di halaman warung. Tapi anehnya halaman parkirnya selalu dipenuhi mobil dengan berbagai macam plat nomor. Ketika kita melihat dengan kacamata bisnis, pasti akan timbul pertanyaan, kenapa Pak Tris ini tidak menyewa tempat dipinggir jalan raya sehingga warungnya lebih mudah diakses sehingga memungkinkan datangnya lebih banyak pengunjung.

Bapak saya yang lumayan dekat dengan Pak Tris itu pernah bercerita kalau dia jualan bakmi jawa bukan karena untuk bisnis atau mencari uang, dia berjualan bakmi jawa karena memang dia sangat suka bakmi jawa dan ingin menyalurkan hobinya lewat berjualan bakmi jawa. Menurut cerita dari bapak saya juga, sebelum berjualan bakmi jawa sendiri dia sering berburu bakmi jawa di semua tempat di DIY dan Jawa Tengah. Sampai-sampai dia hafal betul karakter dan dimana bakmi jawa yang enak diseluruh DIY dan Jawa Tengah. Saking terkenalnya warung bakmi jawanya, dia pernah ditawari memasak bakmi jawa disebuah acara yang diadakan Bupati Bantul, tapi dia tolak dengan alasan "kalau nanti saya masak disana, trus yang masak di rumah siapa?"

Hari kedua saya diajak lagi berwisata kuliner. Kali ini kita mengunjungi sebuah warung mangut lele di daerah Sewon, yang letaknya didaerah belakang kampus ISI Yogyakarta. Mangut Lele disini sangat terkenal di masyarakat Jogja dan sekitarnya, dan semakin terkenal di Indonesia (mungkin) setelah Pak Bondan datang kesini. Lagi-lagi bagi yang awam pasti akan bingung mencari tempatnya karena sama sekali tidak ada papan petunjuk apapun, dan letaknya ada ditengah-tengah perkampungan, dan karena jalannya terlalu sempit, kita harus berjalan kaki sejauh 10 meter untuk menjangkau warungnya. Itupun juga tidak akan kelihatan kalau rumah itu menjual mangut lele kalau kita tidak masuk ke dalam rumahnya. Dan lagi-lagi anehnya di gang dekat warung mangut lele tersebut berjajar mobil-mobil mewah dengan berbagai macam plat nomor.




Mangut lele tersebut dijual langsung dari dapurnya. Jika ingin dimakan disitu, tinggal ambil piring dan nasi lalu makan di ruang tamu layaknya sedang bertamu dirumah orang, jauh dari konsep warung yang paling sederhana sekalipun. Di ruang tamu dipajang foto-foto orang terkenal yang pernah datang kesitu, seperti Indro Warkop DKI, Surya Saputra, Guruh Soekarnoputra dan lain-lain.

Dari kedua tempat yang saya kunjungi tersebut ada kesamaan yang dapat kita ambil. Keduannya adalah orang-orang yang sudah merasa bahagia karena menjalani apa yang mereka senangi dan merasa cukup dengan apa yang telah mereka peroleh. Keduanya bisa saja memilih menerapkan ilmu bisnis yang lebih baik, sehingga warung kecilnya menjadi restoran yang besar dengan omzet ratusan juta tiap minggunya. Tapi mereka lebih memilih merasa cukup dan bahagia dengan apa yang telah mereka peroleh.

Jadi tidak semua orang memiliki ukuran kebahagiaan yang sama. Ada orang yang seperti Pak Tris yang bahagia karena bekerja dengan hal yang dia sukai, sesederhana itu. Kata nenek saya dulu, orang Jawa itu nrimo ing pandum atau artinya menerima dengan penuh rasa syukur atas apa yang telah diperoleh, kita berusa sekuat tenaga yang kita punyai dan menyerahkan hasil sepenuhnya pada sang pemilik kehidupan. Sekali lagi ukuran kebahagiaan seseorang itu tidaklah sama, tidak ada yang salah atau benar. Yang ada hanya apakah kebahagiaan itu cocok dengan ukuran kebahagiaan kita.

Jika ditilik dari konsep hidup manusia modern yang saat ini dianut banyak orang, dimana capaian hidup harus semakin tinggi dan sebisa mungkin memiliki materi yang berlimpah agar kebutuhan terpenuhi, mungkin konsep nrimo ing pandum adalah konsep yang tidak masuk akal. Tapi jika dengan begitu sudah bahagia? apa lagi yang harus dicari?


1 comments:

kingkong mengatakan...

Thank's infonya gan !!!

www.kiostiket.com

Posting Komentar