Minggu, 29 Mei 2011

Swiss Legacy

Pada postingan kali ini say ingin berbagi tentang temuan saya hari ini. Karena akhir-akhir ini saya semakin mencintai Swiss Style Design, maka apa yang saya share kali ini juga tidak jauh-jauh dari swiss style design. Nah, kali ini saya sedikit berbagi tentang referensi swiss style design, yaitu Swiss Legacy.

Sebuah blog milik Xavier Encinas yang didalamnya berisi segala hal yang berbau Swiss Style Design dan Graphic Design pada umumnya. Ada sekitar 26 kategori dalam blog ini, diantaranya membahas buku, helvetica, inspiration, magazine, poster, swiss heritage, video, typography, dan masih banyak lagi. Jadi jika ingin mencari inspirasi dan materi untuk belajar tentang Swiss Style Design atau Typography, blog ini saya rasa sangat bermanfaat sekali.








The Alphabet from n9ve on Vimeo.

Sabtu, 28 Mei 2011

Simplicity, Clarity, Modern. It's Swiss Style Graphic Design

Beberapa hari yang lalu saya telah menulis sebuah postingan tentang ketertarikan saya pada suatu gaya desain typo art. Semalam ketika menjelajahi dunia maya, saya baru mengetahui kalau gaya tersebut bernama Swiss Style Graphic Design. mungkin dalam postingan kali ini sya ingin sedikit berbagi apa yang saya dapat semalam tentang Swiss Style Design.

Swiss Style juga dikenal sebagai International Style. Meski namanya Swiss style, bukan berarti gaya ini ditemukan di Swiss, hanya saja gaya ini menjadi populer di dunia seni karena seorang graphic designer asal Swiss. Gaya ini pertama kali diperkenalkan di Rusia,Jerman dan Belanda sekitar tahun 1920an. Dan kemudian menjadi semakin populer dan juga dikenal dengan International Style ketika banyak digunakan diberbagai belahan dunia pada tahun 1950an. Dalam Swiss Style keindahan adalah salah satu cara mencapai simplicity dan bukannya keindahan sebagai sebuah tujuan.

Dalam Swiss Style tipografi menjadi elemen utama dalam gaya desain ini. Kunci dari permainan tipografi disini berada pada ukuran font dan kesatuan layoutnya dengan elemen lain seperti warna dan bentuk-bentuk dasar.Font yang sering dipakai dalam swiss style biasanya adalah font keluarga sans serif (tanpa kait) seperti Helvetica yang merupakan salah satu font legendaris. Meski tidak menutup kemungkinan penggunaan font-font serif sebagai elemen dalam gaya desain ini. Dan dalam gaya ini juga sering mempermainkan white space, karena white space dapat memberikan ruang untuk "bernafas" yang juga mempengaruhi tingkat keterbacaan.

Menurut saya ini adalah gaya desain terkeren diantara gaya desain yang lain. Ya, mungkin ini sangat subjektif tapi ada juga alasan objektif yang menurut saya semua orang juga setuju. Gaya desain ini menurut saya sangat eye cathcing atau menarik perhatian. Bayangkan saja ketika sebuah poster dengan swiss style berada di papan pengumuman yang rata-rata standar menampilkan poster dengan foto-foto, banyak tulisan, oranamen sulur-sulur, pasti otomatis mata akan mengarah pada poster dengan swiss style tersebut. Selain itu, swiss style tidak menuntut teknik editing tingkat dewa karena simplicity adalah kunci dari desain ini. Tapi bukan berarti ini gaya yang mudah, tetap saja dibutuhkan sense untuk merangkai font, shape, dan warna agar menjadi satu kesatuan.




Jumat, 27 Mei 2011

Acara Jumatan itu Bernama PPC Day

Semua anak komunikasi UGM yang aktif dalam Publicia Photo Club (PPC) pasti tahu sebuah acara yang dihelat setiap jumat malam di Bunderan UGM. PPC Day, ya itulah sebutan untuk sebuah acara yang rutin dihelat oleh anak-anak PPC. Sebuah acara yang menjadi ajang berkumpulnya semua angkatan anak-anak komunikasi UGM yang tergabung dalam PPC. Tak ada agenda dalam acara tersebut, di PPC day kita membicarakan semua hal kecuali masalah kuliah (sepertinya ini diharamkan).Entah bagaimana sejarahnya dulu bisa dinamakan PPC Day, padahal acaranya malam.


Pertama kali ikut PPC Day agak canggung rasanya, karena belum terbiasa ngobrol dengan angkatan atas dan masih agak roaming dengan obrolannya, tapi lama kelamaan mulai terbiasa. Masih ingat ketika awal-awal ikut PPC Day dari angkatan 2008 ada Diani, Diaz, Pipit, Angga, mole, dan "kau tahu lah". Ramai sekali kelihatannya tapi semuanya pada diam menyimak obrolan para senior hahahaha.


Oh iya di PPC Day juga ada sebuah cerita lucu ketika Diani dan Aldi baru jadian. Semuah peserta PPC Day yang malam itu hadir wajib mengintrogasi pengantin baru di komunikasi waktu itu. Jadi geli sendiri ketika ingat bagaimana Diani dan Aldi menjawab dengan malu-malunya, ihhiiiiy.. :D


Di kepemimpinan Intan, PPC Day juga pernah menjadi ajang curhat para peserta yang hadir. Jadi semua yang hadir wajib menceritakan kisah cintanya di depan forum. Sayangnya (dan untungnya) waktu itu yang hadir tidak terlalu banyak, kalau tidak salah waktu itu yang hadir ada Aku, Intan, Cahya, Ijah, Efan, Lisa dan siapa lagi aku lupa. Hahaha..jadi ceritanya waktu itu Intan yang galau sedan mencari teman galau, maka sejak saat itu PPC juga berarti Publicia Persi (versi) Curhat.

Sebenarnya banyak hal yang didapat dan tak bisa disebutkan satu-persatu ketika berkumpul bersama dalam PPC Day. Sungguh disayangkan semakin kesini PPC Day semakin sepi dan hanya dihadiri ketua dan para pengurusnya saja. Berbagai alasan menjadi penghambat kehadiran teman-teman untuk menghadiri PPC Day. Ya memang tidak bisa disalahkan juga sebenarnya. Sepertinya angkatan 2008 menanggung beban moral yang cukup besar ketika semua tradisi di komunikasi satu persatu hilang ketika 2008 mulai memegang "tongkat estafet", tapi ya lagi-lagi kita tak bisa menyalahkan juga, karena banyak faktor yang mungkin membuat mereka tidak bisa memilih. Ketika tulisan ini dibuat pun aku sebenarnya merasa menyesal karena tidak bisa ikut hadir dalam PPC Day terakhirnya Cahya yang minggu depat lengser. Ya, aku hanya berharap pada siapapun yang nantinya meneruskan, semoga bisa meningkatkan semua kebaikan yang pernaha dicapai atau setidaknya mempertahankannya.

Kamis, 26 Mei 2011

Jatuh Cinta Pada Typo Art

Hampir satu tahun belakangan ini karya-karya saya dalam desain grafis selalu terpengaruh pada suatu aliran dalam dunia desain grafis yang bernama Typo Art atau Typographic Desain. Ya, harus diakui sepertinya saya semakin jatuh cinta dengan typo art. Typo Art adalah salah satu aliran dalam dunia desain grafis yang menjadikan huruf/font sebagai elemen utama dalam sebuah artworks. Mari kita ingat-ingat bagaimana awal mulanya sehingga saya bisa jatuh cinta dengan aliran ini, hmmmm..baiklah saya lupa, jadi mari kita sedikit bercerita bagaimana awalnya saya belajar desain grafis.

poster typographic

keren juga kalau jadi iklan


Mungkin ini adalah tahun ke-2 saya belajar sekaligus mengaplikasikan desain grafis dalam kehidupan sehari-hari, dan mungkin ini mungkin tahun ke-7 sejak pertama kali saya mulai menyentuh software-software desain grafis khususnya Adobe Photoshop. Ya, saya pertama kali mengenal photoshop waktu kelas 2 SMP dimana saat itu saya baru saja dibelikan komputer yang pada saat itu mungkin terhebat ke-2 di SMP saya. Dalam komputer itu sejak pertama kali dinyalakan dirumah saya, sudah diinstal berbagai macam software desain grafis, video editing dan beberapa game. Masih ingat ketika pertama kali dinyalakan saya langsung diajarkan bagaimana menggunakan ulead studio, autocad, dan photoshop. Untuk yang terakhir mungkin saya tidak diajari tapi mencoba sendiri (bangga). Tapi tak bertahan hingga sebulan, saya kemudian melupakan software-software tersebut karena tidak ada teman belajar dan beralih bermain game karena teman saya yang bernama Doni sering sekali meminjami saya CD Game koleksinya.

Keinginan saya untuk belajar desain grafis mulai muncul kembali ketika masuk kuliah di jurusan ilmu komunikasi. Waktu itu saya sedikit iri setelah dipameri Angga beberapa karya desain grafisnya, ketika awal perkenalan. Sejak saat itu saya mulai tergerak untuk membuka kembali photoshop saya, dan mulai belajar. Lagi-lagi karena sifat tidak telaten yang saya miliki membuat saya kembali bosan. Namun saya belum sepenuhnya meninggalkan photoshop, karena waktu itu saya cukup aktif dalam Publicia Photo Club (PPC), saya tetap menggunakan photoshop untuk mengedit foto. Baru keadaan mulai berubah ketika saya resmi menjadi anggota komako dan menginjak semster 3, ada matakuliah DKV, disinilah keadaan memaksa saya untuk menjadi bisa desain grafis atau setidaknya bisa menggunakan photoshop untuk menhasilkan sesuatu. Terlebih lagi sepertinya desain grafis bisa menjadi pendukung bahkan senjata utama ilmu yang saya pelajari di jurusan ilmu komunikasi.

Beberapa gaya desain grafis pernah saya coba, salah satunya mungkin gaya desain yang sempat menjadi ciri khas desain karya Angga sebelum teracuni mata kuliah periklanan. Tapi mungkin saya belum pernah mencoba gaya desain yang biasa digunakan Matahari, mungkin karena pemikiran saya yang tidak pernah sampai ke alam pikirannya yang sangar. Lagi-lagi karena saya orangnya tidak telaten, beberapa gaya desain kemudian menjadi tidak cocok karena membutuhkan teknik yang cukup tinggi, seperti gaya desainnya Angga. Sambil terus belajar, akhirnya saya menemukan sebuah gaya desain yang tidak selalu membutuhkan teknik tingkat tinggi, gaya itu adalah typo art. Selain karena alasan teknis, ada banyak alasan lain mengapa saya mulai dan semakin jatuh cinta dengan aliran ini.


Typo art menurut saya adalah gaya desain yang memiliki kesan simple, bersih, jelas, modern namun tetap bermakna dan bisa menyampaikan pesan. Seperti yang kita tahu, terlepas dari kemampuannya membentuk sebuah makna ketika dirangkai dalam kata dan kalimat, sebuah fot itu sendiri sudah memiliki makna dan kesan dari desain typografinya. Dan akan semakin bermakna ketika menjadi suatu elemen dalam sebuah desain. Meski cenderung lebih mudah, bukan berarti aliran ini mudah, pemilihan font dan layout yang tidak tepat, akan mengganggu makna atau pesan yang ingin disampaikan.


Kaiser Permanente Case Study (full version) from Nicole Novak on Vimeo.


WinningQuote - Typography from D-sign on Vimeo.

typographic desain dalam bentuk video

Seperti yang saya katakan di awal tadi, sepertinya saya memang mulai dan semakin jatuh cinta dengan typographic desain atau typo art. Aliran ini sudah cukup mempengaruhi cara berpikir saya dalam merancang sebuah karya desain grafis. Dari sini lah timbul keinginan untuk semakin mendalami aliran ini. Dan sejauh ini sepertinya aliran ini masih sangat jarang di populerkan di jogja khususnya.

Rabu, 25 Mei 2011

Tak Terasa Secepat Ini

"kuliah kita tinggal satu kali pertemuan lagi.."

Kata-kata itu belakangan ini menjadi sering diucapkan oleh dosen-dosen ketika kuliah hampir selesai. Yaa..ini sudah menginjak minggu terakhir bulan mei dan sebentar lagi minggu tenang akan tiba sebagai pembuka dari UAS semester genap. Dan dengan demikian semester 6 pun sebentar lagi resmi berakhir. Hmmm..sepertinya baru kemarin sore aku menulis postingan tentang semester 6 dan sepertinya juga baru kemarin 31 Hari Menulis dimulai, tapi kini sudah menginjak hari ke 25. Mungkin waktu memang terasa berjalan sangat cepat ketika kita menikmatinya, atau mungkin karena kita telah membuang-buang waktu? semoga saja tidak.

Selasa, 24 Mei 2011

5 Kemampuan Yang Sangat Dibutuhkan

Di dunia ini tidak ada manusia yang sama persis dan tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ketika seseorang kurang disuatu bidang, pasti dia mempunyai kelebihan di bidang yang lain begitu juga sebaliknya. Misalnya saja seseorang yang tidak pandai berbicara tapi ternyata dia begitu pandai menulis atau pandai dalam komunikasi visual. Seseorang yang ahli di bidang riset tapi ternyata dia sangat kurang di bidang kreatif.

Tapi kadang kita sering berpikir kalau saja memiliki kemampuan tertentu mungkin kita bisa lebih baik. Misalnya saja seorang yang ahli dalam hal copywriting mungkin akan lebih sempurna ketika dia juga ahli dalam hal art directing. Tapi seringkali hal itu hanyalah sebatas angan-angan saja, sulit sekali untuk dilakukan karena mungkin kemampuan kita memang bukan disitu. Mungkin disitulah mengapa kita sesama manusia diciptakan berbeda-beda, karena kita memang harus saling bekerjasama. Kalau disuruh berandai-andai, mungkin ada beberapa kemampuan yang ingin saya miliki dimana kemampuan yang saya sebutkan mungkin adalah hasil dari review permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sebenarnya urutan disini bukanlah menunjukkan sebuah prioritas dan sebenarnya semuanya setara.

1. Telaten
Entah pemilihan kata telaten benar atau tidak, tapi maksudku ingin menjawab permasalahanku yang cepat bosan. Cepat bosan disini lebih pada ketika mencoba mempelajari sesuatu kemudian cepat bosan padahal belum sampai pada tingkatan yang disebut AHLI tapi baru sebatas BISA. Mungkin itu masih mending daripada baru sebatas TAHU sudah berhenti. Hal ini aku alami sejak kecil, waktu itu aku ingin punya hobi berkebun, tapi beberapa bulan kemudian berhenti karena bosan. Lalu pernah juga waktu awal SMP mencoba belajar elektronika tapi lama-lama bosan juga. Selanjutnya dibidang komputer, dulu aku pernah mencoba web programing, software programing, animasi flash, photoshop, tapi semuanya berhenti ditengah jalan karena merasa sudah bosan. Mungkin beberapa berhasil cukup telaten tapi itupun karena memang diharusnkan untuk mempelajarinya dan harus bisa. Jadi ketika mempunyai kemampuan untuk telaten, mungkin aku bisa lebih fokus dalam belajar.

2. Tidak Menunda Pekerjaan
Aku tidak menemukan kata yang cukup simple untuk menyebutkan kemampuan ini. Mungkin menunda pekerjaan sebenarnya sebuah penyakit yang melanda banyak anak muda jaman sekarang. Ketika mendapat sebuah tugas atau pekerjaan, kita seringkali lebih memilih untuk santai-santai dulu baru kemudian mengerjakannya setelah dekat deadline. Dengan alasan belum dapat ide, belum mood, dan semacamnya. Meski aku sering juga beralasan demikian, tapi menurutku sebenarnya ini hanyalah masalah kebiasaan. Seperti halnya dengan penyakit, sebenarnya tak ada penyakit yang tidak bisa diobati, dan bukan tidak mungkin penyakit menunda pekerjaan bisa diobati. Bukankah ketika kita tidak menunda mengerjakan sesuatu, mungkin kita bisa lebih teliti mengerjakannya dan mungkin banyak waktu sisa yang bisa digunakan kalau harus ada perbaikan misalnya. Dan ketika kita menunda pekerjaan kadang berakibat menumpuknya pekerjaan, dan ketika menumpuknya semakin parah, akhirnya ada satu yang harus dikorbankan untuk tidak dikerjakan.

3. Menyuruh Orang
Menyuruh orang disini sebenarnya lebih pada meminta tolong pada orang lain untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan kita. Keinginanku memiliki kemampuan ini sebenarnya dari kebiasaanku yang selalu mengerjakan sendi semua tugas yang diberikan padaku, padahal sebenarnya tugas itu bisa dibagi pada partner kerja yang lain agar lebih ringan. Tapi mungkin karena kadang aku merasa kurang percaya atau kurang puas kalau tidak dikerjakan sendiri jadinya lama-kelamaan aku jadi agak tidak tega ketika harus meminta tolong orang lain untuk membantu. Lalu keinginan ini juga terinspirasi dari seorang senior saya benama Awe yang dia mempunyai semacam kemampuan utnuk menyuruh orang, yang sebenarnya nyaris memiliki arti yang sesungguhnya (bukan meminta tolong). Padahal kalu dipikir-pikir orang yang disuruh itu aku yakin sebenarnya tidak selo, tapi oran itu pasti mau dan benar-benar dikerjakan.

4. Menolak
Mungkin kemampuan ini ada hubungannya dengan kemampuan nomor 3. Kemampuan menolak disini lebih spesifiknya kemampuan menolak permintaan. Kita semua mungkin sepakat bahwa menolong orang adalah hal yang baik, tapi ketika kita tidak memperhitungkan kemampuan kita, justru kita menjadi kerepotan sendiri. Nah disinilah masalah yang sering aku alami, terkadang aku sering merasa tidak enak ketika harus menolak saat dimintai tolong. Padahal aku juga belum tentu bisa, bisa dalam artian yang sesungguhnya dan bisa dalam artian waktu. Mungkin ada sisi positifnya ketika kita dimintai tolong tapi sebenarnya kita tidak bisa, dan kita tidak enak menolaknya, kita menjadi termotivasi untuk menjadi bisa. Tapi sepertinya lebih sering merugikan sih, sifat tidak bisa menolak itu.

5. Multitasking
Multitasking atau bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang relatif bersamaan, adalah kemampuan yang benar-benar aku inginkan. Hal ini berawal dari pengalamanku yang hanya bisa fokus mengerjakan satu pekerjaan (atau dua maklsimal). Ketika aku mendapat banyak tugas yang harus dikerjakan bersamaan, sudah menjadi jaminan yang terselesaikan pasti cuma satu. Atau paling tidak yang terselesaikan dengan baik ya cuma satu, yang lain mungkin juga terselesaikan tapi menjadi kurang memuaskan. Mungkin selain multitasking juga butuh multithinking karena seringkali ketika fokus memikirkan satu hal, maka hal yang lain menjadi tidak aku sadari atau lepas dari pemikiranku. Ahh..entahlah aku tak bisa banyak berkata-kata tentang kemampuan ini, karena menurutku kemampuan ini sangat luar biasa. Kalau ibarat komputer, kemampuan multitasking adalah seperti komputer yang memiliki prosesor dua core atau mungkin quad core.

Senin, 23 Mei 2011

Si Abu-abu


Pagi ini aku mendapati HP Sony Ericsson ku menunjukkan tanda-tanda semakin habis masa pakainya. Hal ini bermula ketika tadi pagi ketika sedang tiduran di kamar, saat mengirim SMS HP ini sepi-sepi saja, tidak seperti biasanya jika menerima laporan SMS terkirim HP ini pasti bergetar karena memang nada deringnya tidak aku nyalakan. Mendapati kenyataan seperti itu aku coba lagi untuk mengirim SMS dan ternyata memang tidak bergetar.

HP berwarna abu-abu ini adalah Sony Ericsson K608i. HP ini telah menemaniku sejak kelas 2 SMA, sekaligus HP dengan layar warna pertamaku. HP ini tergolong memiliki fitur yang komplit dan memiliki kemampuan 3G dan Video Call juga. Pada saat itu HP ini termasuk HP tercanggih.

Tak terbayang betapa panjangnya kisah yang telah dilalui bersama HP ini. Cerita ketika bermain bersama teman-teman SMA, sarana komunikasi ketika ujian,aah banyak sekali. Tapi namanya juga barang elektronik buatan manusia ya pada akhirnya akan rusak juga.

Minggu, 22 Mei 2011

Galau Akademik

Kata galau, hampir satu tahun belakangan ini semacam menjadi trend dalam kehidupan sosial kaum muda di Indonesia. Mulai dari yang terhitung masih ABG, remaja, dewasa, bahkan orang tua pun ikut terkena trend kata galau. Biasanya penggunaan kata galau digunakan seputaran topik-topik yang berhubungan dengan asmara, percintaan dan sebagainya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, galau berarti kacau tidak keruan. Ya memang pas ketika digunakan ketika seseorang dilanda perasaan yang tidak karuan karena asmara dan percintaan. Tapi beberapa bulan terakhir di kampus kemudian juga muncul kata "galau akademik".

Jika dilihat secara etimologi, galau akademik berarti perasaan tidak karuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan akademik. Kegiatan akademik disini biasanya berupa kuliah, tugas, matakuliah, skripsi dan sebagainya. Bicara soal galau akademik, akhir-akhir ini saya juga jadi terserang galau akademik akibat beberapa isu seputar kegiatan akademik. Galau akademik ini menjadi semakin signifikan ketika juga berhubungan dengan beberapa pihak terkait dan berkepentingan dalam kehidupan saya.

Sebagai mahasiswa angkatan 2008 dan telah berada di tingkat semester 6, bisa dikatakan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Karena tinggal menuntaskan kewajiban KKN dan skripsi saja. Terdengar simpel memang, "KKN dan Skripsi saja", tapi percayalah it's so complicated. Simple ketika semua dijalani biasa saja, semampu kita, sesempat kita semau kita. Tapi menjadi complicated ketika ada kepentingan lain yang istilah kasarnya "ikut campur" yang datang dari berbagai pihak, pemegang modal (orang tua) misalnya.

Sebagai pemegang modal wajar memang ketika mereka ingin segera menyelesaikan kewajiban investasi mereka dan segera menikmati hasilnya. Terlebih ketika mendengar kabar anak-anak temannya sudah lulus bahkan bekerja, keinginan tersebut bukan tidak mungkin menjadi semakin besar. Jadi dorongan untuk secepat mungkin menyelesaikan kuliah menjadi semakin besar.

Sejujurnya beberapa semester belakangan ini aku semakin mengubah pendirianku untuk lulus cepat dengan mempertimbangkan beberapa faktor. Aku masih ingin kuliah karena aku masih ingin mencari lebih banyak ilmu lagi, lebih banyak pengalaman lagi, lebih banyak teman dan ingin berkarya. Sepertinya berat rasanya ketika harus meninggalkan kampus tercinta tanpa memiliki sebuah karya yang bisa dibanggakan.

Sedikit Curhat Tentang Kepel News

Hampir semua mahasiswa jurusan ilmu komunikasi UGM pasti tahu Kepel News. Paling tidak pernah mendengar namanya sekali dalam hidupnya di komunikasi UGM. Ya, Kepel News adalah media komunitas berupa buletin yang diterbitkan oleh Korps Mahasiswa Komunikasi UGM (Komako UGM). Dalam Kepel News berisi artikel-artikel atau berita seputar JIK UGM atau semua yang berhubungan dengan komunikasi. Hmmm...setidaknya itulah yang aku ketahui tentang Kepel News tiga tahun belakangan ini.

Tidak tahu persis sejak kapan Kepel News ini terbit dan mengapa dinamakan Kepel News. Untuk pertanyaan yang terakhir mungkin sebenarnya sudah jelas, bahwa kepel adalah salah satu simbol komunikasi UGM. Masih ingat pertama kali dapat Kepel News waktu awal-awal semester 1, dan kalau boleh jujur Kepel News yang aku terima waktu itu kurang menarik (ampun..ampun siapapun dulu yang buat). Meski kurang menarik tapi isinya lumayan informatif lah bagi mahasiswa baru. Dan itulah Kepel News pertama dan yang terakhir kali aku dapat.

Ceritaku dengan Kepel News (halah) berlanjut ketika secara resmi saya menjadi anggota Komako UGM, Departemen Medkominfo di tahun 2009. Ketika oprec saya baru tahu bahwa ternyata Kepel News itu yang menerbitkan adalah departemen Medkominfo. Mungkin karena di CV yang saya masukan tertulis saya memiliki ketertarikan di bidang IT, saya di terima di departemen ini dan diberi tugas sebagai layouter Kepel News untuk kepengurusan 2009/2010. Mendapat tugas seperti itu sebenarnya saya bingung karena sebelumnya sama sekali belum pernah melayout apapun, mengutak-atik photoshop dan software desain grafispun cuma asal-asalan dan tak ada karya nyata. Tapi yasudahlah semuanya pasti bisa dipelajari pikirku waktu itu.

Akhirnya tugas pertama di mulai ketika ospek 2009, dimana sesuai proker Medkominfo, Kepel News edisi pertama terbit di hari terakhir ospek jurusan. Ini adalah pengalaman melayout pertama dan termepet seumur hidup, dimana semua dikerjakan sore hari sebelum Kepel News tersebut terbit. Jadi sepulang dari bertugas menjadi panitia ospek 2009, langsung aku layout beberapa artikel dan foto-foto terbaru tentang ospek kemudian malamnya aku berikan pada asta untuk dicetak, karena waktu itu kami belum tahu tempat mencetak dan mengingat waktu tinggal beberapa jam, akhirnya Kepel News edisi Maba itu dicetak manual menggunakan printer biasa. Harus aku akui itu memang bosok sekali hasilnya meski lebih baik dari fotokopi, tapi pengalaman pertama dan mepetnya waktu bisa dijadikan pembenaran waktu itu hehee.

Waktu edisi pertama yang (harus aku akui) bosok sekali, memang tidak ada yang mempermasalahkannya (atau mungkin aku tidak mendengar). Tapi masalah kemudian mulai terdengar ketika edisi kedua, ketiga dan seterusnya. Masalah pertama datang dari segi layout yang sangat wagu katanya, seperti buletin jumat masjid lah. Jujur waktu itu saya sangat stress mendengar itu, meski tidak langsung mendengar dari orang yang mengkritiknya. Tapi lama-kelamaan saya malah jadi bertanya-tanya sebenarnya dimana perbedaan Kepel News yang sekarang (waktu itu) dan yang sebelumnya? toh aku benar-benar menjiplak-plak-plak layout Kepel News sebelumnya. Dan semakin lama saya juga semakin jengkel karena yang mengkritik tidak pernah memberikan solusi nyata agar lebih baik. Hmm..sampai-sampai pernah terbit Kepel News tandingan bernama Bukan Kepel News. Baiklah harus diakui memang hasil cetaknya jelek sekali tapi bagaimana mau mencetak bagus jika setiap terbit hanya dianggarkan Rp 50.000 untuk cetak?. Untuk mengatasi ini aku sempat berinisiatif untuk menggabungkan anggaran cetak 2 bulan menjadi 1, hasilnya terbitlah Kepel News berwarna biru. Meski masih menuai kritik, tapi sedikit terdengar ada yang bilang kalau ada peningkatan.

Akibat pengalaman itu, saya sempat trauma ketika harus melayout semacam media yang mempunyai tulisan banyak. Dan ketika diakhir kepengurusan Komako 2009/2010 saya bertekad tidak akan lagi melayout Kepel News. Kalaupun saya melanjutkan Komako kepengurusan selanjutnya, saya mau pindah departemen, begitu niatan saya diakhir kepengurusan 2009/2010. Tapi ternyata niat hanyalah niat saja, sepertinya Allah berkehendak lain. Ketika Fania terpilih menjadi ketua Komako yang baru, dia mempercayakan jabatan Kepala Departemen Medkominfo padaku. "hai Kepel News, sepertinya kita akan bersama lagi" itulah yang aku katakan dalam hati ketika Fania memintaku menjadi Kadep Medkominfo.

Meski sejak saat itu banyak perubahan drastis pada Kepel News, jujur sampai saat ini aku masih agak malas dan trauma ketika harus melayout Kepel News. Tapi aku selalu berusaha mengubah kemalasan dan rasa trauma itu menjadi sebuah motivasi agar mendapat ide bagaimana caranya, mbuh piye carane jangan sampai terdengar kritik semacam itu lagi. Meski harus diakui itu SUSAH!
Hmmm..entahlah beberapa hal yang sangat aku benci justru kini menjadi semacam jalan bagiku mencapai tujuanku. Dulu aku begitu benci IPS tapi malah aku masuk jurusan IPS ketika SMA. Seseorang yang tadinya sangat aku benci justru menjadi seorang teman menulis cerita yang tak terlupakan. Suatu benda bernama Kepel News yang tadinya begitu aku benci justru menjadi semcam portfolio terbaikku. Yaaa..kehidupan memang penuh misteri :)

Jumat, 20 Mei 2011

Belajar Menjadi 0

Beberapa hari yang lalu saya telah sedikit banyak sharing mengenai makna dibalik angka 1 dan 0. Dimana ketika seseorang berada pada tingkat 0, dia telah berada pada tingkatan ikhlas yang paling tinggi. Jadi semakin mendekati 0, maka seseorang akan semakin ikhlas dan semakin mendekati 1 maka seseorang akan semakin tidak ikhlas. Kelihatannya simple sekali bukan? tapi percayalah mempraktekkannya tak semudah mengatakannya.

Manusia pada hakikatnya memiliki naluri dimana semua keinginannya harus tercapai. Tapi faktanya, manusia harus berkompromi dengan beberapa faktor yang mungkin membuat keinginannya tidak sepenuhnya tercapai. Dari sinilah muncul sebuah konsep yang bernama keikhlasan. Dimana hal tersebut merupakan sebuah tingkatan kerelaan kita atas ketidakterpenuhinya keinginan kita. Semakin kita rela maka sebesar itulah keikhlasan kita.

Lalu bagaimana agar kita bisa menjadi 0? dengan sangat menyesal maka saya menjawab "semua itu kembali pada pribadi masing-masing". Menyebalkan memang mendengarkan jawaban itu, tapi ini serius, ikhlas adalah benar-benar murni kehendak kita. Seberapa kuat kita bisa melawan ego kita untuk terpenuhinya keinginan kita. Yaa harus aku akui ini sangat sulit apalagi ketika kita sedang berusaha ikhlas tapi disaat yang sama kita harus ikhlas untuk hal yang lain, it's really hard!. Mungkin dari sini kita juga bisa belajar bahwa selalu ada kemungkinan terburuk, dan kita harus selalu siap atas kemungkinan terburuk tersebut. Sehingga ketika kemungkinan terburut itu datang kita sudah bersiap untuk ikhlas :)

Kamis, 19 Mei 2011

Keren Tanpa Rokok


Cowok mana yang tidak tahu rokok? benda satu ini sudah berabad-abad lamanya menjadi bagian dari sesosok makhluk Tuhan yang bernama pria. Sampai-sampai ada anggapan bukan cowok kalo tidak merokok. Hmmm...entahlah tapi aku tidak setuju dengan anggapan satu ini. Kenapa begitu? mari kita lihat sebuah pesan yang biasanya ada di kemasan rokok,"merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, IMPOTENSI dan gangguan kehamilan dan janin". Lalu dimana letak "cowok"nya jika IMPOTENSI? hmmmm..


Meski di besarkan oleh seorang bapak yang merokok, dan bergaul dengan teman-teman yang merokok, alhamdulillah dengan bangganya aku bisa bilang "saya tidak merokok". Tapi tidak merokok bukan berarti pernah mencoba rokok. Hmmm harus diakui saya pernah mencoba rokok diusia dimana anak-anak semuumuran belum pernah terpikirkan untuk mencoba (dan entahlah saya juga selalu berpikir kenapa saya selalu mencoba beberapa hal ketika belum saatnya hmmm). Mungkin pada waktu itu rasa ingin tahu seorang anak kecil sangatlah tinggi untuk mencoba sesuatu.

Waktu mencoba menurutku rasanya biasa saja dan mengarah ke tidak enak, maka dari itu tidak pernah aku teruskan untuk mencobanya. Selain karena tidak enak, takut dimarahi dan aku tahu itu tidak baik (wow) adalah alasannya. Seiring bertambahnya umur, semakin sering aku melihat teman-temanku belajar merokok dan menjadi perokok, tapi semua itu tidak menggerakan hatiku untuk mencobanya lagi. Entahlah aku selalu merasa sayang ketika membelanjakan uang sakuku untuk sesuatu apapun itu yang dibakar, seperti sekarang akupun malas membelanjakan uangku untuk membeli bensin hehehe.

Masa SMA biasanya menjadi masa dimana para remaja mulai menjadi perokok. Lagi-lagi aku beruntung karena aku terselamatkan di masa itu. Karena di masa itu kebutuhanku untuk pulsa dan internet mulai meningkat bahkan sangat tinggi untuk SMS, maka sangat...sangat..sangat...sangat.. sayang bahkan tidak terpikirkan untuk membelanjakan uang sakuku untuk rokok, bahkan untuk jajan ke kantin saja aku berpikir dua kali karena kebutuhan pulsa dan internetku yang cukup tinggi. Terima kasih pada teknologi komunikasi dan informasi hahahahaha...

Selain karena boros dan buang-buang uang saku, merokok menurutku bisa mengganggu kenyamanan orang lain. Aku sering merasakan hal ini terlebih ketika sedang flu, serasa berada di bumi tahun 2050 yang penuh dengan polusi dan udara yang sangat panas. Dan sampai sekarang aku belum pernah bisa menikmati aroma rokok yang katanya harum dan nikmat, karena menurutku sangat menyesakkan. Terlebih lagi menurut banyak cewek, sesungguhnya mereka lebih suka pria yang tidak merokok, hmmm...

Jadi aku sekarang bisa bilang "Aku Keren Tanpa Rokok!", bukankah banyak orang hebat yang tidak merokok? orang ini misalnya hahahaha...

Rabu, 18 Mei 2011

Banyak Inspirasi Tapi Tidak Selo

Hari ini mungkin adalah kebalikan dari hari senin kemarin dimana aku menulis tentang Begitu Datar, Tanpa Inspirasi. Baiklah hari ini diawali dengan bagun pagi dan cukup selo tak buru-buru. Meski aku baru ingat ternyata semalam aku menyalakan alarm untuk bangun jam 2 demi mengecek upload an youtube, tapi naas ternyata upload gagal saudara-saudara.

Tepat pukul 7.30 aku sampai kelas untuk kuliah komanus. Sampai di kelas ternyata masih sepi meski sudah ada beberapa mahasiswa yang datang, tampaknya aku kepagian. Komanus kali ini kita berdiskusi tentang film yang menceritakan tentang pergeseran nilai tentang berhubungan sex dan cinta dari masa ke masa. Hmmm...agak lupa aku judulnya, film ini membuatku ngantuk, mungkin bukan masalah isinya tapi LCD dikelas benar-benar kopet sehingga butuh konsentrasi yang tinggi untuk menontonnya. Sepertinya sih menarik, mungkin kalau selo akan mencoba meminjam filmnya.

Bukan disitu hal menariknya, tapi inspirasi yang datang dari kejadian-kejadian hari inilah yang menjadikan menarik. Begitu banyak cerita yang aku dengar hari ini jadi bisa memicu datangnya sebuah bahkan berbuah-buah inspirasi. Tapi sayangnya ternyata saya tidak cukup selo untuk menuliskannya hari ini. Ada topik-topik soal galau akademik, galau usia 20an, cerita tentang seseorang, tentang sebuah janji, tentang seorang  teman dan masih banyak lagi. Tadinya salah satunya mau aku tulis untuk postingan ke-18 #31harimenulis tapi ternyata baru pulang jam setengah 12 malam. Yasudahlah besok saja...

Selasa, 17 Mei 2011

Company Profile Komako UGM Part 2

Beberapa bulan yang lalu saya pernah sedikit sharing tentang hasil iseng nekat saya membuat Company Profile Komako, yang juga merupakan proker kerjasama antara Departemen Medkominfo dan Departemen Eksternal. Pada waktu itu adalah company profile versi pertama yang ditayangkan saat ospek 2010, Communipassion. Beberapa bulan kemudian kami menyempurnakan company profile tersebut dengan tambahan narator dan animasi yang (insya Allah) lebih bersih. Dan inilah hasilnya...

Senin, 16 Mei 2011

Begitu Datar, Tanpa Inspirasi

Datar, satu kata yang bisa menggambarkan hari yang aku lalui hari ini. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi hari ini selain kemacetan yang luar biasa yang melanda Jogja di libur panjang ini. Tidak ada suatu hal yang bisa membuatku berkata "wow!", tidak ada suatu masalah yang berarti. Hmmm.. untuk yang terakhir sebenarnya Alhamdulillah.

Ketika hari terasa datar, rasanya tidak seperti menjadi manusia saja. Rasanya kita hanya mengikuti pola yang sudah ada saja, seperti halnya robot yang hanya mengikuti barisan perintah yang sudah dituliskan. dan ketika hari terasa begitu datar, maka tak ada inspirasi.

Dimulai dengan bangun jam setengah 6, hariku dimulai. Tak ada tugas, aku menatap komputer yang dari kemarin memang tidak dimatikan hanya untuk melihat twitter dan Facebook. Ah..tidak ada apa-apa. Browsing sana browsing sini dan baca koran akhirnya aku berhasil membunuh waktu sekitar 3 jam. Jam menunjukan pukul 8.30, karena ada janji dengan Ermaya untuk membagikan tas merchandise soundtrackustik di kampus, aku segera bergegas mandi lalu berangkat. Seharian aku menghabiskan waktu di kampus, sambil menunggui tas-tas putih itu. Yaaa..tak ada yang "wow" hari ini. Dan akhirnya aku pulang sekitar jam 2. Jalanan macet sekali hari ini, mungkin karena besok libur Waisak dan hari ini adalah cuti bersama. Meski begitu kemacetan tadi tetap tak berpengaruh, tetap datar. Sampai rumah aku memutuskan untuk tiduran di kamar dan ternyata tertidur. hmmmm...

Tulisan ini pun aku buat karena memang benar-benar tak ada inspirasi sama sekali. Aku bingung mau menulis apa, maka aku tuliskan kebingunganku itu. Ah sepertinya aku butuh mendengarkan cerita....

Minggu, 15 Mei 2011

Makna Dibalik Angka 1 dan 0

Seseorang pasti pernah mengalami suatu kejadian atau serangkaian kejadian yang menurutnya di luar batas kemampuannya untuk meng-handle nya. Saat dimana dunia kau akan merasa dunia ini tidak adil dan begitu berat dijalani. Tapi percayakah bahwa ternyata itu adalah saat dimana kau akan menjadi seseorang yang luar biasa dari sebelumnya, jika kau berhasil melalui dan menyelesaikannya.

Pagi ini aku mendapatkan sebuah pencerahan dari ilmu yang selama ini (dan mungkin selamanya) aku anggap ah..eek sekali. Tapi bukankah suatu penemuan biasanya memang terjadi di tempat yang "kotor" dan bukan di tempat yang "bersih" tak ada apa-apa. Ah..sudahlah tak usah basa-basi ilmu itu adalah MATEMATIKA. Sangat tidak ikhlas sebenarnya, ternyata ilmu yang menggambarkan dengan jelas sebuah keikhlasan ternyata adalah ilmu yang sampai detik ini masih aku anggap sebagai monster dari segala ilmu.

Masih ingatkah kalian dengan sebuah hukum (atau apalah namanya) pembagian dan perkalian sebuah bilangan dengan angka 1 dan 0. Sebuah bilangan sebesar apapun dan sekecil apapun ketika dikalikan atau dibagi dengan angka 1 maka hasilnya adalah bilangan itu sendiri. Dan bilangan sebesar dan sekecil apapun jika dibagi dengan angka 0 hasilnya adalah tak terhingga atau tak terdefinisikan. Analogi tersebut mungkin bisa kita pakai untuk memaknai arti dari sebuah keikhlasan. Angka 0 melambangkan keikhlasan dan angka 1 melambangkan ketidakikhlasan.


Seiring dengan bertambahnya umur maka semakin hafal pula bagamana rasa pahit dan manisnya hidup ini. Melalui pengalaman hidupnya itulah dia akan selalu naik turun antara angka 0 dan angka 1. Ketika seseorang mencapai angka 1 dia akan terlihat sangat sombong dan bahkan mungkin menuhankan dirinya, dia merasa bahwa segala sesuatunya adalah karena dia dan dirinya adalah segalanya. Sedangkan ketika seseorang mencapai angka 0 dia adalah orang yang berhasil mengendalikan hawa nafsunya dan kembali ke fitrahnya. Dia selalu rendah hati dan bersyukur baik ketika dalam kondisi kelebihan ataupun kekurangan.

Mungkin angka akan lebih mudah kita pahami jika membahasnya dengan angka juga. Seseorang yang berada pada angka 1 ketika mendapatkan rejeki Rp 1.000.000, tidak lebih dan tidak kurang itulah uang yang didapatnya. Karena ketika dibagi dengan angka 1, hasilnya tetap 1.000.000, itulah angka keberkahan yang mungkin didapatnya. Sedangkan seseorang yang mencapai angka 0 ketika dia mendapat Rp 1.000.000 atau berapapun itu yang dia dapat, maka nilai keberkahannya adalah tak terhingga. Seseorang yang mencapai angka 0 adalah orang yang telah mencapai kesempurnaan dalam keikhlasannya, sehingga berapapun yang diterimanya akan selalu dapat mencukupinya bahkan masih mampu menolong orang lain. semakin mendekati 0 maka semakin tinggi tingkat keikhlasannya. Jadi misalnya dia berada pada tingkatan 0,4 ketika maka ketika dia mendapat 1.000.000 bisa digambarkan nilai keberkahan uang dia peroleh adalah 1.000.000/0,4= 2.500.000

Hal ini juga berlaku ketika seseorang mendapat masalah atau cobaan. Seseorang yang sepenuhnya ikhlas atau berada pada angka 0, seberat apapun masalah yang dia hadapi jika ikhlas (dikalikan dengan 0) maka nilainya tetap sama dengan 0. Sehingga dia tidak pernah merasakan beban apapun ketika mendapat cobaan seberat apapun. Sedangkan seseorang yang ada pada angka 1 akan merasakan beban yang sama dengan ukuran masalah yang dihadapinya, mungkin dia akan stress, sakit atau putus asa. See?


Dari situ kita bisa belajar bahwa ketika menghadapi masalah sekecil atau sebesar apapun, ikhlaslah. Maka kita tidak akan merasakan apapun atau paling tidak meringankan beban kita. Begitu juga ketika mendapat rejeki, sebesar atau sekecil apapun itu, ikhlaslah. Maka berapapun jumlahnya insya Allah cukup bahkan mungkin lebih.

Manusia itu seperti sebuah PC, bisa di upgrade setinggi apapun yang pemiliknya mau dan itulah yang disebut dengan perubahan. Ketika kita sedang menghadapi suatu masalah yang jauh lebih berat dari biasanya, itu seperti ketika PC yang sedang diupgrade menyesuaikan diri dengan komponen baru yang lebih tinggi. Ketika berhasil melaluinya maka PC tersebut menjadi jauh lebih hebat dari sebelumnya, bisa memainkan game-game terbaru misalnya. Begitu juga dengan kita ketika kita berhasil melalui masalah yang sangat berat tersebut, maka kemampuan kita meningkat sehingga bisa menghadapi masalah yang jauh lebih berat lagi.

Menyenangkan bukan ketika memandang sesuatu dari sisi positifnya? :)

*terima kasih pada teman-teman yang telah meluangkan waktunya menjadi "tong sampah" dan memberikan bebrapa inspirasi baru.