Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2011

Jatuh Cinta Pada Typo Art

Hampir satu tahun belakangan ini karya-karya saya dalam desain grafis selalu terpengaruh pada suatu aliran dalam dunia desain grafis yang bernama Typo Art atau Typographic Desain. Ya, harus diakui sepertinya saya semakin jatuh cinta dengan typo art. Typo Art adalah salah satu aliran dalam dunia desain grafis yang menjadikan huruf/font sebagai elemen utama dalam sebuah artworks. Mari kita ingat-ingat bagaimana awal mulanya sehingga saya bisa jatuh cinta dengan aliran ini, hmmmm..baiklah saya lupa, jadi mari kita sedikit bercerita bagaimana awalnya saya belajar desain grafis.

poster typographic

keren juga kalau jadi iklan


Mungkin ini adalah tahun ke-2 saya belajar sekaligus mengaplikasikan desain grafis dalam kehidupan sehari-hari, dan mungkin ini mungkin tahun ke-7 sejak pertama kali saya mulai menyentuh software-software desain grafis khususnya Adobe Photoshop. Ya, saya pertama kali mengenal photoshop waktu kelas 2 SMP dimana saat itu saya baru saja dibelikan komputer yang pada saat itu mungkin terhebat ke-2 di SMP saya. Dalam komputer itu sejak pertama kali dinyalakan dirumah saya, sudah diinstal berbagai macam software desain grafis, video editing dan beberapa game. Masih ingat ketika pertama kali dinyalakan saya langsung diajarkan bagaimana menggunakan ulead studio, autocad, dan photoshop. Untuk yang terakhir mungkin saya tidak diajari tapi mencoba sendiri (bangga). Tapi tak bertahan hingga sebulan, saya kemudian melupakan software-software tersebut karena tidak ada teman belajar dan beralih bermain game karena teman saya yang bernama Doni sering sekali meminjami saya CD Game koleksinya.

Keinginan saya untuk belajar desain grafis mulai muncul kembali ketika masuk kuliah di jurusan ilmu komunikasi. Waktu itu saya sedikit iri setelah dipameri Angga beberapa karya desain grafisnya, ketika awal perkenalan. Sejak saat itu saya mulai tergerak untuk membuka kembali photoshop saya, dan mulai belajar. Lagi-lagi karena sifat tidak telaten yang saya miliki membuat saya kembali bosan. Namun saya belum sepenuhnya meninggalkan photoshop, karena waktu itu saya cukup aktif dalam Publicia Photo Club (PPC), saya tetap menggunakan photoshop untuk mengedit foto. Baru keadaan mulai berubah ketika saya resmi menjadi anggota komako dan menginjak semster 3, ada matakuliah DKV, disinilah keadaan memaksa saya untuk menjadi bisa desain grafis atau setidaknya bisa menggunakan photoshop untuk menhasilkan sesuatu. Terlebih lagi sepertinya desain grafis bisa menjadi pendukung bahkan senjata utama ilmu yang saya pelajari di jurusan ilmu komunikasi.

Beberapa gaya desain grafis pernah saya coba, salah satunya mungkin gaya desain yang sempat menjadi ciri khas desain karya Angga sebelum teracuni mata kuliah periklanan. Tapi mungkin saya belum pernah mencoba gaya desain yang biasa digunakan Matahari, mungkin karena pemikiran saya yang tidak pernah sampai ke alam pikirannya yang sangar. Lagi-lagi karena saya orangnya tidak telaten, beberapa gaya desain kemudian menjadi tidak cocok karena membutuhkan teknik yang cukup tinggi, seperti gaya desainnya Angga. Sambil terus belajar, akhirnya saya menemukan sebuah gaya desain yang tidak selalu membutuhkan teknik tingkat tinggi, gaya itu adalah typo art. Selain karena alasan teknis, ada banyak alasan lain mengapa saya mulai dan semakin jatuh cinta dengan aliran ini.


Typo art menurut saya adalah gaya desain yang memiliki kesan simple, bersih, jelas, modern namun tetap bermakna dan bisa menyampaikan pesan. Seperti yang kita tahu, terlepas dari kemampuannya membentuk sebuah makna ketika dirangkai dalam kata dan kalimat, sebuah fot itu sendiri sudah memiliki makna dan kesan dari desain typografinya. Dan akan semakin bermakna ketika menjadi suatu elemen dalam sebuah desain. Meski cenderung lebih mudah, bukan berarti aliran ini mudah, pemilihan font dan layout yang tidak tepat, akan mengganggu makna atau pesan yang ingin disampaikan.


Kaiser Permanente Case Study (full version) from Nicole Novak on Vimeo.


WinningQuote - Typography from D-sign on Vimeo.

typographic desain dalam bentuk video

Seperti yang saya katakan di awal tadi, sepertinya saya memang mulai dan semakin jatuh cinta dengan typographic desain atau typo art. Aliran ini sudah cukup mempengaruhi cara berpikir saya dalam merancang sebuah karya desain grafis. Dari sini lah timbul keinginan untuk semakin mendalami aliran ini. Dan sejauh ini sepertinya aliran ini masih sangat jarang di populerkan di jogja khususnya.

Minggu, 22 Mei 2011

Sedikit Curhat Tentang Kepel News

Hampir semua mahasiswa jurusan ilmu komunikasi UGM pasti tahu Kepel News. Paling tidak pernah mendengar namanya sekali dalam hidupnya di komunikasi UGM. Ya, Kepel News adalah media komunitas berupa buletin yang diterbitkan oleh Korps Mahasiswa Komunikasi UGM (Komako UGM). Dalam Kepel News berisi artikel-artikel atau berita seputar JIK UGM atau semua yang berhubungan dengan komunikasi. Hmmm...setidaknya itulah yang aku ketahui tentang Kepel News tiga tahun belakangan ini.

Tidak tahu persis sejak kapan Kepel News ini terbit dan mengapa dinamakan Kepel News. Untuk pertanyaan yang terakhir mungkin sebenarnya sudah jelas, bahwa kepel adalah salah satu simbol komunikasi UGM. Masih ingat pertama kali dapat Kepel News waktu awal-awal semester 1, dan kalau boleh jujur Kepel News yang aku terima waktu itu kurang menarik (ampun..ampun siapapun dulu yang buat). Meski kurang menarik tapi isinya lumayan informatif lah bagi mahasiswa baru. Dan itulah Kepel News pertama dan yang terakhir kali aku dapat.

Ceritaku dengan Kepel News (halah) berlanjut ketika secara resmi saya menjadi anggota Komako UGM, Departemen Medkominfo di tahun 2009. Ketika oprec saya baru tahu bahwa ternyata Kepel News itu yang menerbitkan adalah departemen Medkominfo. Mungkin karena di CV yang saya masukan tertulis saya memiliki ketertarikan di bidang IT, saya di terima di departemen ini dan diberi tugas sebagai layouter Kepel News untuk kepengurusan 2009/2010. Mendapat tugas seperti itu sebenarnya saya bingung karena sebelumnya sama sekali belum pernah melayout apapun, mengutak-atik photoshop dan software desain grafispun cuma asal-asalan dan tak ada karya nyata. Tapi yasudahlah semuanya pasti bisa dipelajari pikirku waktu itu.

Akhirnya tugas pertama di mulai ketika ospek 2009, dimana sesuai proker Medkominfo, Kepel News edisi pertama terbit di hari terakhir ospek jurusan. Ini adalah pengalaman melayout pertama dan termepet seumur hidup, dimana semua dikerjakan sore hari sebelum Kepel News tersebut terbit. Jadi sepulang dari bertugas menjadi panitia ospek 2009, langsung aku layout beberapa artikel dan foto-foto terbaru tentang ospek kemudian malamnya aku berikan pada asta untuk dicetak, karena waktu itu kami belum tahu tempat mencetak dan mengingat waktu tinggal beberapa jam, akhirnya Kepel News edisi Maba itu dicetak manual menggunakan printer biasa. Harus aku akui itu memang bosok sekali hasilnya meski lebih baik dari fotokopi, tapi pengalaman pertama dan mepetnya waktu bisa dijadikan pembenaran waktu itu hehee.

Waktu edisi pertama yang (harus aku akui) bosok sekali, memang tidak ada yang mempermasalahkannya (atau mungkin aku tidak mendengar). Tapi masalah kemudian mulai terdengar ketika edisi kedua, ketiga dan seterusnya. Masalah pertama datang dari segi layout yang sangat wagu katanya, seperti buletin jumat masjid lah. Jujur waktu itu saya sangat stress mendengar itu, meski tidak langsung mendengar dari orang yang mengkritiknya. Tapi lama-kelamaan saya malah jadi bertanya-tanya sebenarnya dimana perbedaan Kepel News yang sekarang (waktu itu) dan yang sebelumnya? toh aku benar-benar menjiplak-plak-plak layout Kepel News sebelumnya. Dan semakin lama saya juga semakin jengkel karena yang mengkritik tidak pernah memberikan solusi nyata agar lebih baik. Hmm..sampai-sampai pernah terbit Kepel News tandingan bernama Bukan Kepel News. Baiklah harus diakui memang hasil cetaknya jelek sekali tapi bagaimana mau mencetak bagus jika setiap terbit hanya dianggarkan Rp 50.000 untuk cetak?. Untuk mengatasi ini aku sempat berinisiatif untuk menggabungkan anggaran cetak 2 bulan menjadi 1, hasilnya terbitlah Kepel News berwarna biru. Meski masih menuai kritik, tapi sedikit terdengar ada yang bilang kalau ada peningkatan.

Akibat pengalaman itu, saya sempat trauma ketika harus melayout semacam media yang mempunyai tulisan banyak. Dan ketika diakhir kepengurusan Komako 2009/2010 saya bertekad tidak akan lagi melayout Kepel News. Kalaupun saya melanjutkan Komako kepengurusan selanjutnya, saya mau pindah departemen, begitu niatan saya diakhir kepengurusan 2009/2010. Tapi ternyata niat hanyalah niat saja, sepertinya Allah berkehendak lain. Ketika Fania terpilih menjadi ketua Komako yang baru, dia mempercayakan jabatan Kepala Departemen Medkominfo padaku. "hai Kepel News, sepertinya kita akan bersama lagi" itulah yang aku katakan dalam hati ketika Fania memintaku menjadi Kadep Medkominfo.

Meski sejak saat itu banyak perubahan drastis pada Kepel News, jujur sampai saat ini aku masih agak malas dan trauma ketika harus melayout Kepel News. Tapi aku selalu berusaha mengubah kemalasan dan rasa trauma itu menjadi sebuah motivasi agar mendapat ide bagaimana caranya, mbuh piye carane jangan sampai terdengar kritik semacam itu lagi. Meski harus diakui itu SUSAH!
Hmmm..entahlah beberapa hal yang sangat aku benci justru kini menjadi semacam jalan bagiku mencapai tujuanku. Dulu aku begitu benci IPS tapi malah aku masuk jurusan IPS ketika SMA. Seseorang yang tadinya sangat aku benci justru menjadi seorang teman menulis cerita yang tak terlupakan. Suatu benda bernama Kepel News yang tadinya begitu aku benci justru menjadi semcam portfolio terbaikku. Yaaa..kehidupan memang penuh misteri :)

Minggu, 10 April 2011

A Beautiful Ripple

Di tengah-tengah mumetnya mengerjakan take home filkom, jadi teringat video hasil mencoba sebuah tutorial di AE Tutsplus yang sempat dibuat beberapa waktu yang lalu. Kemarin sempat di-upload di Youtube tapi ternyata terganjal beberapa masalah yang berhubungan dengan copyright, yang mengakibatkan tidak bisa dibuka videonya. Entah sebenarnya bagaimana permasalahannya aku juga kurang paham hehehe...
Dalam video ini menampilkan visualisasi sebuah gelombang atau ombak yang mengikuti hentakan musik yang mengiringinya. Untuk menciptakan efek tersebut saya menggunakan Trapcode Form untuk mensinkronkan partikel-partikel gelombang dengan hentakan lagu. Belum ada kreasi atau modifikasi di video ini semuanya masih sama persis di tutorialnya, tapi sudah ada bayangan mau dipakai untuk variasi seperti apa, nantikan saja karya berikutnya hehehe...


Music: Owl City - Fireflies