Jumat, 28 Oktober 2011
Logo Ikan Gabus
Logo ini berasal dari Rembugan dengan brief dari Arie Obasatuagi, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UGM
Objective : Logo rumah makan khas betawi (tugas mata kuliah DKV)
Tone and manner : jenaka dan ceria, logo bernuansa warna hijau seperti warna rumah si Doel Anak Sekolahan
Minggu, 10 Juli 2011
KKN Unit 68 Day 6
Kalau kata bayu, semakin bertambah hari kegiatan kita semakin tidak ada. Mungkin memang benar, semakin bertambah hari kegiatan KKN kita di minggu pertama semakin tidak ada. Dihari keenam ini benar-benar tidak ada agenda yang berkaitan dengan masyarakat sekitar. Kami diundang menghadiri penyambutan tamu dari Vietnam yang inginbelajar membatik di rumah pak sogi, tapi aku memutuskan tidak ikut dan pulang kerumah yang kemarin sempat tertunda. Aku pulang kerumah dari jam 10 hingga jam 2 siang. Tak banyak yang dilakukan dirumah, tiduran, browsing packaging. Tapi yang namanya rumah sendiri tetap jauh lebih nyaman daripada dirumah orang lain.
Sekitar jam 2 aku kembali ke pondokan. Disana anak-anak sibuk dengan permainannya masing. Bayu pulang kerumahnya, paul main dota, dan seperti biasa ciprut main catur. Sempat terpikir kenapa tidak sekalian saja aku balik pondokan nanti sore mendekati rapat para koordinator pameran batik.
Tapi pilihanku sepertinya tidak salah, sore hari sekitar jam 4 kami pergi bermain ke kawasan agrowisata di Bukit Hijau. Jalan menuju kesana sangat menanjak, tapi sesampai diatas pemandangannya sangat indah. Sebagai orang bantul sendiri aku belum pernah ke tempat itu. Setelah puas melihat matahari terbenam, kami kembali ke pondokan dan besrsiap untuk mandi. Malamnya, sekitar jam 8 di sub unit 2 di adakan rapat para koordinator pameran, untuk brainstorming konsep acara dan membicarakan beberapa persiapan lainnya. Selesai rapat ada kabar sedikit tidak mengenakkan dari kotek. Ternyata LRK yang kami buat kurang lengkap, dan terpaksa malam itu kami lembur lagi mengerjakan LRK.
Sekitar jam 2 aku kembali ke pondokan. Disana anak-anak sibuk dengan permainannya masing. Bayu pulang kerumahnya, paul main dota, dan seperti biasa ciprut main catur. Sempat terpikir kenapa tidak sekalian saja aku balik pondokan nanti sore mendekati rapat para koordinator pameran batik.
Tapi pilihanku sepertinya tidak salah, sore hari sekitar jam 4 kami pergi bermain ke kawasan agrowisata di Bukit Hijau. Jalan menuju kesana sangat menanjak, tapi sesampai diatas pemandangannya sangat indah. Sebagai orang bantul sendiri aku belum pernah ke tempat itu. Setelah puas melihat matahari terbenam, kami kembali ke pondokan dan besrsiap untuk mandi. Malamnya, sekitar jam 8 di sub unit 2 di adakan rapat para koordinator pameran, untuk brainstorming konsep acara dan membicarakan beberapa persiapan lainnya. Selesai rapat ada kabar sedikit tidak mengenakkan dari kotek. Ternyata LRK yang kami buat kurang lengkap, dan terpaksa malam itu kami lembur lagi mengerjakan LRK.
Labels:
KKN
KKN Unit 68 Day 5
Hahaha terpaksa cerita hari kelima dan ke enam harus dirapel hari ini. Sejak hari Jumat, kami harus sedikit tidur lebih larut karena mulai banyak pekerjaan. Salah satunya adalah membuat Laporan Rencana Kegiatan (LRK). Banyak hal yang membuat kami bingung dalam membuat LRK ini, salah satunya bingung menentukan apakah kegiatan ini boleh dijadikan program individu atau tidak.
Di hari kelima ini adalah hari Jumat. Ini adalah kali pertama kami menunaikan shalat jJumat di lokasi KKN. Karena Ciprut mengantar ochi ke sub unit 1, maka kami rombongan kaum adam sub unit 2 hanya beranggotakan 3 orang yang berangkat shalat Jumat. Tadinya kami mengira ada shalat Jumat di mushola pinggir jalan dekat pondokan, jadi kami agak santai karena cuma dekat. Tapi ternyata perkiraan kami salah, di mushola tersebut tidak mengadakan shalat Jumat. Untuk menunaikan shalat Jumat, kami harus pergi ke masjid di RT 01, lumayan jauh untuk ukuran jalan kaki.
Sesuai rencana sebelumnya hari itu aku dimintai tolong Ochi untuk mengantarnya ke Graphico. Terdengar sangat selo, mengingat lokasi KKN kami yang berada di Imogiri harus ke Jakal. Tapi karena program dari Ochi yang membutuhkan cetak A3 berwarna, padahal aku belum pernah tau dimana percetakan di Bantul yang bisa mencetak A3 satuan, jadi mau bagaimana lagi?
Sebelum berangkat ke Graphico, aku diajak ciprut mengunjungi ketua pemuda setempat. Tapi karena sedikit mager alias males gerak, akhirnya yg berangkat ciprut, faizal, bayu dan gratia. Dipondokan aku masih harus menunggu Ochi yang ribet dengan usahanya membuat gambar awan. Sangat membosankan tapi setidaknya lebih baik daripada ikut nyasar-nyasar bersama ciprut.
Tak lama setelah pasukan ekspedisi tadi pulang, akhirnya kami bersiap untuk berangkat ke utara, waktu itu sekitar jam 15.00. Saat kami akan berangkat ternyata ciprut juga berencana kembali ke rumahnya. Rencananya jauh lebih selo, mengambil harmonika -_-
Misi kami ke utara bertambah satu lagi, beli molring di kantin. Karena jalanan jogja yang sangat macet, kami baru tiba di kawasan kota baru sekitar pukul 4 kurang. Mengingat kantin Fisipol tutup jam 4, kami memutuskan untuk ke kantin dulu sebelum ke Graphico. Sukses menyentuh kantin yang sudah sepi lengkap dengan ibu kantin yang sedang bersiap untuk pulang. Ochi kemudian memborong sekitar 12 molring, dan menyisakan 6 buah saja. Misi pertama selesai, perjalanan kami perlanjut menuju Graphico. Beruntung saat itu tidak antri banyak, hanya beberapa menit menunggu kami segera dipanggil. Sepulang dari Graphico kami menyempatkan diri melewati Kopma UGM, untuk menyaksikan TKP bekas kecelakaan bis hari sebelumnya.
Sampai di Bantul kami mampir dulu ke PANTES toko alat tulis dan warung pak Broto untuk membeli beberapa perlengkapan yang dibutuhkan Ochi untuk programnya. Tak begitu ingat jam berapa kami sampai ke pondokan lagi tapi waktu itu sekitar pukul 5. Belum sempat pantat ini menyentuh lantai, ciprut meminta semua awak sub unit 2 untuk bersiap ke sub unit 3 berkumpul menemui mas Nyarwi. Entah sebenarnya apa tujuan yang ingin dicapai dari agenda tersebut. Menurutku kami telah berhasil membunuh waktu sekitar 1 jam di pondokan sub unit 3.
Akhirnya kami pulang dengan sedikit petujuk dari dyka tentang menyusun LRK. Setelah mandi kami semua makan malam bersama, tiba-tiba saja ada agenda tambahan yaitu kerja bakti dirumah pak sogi, mempersiapkan tempat untuk menyambut tamu dari Vietnam, sabtu paginya.
Tadinya aku berencan pulang ke rumah untuk mengambil beberapa kaos ganti. Tapi karena agenda mendadak ini dan menyusun LRK. Rencana pulang malam itu dibatalkan. Pulang dari kerja bakti kami dikejutkan tiba-tiba saja Paul sudah pulang ke pondokan setelah beberapa jam tersesat di jalan hoalaaah..
Dan malam harinya kami bersama-sama menyusun LRK masing-masing hingga cukup larut malam. Dan oh iya K2 ku tambah lagi yaitu membantu Maria membuat backdrop penyuluhan HAKI.
Di hari kelima ini adalah hari Jumat. Ini adalah kali pertama kami menunaikan shalat jJumat di lokasi KKN. Karena Ciprut mengantar ochi ke sub unit 1, maka kami rombongan kaum adam sub unit 2 hanya beranggotakan 3 orang yang berangkat shalat Jumat. Tadinya kami mengira ada shalat Jumat di mushola pinggir jalan dekat pondokan, jadi kami agak santai karena cuma dekat. Tapi ternyata perkiraan kami salah, di mushola tersebut tidak mengadakan shalat Jumat. Untuk menunaikan shalat Jumat, kami harus pergi ke masjid di RT 01, lumayan jauh untuk ukuran jalan kaki.
Sesuai rencana sebelumnya hari itu aku dimintai tolong Ochi untuk mengantarnya ke Graphico. Terdengar sangat selo, mengingat lokasi KKN kami yang berada di Imogiri harus ke Jakal. Tapi karena program dari Ochi yang membutuhkan cetak A3 berwarna, padahal aku belum pernah tau dimana percetakan di Bantul yang bisa mencetak A3 satuan, jadi mau bagaimana lagi?
Sebelum berangkat ke Graphico, aku diajak ciprut mengunjungi ketua pemuda setempat. Tapi karena sedikit mager alias males gerak, akhirnya yg berangkat ciprut, faizal, bayu dan gratia. Dipondokan aku masih harus menunggu Ochi yang ribet dengan usahanya membuat gambar awan. Sangat membosankan tapi setidaknya lebih baik daripada ikut nyasar-nyasar bersama ciprut.
Tak lama setelah pasukan ekspedisi tadi pulang, akhirnya kami bersiap untuk berangkat ke utara, waktu itu sekitar jam 15.00. Saat kami akan berangkat ternyata ciprut juga berencana kembali ke rumahnya. Rencananya jauh lebih selo, mengambil harmonika -_-
Misi kami ke utara bertambah satu lagi, beli molring di kantin. Karena jalanan jogja yang sangat macet, kami baru tiba di kawasan kota baru sekitar pukul 4 kurang. Mengingat kantin Fisipol tutup jam 4, kami memutuskan untuk ke kantin dulu sebelum ke Graphico. Sukses menyentuh kantin yang sudah sepi lengkap dengan ibu kantin yang sedang bersiap untuk pulang. Ochi kemudian memborong sekitar 12 molring, dan menyisakan 6 buah saja. Misi pertama selesai, perjalanan kami perlanjut menuju Graphico. Beruntung saat itu tidak antri banyak, hanya beberapa menit menunggu kami segera dipanggil. Sepulang dari Graphico kami menyempatkan diri melewati Kopma UGM, untuk menyaksikan TKP bekas kecelakaan bis hari sebelumnya.
Sampai di Bantul kami mampir dulu ke PANTES toko alat tulis dan warung pak Broto untuk membeli beberapa perlengkapan yang dibutuhkan Ochi untuk programnya. Tak begitu ingat jam berapa kami sampai ke pondokan lagi tapi waktu itu sekitar pukul 5. Belum sempat pantat ini menyentuh lantai, ciprut meminta semua awak sub unit 2 untuk bersiap ke sub unit 3 berkumpul menemui mas Nyarwi. Entah sebenarnya apa tujuan yang ingin dicapai dari agenda tersebut. Menurutku kami telah berhasil membunuh waktu sekitar 1 jam di pondokan sub unit 3.
Akhirnya kami pulang dengan sedikit petujuk dari dyka tentang menyusun LRK. Setelah mandi kami semua makan malam bersama, tiba-tiba saja ada agenda tambahan yaitu kerja bakti dirumah pak sogi, mempersiapkan tempat untuk menyambut tamu dari Vietnam, sabtu paginya.
Tadinya aku berencan pulang ke rumah untuk mengambil beberapa kaos ganti. Tapi karena agenda mendadak ini dan menyusun LRK. Rencana pulang malam itu dibatalkan. Pulang dari kerja bakti kami dikejutkan tiba-tiba saja Paul sudah pulang ke pondokan setelah beberapa jam tersesat di jalan hoalaaah..
Dan malam harinya kami bersama-sama menyusun LRK masing-masing hingga cukup larut malam. Dan oh iya K2 ku tambah lagi yaitu membantu Maria membuat backdrop penyuluhan HAKI.
Labels:
KKN
Kamis, 07 Juli 2011
KKN Unit 68 Day 4
Lagi-lagi hari ini bangun agak siang, jam 07.30. Selain aku ciprut dan paul, anak-anak sub unit 2 yang lain pergi jalan-jalan keliling desa. Tak ada agenda penting untuk kegiatan unit. Hari ini agenda utamaku hanya rapat cluster dan ikut riset bersama-sama teman-teman divisi produksi di Giri Asri.
Karena pagi hari tak ada agenda apapun, setelah selesai sarapan pagi aku bermain angry birds yang kemarin sengaja aku copy di hardisk eksternal. Entah berapa lama aku bermain angry birds, tiba-tiba keasyikan bermain angry birds terganggu ketika ega minta ditemani ke kelurahan untuk minta data monografi penduduk Karang Tengah. Yasudahlah setelah mandi kemudian berangkatlah ke kantor kelurahan. Di kantor kelurahan, ternyata kami tidak berhasil menemui pak Surawi. Beliau adalah orang yang berwenang untuk urusan data monografi ini. Beberapa puluh menit kami menunggu pak Surawi namun tak kunjung datang juga, maka kami putuskan untuk meninggalkan kelurahan dan kembali ketika pak Surawi telah kembali.
Daripada kami kembali ke pondokan dan tak ada kerjaan, akhirnya kami mendarat di TK Mojolegi. Disana sudah ada Paul, Ochi, dan Novita. Di TK tersebut kami hanya mengobrol sebentar kemudian ega kembali mengajak ke kelurahan karena pak Surawi telah kembali ke kantor. Singkat cerita kami berhasil mendapatkan data monografi yang dicari, akan tetapi itu tidak up to date.
Saat jam makan siang tiba, kami kedatangan tamu dari sub unit 1, Nova naufal dan Lulu. Mereka pun memetuskan untuk numpang makan siang di pondokan kami. Selesai makan siang kami berencan mengadakan rapat cluster. sambil menunggu semua datang berkumpul oChi memutarkan sebuah film Korea yang aku lupa apa judulnya tapi sepertinya bagus.
Menit demi menit kami menunggu, tapi rekan-rekan sub unit 3 tak juga berdatangan. Usut punya usut ternyata mereka tak ada kendaraan untuk berangkat ke sub unit 2. Yasudahlah akhirnya kami semua memutuskan untuk menggelar rapat di pondokan sub unit 3.
Dari hasil rapat ini aku mendapatkan cukup banyak tambahan program individu. Hmm..sebenarnya program individuku berarti resmi tak jauh berbeda dengan apa yang aku kerjakan di tugas-tugas kuliah komstra dan tugas-tugas di KOMAKO. Yasudahlah selama masih bisa aku kerjakan kenapa tidak, toh program-program tersebut tidak mengeluarkan banyak biaya, tapi banyak tenaga dan pikiran mungkin, dan itulah mengapa aku sangat bersyukur. hahahahaha...
Setelah rapat ditutup, aku segera bergegas menyusul wida dan teman-teman divisi produksi ke Giri Asri. Ternya disana sedang ada pengambilan gambar untuk keperluan pembuatan video profil dari dinas pariwisata. Jadi sepertinya kegiatan riset belum bisa dijalankan hari ini dengan maksimal. Tapi sisi positifnya kami mendapat kenalan dari orang-orang dinas pariwisata dan mungkin sedikit bantuan untuk pameran nanti.
Malam harinya setelah shalat maghrib, kami berempat, aku ciprut, faizal dan bayu menghadiri acara yasinan yang diadakan RT 03. Jujur ini kali pertama aku mengikuti acara seperti ini mengingat di keluarga dan di daerahku tinggal tidak pernah mengadakan kegiatan ini. Menurutku juga, acara seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya, tapi mungkin untuk sarana silaturahmi bagus juga.
Hmm..oh iya, sepertinya di hari keempat ini ada beberapa teman yang mulai bermasalah dengan pemilik pondokan. Hmm entahlah semoga tidak terus berlanjut. Dan oh iya lagi, aku hari ini sudah mendapat 2 buah program bantu. Yaitu membantu novita membuat poster dan membantu ochi membuat sarana TK berupa slogan. Baiklah mari kita tidur, hari ini kamar agak lebih longgar karena paul tidak balik ke pondokan setelah ada sedikit urusan di luar tadi sore.
Karena pagi hari tak ada agenda apapun, setelah selesai sarapan pagi aku bermain angry birds yang kemarin sengaja aku copy di hardisk eksternal. Entah berapa lama aku bermain angry birds, tiba-tiba keasyikan bermain angry birds terganggu ketika ega minta ditemani ke kelurahan untuk minta data monografi penduduk Karang Tengah. Yasudahlah setelah mandi kemudian berangkatlah ke kantor kelurahan. Di kantor kelurahan, ternyata kami tidak berhasil menemui pak Surawi. Beliau adalah orang yang berwenang untuk urusan data monografi ini. Beberapa puluh menit kami menunggu pak Surawi namun tak kunjung datang juga, maka kami putuskan untuk meninggalkan kelurahan dan kembali ketika pak Surawi telah kembali.
Daripada kami kembali ke pondokan dan tak ada kerjaan, akhirnya kami mendarat di TK Mojolegi. Disana sudah ada Paul, Ochi, dan Novita. Di TK tersebut kami hanya mengobrol sebentar kemudian ega kembali mengajak ke kelurahan karena pak Surawi telah kembali ke kantor. Singkat cerita kami berhasil mendapatkan data monografi yang dicari, akan tetapi itu tidak up to date.
Saat jam makan siang tiba, kami kedatangan tamu dari sub unit 1, Nova naufal dan Lulu. Mereka pun memetuskan untuk numpang makan siang di pondokan kami. Selesai makan siang kami berencan mengadakan rapat cluster. sambil menunggu semua datang berkumpul oChi memutarkan sebuah film Korea yang aku lupa apa judulnya tapi sepertinya bagus.
Menit demi menit kami menunggu, tapi rekan-rekan sub unit 3 tak juga berdatangan. Usut punya usut ternyata mereka tak ada kendaraan untuk berangkat ke sub unit 2. Yasudahlah akhirnya kami semua memutuskan untuk menggelar rapat di pondokan sub unit 3.
Dari hasil rapat ini aku mendapatkan cukup banyak tambahan program individu. Hmm..sebenarnya program individuku berarti resmi tak jauh berbeda dengan apa yang aku kerjakan di tugas-tugas kuliah komstra dan tugas-tugas di KOMAKO. Yasudahlah selama masih bisa aku kerjakan kenapa tidak, toh program-program tersebut tidak mengeluarkan banyak biaya, tapi banyak tenaga dan pikiran mungkin, dan itulah mengapa aku sangat bersyukur. hahahahaha...
Setelah rapat ditutup, aku segera bergegas menyusul wida dan teman-teman divisi produksi ke Giri Asri. Ternya disana sedang ada pengambilan gambar untuk keperluan pembuatan video profil dari dinas pariwisata. Jadi sepertinya kegiatan riset belum bisa dijalankan hari ini dengan maksimal. Tapi sisi positifnya kami mendapat kenalan dari orang-orang dinas pariwisata dan mungkin sedikit bantuan untuk pameran nanti.
Malam harinya setelah shalat maghrib, kami berempat, aku ciprut, faizal dan bayu menghadiri acara yasinan yang diadakan RT 03. Jujur ini kali pertama aku mengikuti acara seperti ini mengingat di keluarga dan di daerahku tinggal tidak pernah mengadakan kegiatan ini. Menurutku juga, acara seperti ini sebenarnya tidak ada tuntunannya, tapi mungkin untuk sarana silaturahmi bagus juga.
Hmm..oh iya, sepertinya di hari keempat ini ada beberapa teman yang mulai bermasalah dengan pemilik pondokan. Hmm entahlah semoga tidak terus berlanjut. Dan oh iya lagi, aku hari ini sudah mendapat 2 buah program bantu. Yaitu membantu novita membuat poster dan membantu ochi membuat sarana TK berupa slogan. Baiklah mari kita tidur, hari ini kamar agak lebih longgar karena paul tidak balik ke pondokan setelah ada sedikit urusan di luar tadi sore.
Labels:
KKN
Rabu, 06 Juli 2011
KKN Unit 68 Day 3
Di hari ketiga ini agenda sub unit 2 tidaklah terlalu padat. Dimulai dengan bagun pukul 07.00, agenda kami dimulai dengan mengobrol bersama di teras rumah sambil ditemani secangkir teh dan kue lapis legit. Hmm bagiku ini sangat jarang dijumpai dirumah. Setelah sarapan siap kami segera bergegas ke ruang tengah untuk sarapan pagi.
Hari ini adalah jadwalku piket bersih-bersih. Karena Paul sudah ambil bagian menyapu halaman, maka bagianku adalah mencuci piring setelah makan. Giliranku adalah saat sarapan dan makan malam.
Selesai sarapan kami kembali lagi ke kamar masing-masing. Seperti hari-hari sebelumnya ciprut dan paul bermain catur bergantian dengan faizal dan bayu. Karena kamar mandi kosong, aku memutuskan untuk mandi.
Sebenarnya hari ini ada agenda kunjungan ke PAUD dan TK setempat. Tapi karena kata Ochi dan teman-teman lainya ini tidak wajib, aku memutuskan tidak ikut. Tapi sepertinya keputusanku untuk tidak ikut adalah salah. Tinggal di pondokan menunggui Ciprut dan Faizal main catur adalah pilihan yang membosankan. Beruntunglah tiba-tiba HP berdering. Ijem mengajakku ke Giri Asri untuk melihat dan mendokumentasikan proses pewarnaan batik.
Tanpa ragu-ragu aku mengiyakan ajakan Ijem. Setelah teman-teman dari sub unit 3 berdatangan menjemput, kami segera meluncur ke TKP. Karena mungkin ciprut juga bosan di pondokan, akhirnya dia ikut serta bersama kami. Di Giri Asri kami ditunjukkan bagaimana batik-batik tersebut diberi warna dan kami juga ditunjukkan bagaimana proses pembuatan ramuan pewarna alami. Berbekal kamera pinjaman dari H.O, aku mengambil beberapa gambar yang mungkin nanti akan berguna dalam pembuatan katalog batik.
Setelah dirasa cukup, kami memutuskan untuk kembali ke pondokan. Sampai di pondokan ternyata beberapa personil sub unit 2 lainnya yang tersisa tadi, ikut menyusul ke TK. Karena aku dan ciprut tidak membawa kunci kamar, akhirnya kami putuskan untuk menunggu di ayunan di depan rumah dekat mushola.
Sekitar pukul 15.00 aku pulang sebentar kerumah untuk mengambil tas kecilku yang berisi beberapa hal penting. Sesuai janjiku aku juga mengcopykan film Gara-gara Bendera untuk teman-teman yang lain yang katanya kemarin pengen liat. Saat aku kembali ke pondokan mereka langsung saja menonton film tersebut.
Agenda selanjutnya adalah rapat unit 68. Karena pondokan sub unit 2 paling memadai untuk tempat berkumpul. Maka seluruh Unit mengadakan rapat ditempat kami. Dalam rapat ini diadakan sharing hasil observasi tiap sub unit, penjelasan mengenai program dan pengisian K1, K2, K3 kemudian membahas tentang pameran batik yang akan dilaksanakan tanggal 1 Agustus nanti.
Dalam program pameran batik ini, dibentuklah sebuah panitia penyelenggara pameran. Dimana aku dipercaya sebagai koordinator divisi creative. Tugas divisi ini adalah merumuskan konsep acara, tema, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan desain visual. Sebuah pekerjaan yang cukup besar tapi juga cukup menantang.
Hari ini adalah jadwalku piket bersih-bersih. Karena Paul sudah ambil bagian menyapu halaman, maka bagianku adalah mencuci piring setelah makan. Giliranku adalah saat sarapan dan makan malam.
Selesai sarapan kami kembali lagi ke kamar masing-masing. Seperti hari-hari sebelumnya ciprut dan paul bermain catur bergantian dengan faizal dan bayu. Karena kamar mandi kosong, aku memutuskan untuk mandi.
Sebenarnya hari ini ada agenda kunjungan ke PAUD dan TK setempat. Tapi karena kata Ochi dan teman-teman lainya ini tidak wajib, aku memutuskan tidak ikut. Tapi sepertinya keputusanku untuk tidak ikut adalah salah. Tinggal di pondokan menunggui Ciprut dan Faizal main catur adalah pilihan yang membosankan. Beruntunglah tiba-tiba HP berdering. Ijem mengajakku ke Giri Asri untuk melihat dan mendokumentasikan proses pewarnaan batik.
Tanpa ragu-ragu aku mengiyakan ajakan Ijem. Setelah teman-teman dari sub unit 3 berdatangan menjemput, kami segera meluncur ke TKP. Karena mungkin ciprut juga bosan di pondokan, akhirnya dia ikut serta bersama kami. Di Giri Asri kami ditunjukkan bagaimana batik-batik tersebut diberi warna dan kami juga ditunjukkan bagaimana proses pembuatan ramuan pewarna alami. Berbekal kamera pinjaman dari H.O, aku mengambil beberapa gambar yang mungkin nanti akan berguna dalam pembuatan katalog batik.
Setelah dirasa cukup, kami memutuskan untuk kembali ke pondokan. Sampai di pondokan ternyata beberapa personil sub unit 2 lainnya yang tersisa tadi, ikut menyusul ke TK. Karena aku dan ciprut tidak membawa kunci kamar, akhirnya kami putuskan untuk menunggu di ayunan di depan rumah dekat mushola.
Sekitar pukul 15.00 aku pulang sebentar kerumah untuk mengambil tas kecilku yang berisi beberapa hal penting. Sesuai janjiku aku juga mengcopykan film Gara-gara Bendera untuk teman-teman yang lain yang katanya kemarin pengen liat. Saat aku kembali ke pondokan mereka langsung saja menonton film tersebut.
Agenda selanjutnya adalah rapat unit 68. Karena pondokan sub unit 2 paling memadai untuk tempat berkumpul. Maka seluruh Unit mengadakan rapat ditempat kami. Dalam rapat ini diadakan sharing hasil observasi tiap sub unit, penjelasan mengenai program dan pengisian K1, K2, K3 kemudian membahas tentang pameran batik yang akan dilaksanakan tanggal 1 Agustus nanti.
Dalam program pameran batik ini, dibentuklah sebuah panitia penyelenggara pameran. Dimana aku dipercaya sebagai koordinator divisi creative. Tugas divisi ini adalah merumuskan konsep acara, tema, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan desain visual. Sebuah pekerjaan yang cukup besar tapi juga cukup menantang.
Labels:
KKN
KKN Unit 68 Day 2
Agenda di hari kedua KKN Unit 68 adalah mengunjungi kelompok batik Giri Asri. Setelah sarapan dan mandi kami bersiap-siap untuk berkumpul di pondokan Sub Unit 1 di dusun Karangrejek. Sesuai instruksi dari Faisal saya dan rekan-rekan sub unit 3 berpakaian rapi mengenakan kemeja. Jam telah menunjukkan pukul 11 pagi, kami dari sub unit 3 bergegas berangkat ke pondokan sub unit 1.
Ternyata ketika sampai di sub unit 1, kami masih harus menunggu rekan-rekan dari sub unit 3 dahulu. Sambil menunggu semua personil yang mau ikut lengkap berkumpul, kami semua saling mengobrol dan bercanda tidak jelas. Obrolan semakin tidak jelas ketika saya bertanya masalah bau permen pada Rani dan mengomentari tingkah laku si Ijem yang takut ayam. Ada yang aneh dengan ayam di sub unit 1 dimana anak-anaknya bukan anak ayam melainkan anak-anak angsa. Kalau kami bilang itu ayam mungkin diperkosa Angsa, mungkin.
Setelah komplit semua berkumpul kami bergegas berangkat ke tempat perkumpulan pembatik Giri Asri. Lokasinya ternyata tidak jauh dari pondokan sub unit 1, disana kami memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tjuan program KKN kami. Takk lama kemudian pak kesra datang, sebagai pihak yang mengetahui betul permasalahan batik Giri Asri. Dari situlah kami mendapat banyak informasi tambahan yang berguna bagi program kami.
Sambil mendengarkan penjelasan dari pak kesra, bu mujilah memperlihatkan beberapa hasil batik yang mereka buat. Sekilas batik-batik tersebut mungkin kurang menarik jika dilihat dari warnanya. Tapi setelah diperhatikan lebih seksama, batik-batik tersebut memiliki ciri khas tersendiri, terutama karena bahan pewarnanya yang berasal dari bahan-bahan alami.
Setelah dirasa cukup, kami semua memutuskan untuk kembali ke pondokan masing-masing. Saat pulang ke pondokan ada beberapa teman sub unit 3 yang ingin mampir ke pondokan sub unit kami. Beberapa diantaranya ada Ijem dan Wida.
Malam harinya sekitar jam 19.30 kami melakukan kunjungan kerumah-rumah RT di dusun Mojolegi yang terdiri dari 6 RT, mulai dari RT 03 hingga RT 06. Sayangnya di RT 01 dan 02 kami tidak menemui Pak RT-nya karena sedang tidak dirumah. Yang menarik saat kunjungan RT ini adalah ketika berada di rumah pak RT 04 dan RT 06. Di RT 04 agak sedikit unik karena rumahnya benar—benar gelap gulita tanpa penerangan lampu listrik. Dirumah itu hanya ada satu penerangan menggunakan sentir atau lampu minyak yang sangat kecil. Kemudian di RT 06 yang letaknya diatas bukit, sehingga untuk kesana harus melawati jalan berliku dan naik turun, oh mungkin naik dan naik.
Selesai melakukan kunjungan ke beberapa RT, kami kembali ke pondokan dan mengadakan rapat sub unit. Mengingat orang-orang yang ada di sub unit 2, mungkin akan lebih tepat jika disebut bercanda dan tertawa diselingi dengan rapat. Ketika bu Jazim pemilik rumah pulang, sebentar kami mengobrol mengenai agenda kami yang akan mengumpulkan beberapa waarga untuk sosialisasi program. Disitu kami mendapat beberapa masukan yang cukup berharga. Dari obrolan dengan bu Jazim ini pula saya jadi tahu ternyata dia adalah teman Ibu, di sebuah perkumpulan pengusaha tanaman hias. Oalaaaaah dunia memang sempit.
Ternyata ketika sampai di sub unit 1, kami masih harus menunggu rekan-rekan dari sub unit 3 dahulu. Sambil menunggu semua personil yang mau ikut lengkap berkumpul, kami semua saling mengobrol dan bercanda tidak jelas. Obrolan semakin tidak jelas ketika saya bertanya masalah bau permen pada Rani dan mengomentari tingkah laku si Ijem yang takut ayam. Ada yang aneh dengan ayam di sub unit 1 dimana anak-anaknya bukan anak ayam melainkan anak-anak angsa. Kalau kami bilang itu ayam mungkin diperkosa Angsa, mungkin.
Setelah komplit semua berkumpul kami bergegas berangkat ke tempat perkumpulan pembatik Giri Asri. Lokasinya ternyata tidak jauh dari pondokan sub unit 1, disana kami memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tjuan program KKN kami. Takk lama kemudian pak kesra datang, sebagai pihak yang mengetahui betul permasalahan batik Giri Asri. Dari situlah kami mendapat banyak informasi tambahan yang berguna bagi program kami.
Sambil mendengarkan penjelasan dari pak kesra, bu mujilah memperlihatkan beberapa hasil batik yang mereka buat. Sekilas batik-batik tersebut mungkin kurang menarik jika dilihat dari warnanya. Tapi setelah diperhatikan lebih seksama, batik-batik tersebut memiliki ciri khas tersendiri, terutama karena bahan pewarnanya yang berasal dari bahan-bahan alami.
Setelah dirasa cukup, kami semua memutuskan untuk kembali ke pondokan masing-masing. Saat pulang ke pondokan ada beberapa teman sub unit 3 yang ingin mampir ke pondokan sub unit kami. Beberapa diantaranya ada Ijem dan Wida.
Malam harinya sekitar jam 19.30 kami melakukan kunjungan kerumah-rumah RT di dusun Mojolegi yang terdiri dari 6 RT, mulai dari RT 03 hingga RT 06. Sayangnya di RT 01 dan 02 kami tidak menemui Pak RT-nya karena sedang tidak dirumah. Yang menarik saat kunjungan RT ini adalah ketika berada di rumah pak RT 04 dan RT 06. Di RT 04 agak sedikit unik karena rumahnya benar—benar gelap gulita tanpa penerangan lampu listrik. Dirumah itu hanya ada satu penerangan menggunakan sentir atau lampu minyak yang sangat kecil. Kemudian di RT 06 yang letaknya diatas bukit, sehingga untuk kesana harus melawati jalan berliku dan naik turun, oh mungkin naik dan naik.
Selesai melakukan kunjungan ke beberapa RT, kami kembali ke pondokan dan mengadakan rapat sub unit. Mengingat orang-orang yang ada di sub unit 2, mungkin akan lebih tepat jika disebut bercanda dan tertawa diselingi dengan rapat. Ketika bu Jazim pemilik rumah pulang, sebentar kami mengobrol mengenai agenda kami yang akan mengumpulkan beberapa waarga untuk sosialisasi program. Disitu kami mendapat beberapa masukan yang cukup berharga. Dari obrolan dengan bu Jazim ini pula saya jadi tahu ternyata dia adalah teman Ibu, di sebuah perkumpulan pengusaha tanaman hias. Oalaaaaah dunia memang sempit.
Labels:
KKN
Senin, 13 Juni 2011
Tips Hemat BBM di Kala Bokek!
Sebuah project bersama teman-teman "Lontong Balap". Video ini dibuat dalam rangka untuk diikutkan dalam kompetisi Goodyear Creativideo. Jadi dalam Goodyear Creativideo tersebut mengangkat tema cara unik menghemat BBM. Berdasarkan brainstorming dengan teman-teman kami kemudian menterjemahkannya dalam sebuah cerita keseharian seorang pemuda bernama Mamat.
Akhir bulan tiba, dompetpun menipis. Sayangnya Mamat merencanakan sebuah kencan bersama pujaan hati pada tanggal 30. Demi tercapainya cita-cita tersebut, Mamat melakukan beberapa tips menghemat BBM di kala bokek. Cerita simple tersebut kemudian dibumbui dengan cerita-cerita dan insight yang biasa terjadi sehari-hari, yang kemudian dikemas dengan adegan-adegan lucu.
"Tips Hemat BBM di Kala Bokek!"
Talent: Aswin Mustafidz, Dian EP, Nur Arief Hidayat, Doni Darmasetiadi, Matahari Asysyakuur, Bisma Hakim, Bian Devina, Annisa Ika Tiwi, Hawwin Barri Falachi, Nur Ariyatno
Director: Cahya Purusatama
DOP: Cahya Purusatama
Editor: Angga Prawadika Aji
Visual Effect: Nur Arief Hidayat
Labels:
Motion Graphic,
Video
Selasa, 31 Mei 2011
Thanks 31 Hari Menulis
Hari ini Selasa, 31 Mei 2011 adalah hari terakhir dari sebuah gerakan 31 Hari Menulis. Sebuah gerakan yang dicetuskan oleh seorang Ardi Wilda yang sekaligus senior saya di komunikasi UGM. Dalam 31 Hari Menulis, seluruh peserta diwajibkan menulis minimal 1 postingan di blog atau facebooknya. Jika tidak bisa memenuhi kewajiban tersebut peserta akan dikenai denda sebesar Rp 20.000 per postingan per hari.
Awalnya ketika diajak mengikuti gerakan ini agak ragu-ragu, karena saya tergolong malas kalu disuruh untuk menulis. Tapi dengan sedikit bujuk rayu dari Awe, membuat saya jadi termotivasi untuk ikut. Motivasi saya mengikuti 31 Hari menulis adalah berusaha membiasakan diri menulis, selain itu saya juga ingin menjawab tantangan dari awe. Toh apa susahnya, apalagi isinya tidak dibatasi kualitasnya, mungkin ini menggunakan prinsip "Tulis Saja, Kapan Lagi?". Selain itu akumulasi dari denda peserta yang tidak menulis akan diberkan pada pemenangnya, lumayan bukan jika dapat hadiahnya.
Sampai detik ini denda yang telah terkumpul telah mencapai lebih dari satu juta rupiah. Fantastis bukan? tapi sepertinya saya belum menjadi blogger tersangar. Jadi ya harapan untuk mendapat hadiah sepertinya sangat kecil. Tapi setidaknya ketika postingan ini berhasil di post, saya resmi 100% tidak pernah kena denda.
Meski mungkin nanti saya tidak mendapat hadiah, tapi setidaknya saya telah mendapat beberapa manfaat dari 31 Hari Menulis. Manfaat pertama setidaknya saya telah berhasil mebiasakan diri untuk menulis setiap harinya. Manfaat lainnya saya jadi lebih bisa berbagi tentang ide-ide, pengalaman, pemikiran dan curhat saya setiap harinya, meski sepetinya tidak bermutu. Tapi bukankah lebih baik di share daripada dipendam dalam otak dan hati? hehehe...semoga saja meski 31 hari menulis berakhir, saya tetap bisa terus menulis setiap harinya dan terus meningkatkan kualitas tulisan saya. Thanks, 31 Hari Menulis :)
Awalnya ketika diajak mengikuti gerakan ini agak ragu-ragu, karena saya tergolong malas kalu disuruh untuk menulis. Tapi dengan sedikit bujuk rayu dari Awe, membuat saya jadi termotivasi untuk ikut. Motivasi saya mengikuti 31 Hari menulis adalah berusaha membiasakan diri menulis, selain itu saya juga ingin menjawab tantangan dari awe. Toh apa susahnya, apalagi isinya tidak dibatasi kualitasnya, mungkin ini menggunakan prinsip "Tulis Saja, Kapan Lagi?". Selain itu akumulasi dari denda peserta yang tidak menulis akan diberkan pada pemenangnya, lumayan bukan jika dapat hadiahnya.
Sampai detik ini denda yang telah terkumpul telah mencapai lebih dari satu juta rupiah. Fantastis bukan? tapi sepertinya saya belum menjadi blogger tersangar. Jadi ya harapan untuk mendapat hadiah sepertinya sangat kecil. Tapi setidaknya ketika postingan ini berhasil di post, saya resmi 100% tidak pernah kena denda.
Meski mungkin nanti saya tidak mendapat hadiah, tapi setidaknya saya telah mendapat beberapa manfaat dari 31 Hari Menulis. Manfaat pertama setidaknya saya telah berhasil mebiasakan diri untuk menulis setiap harinya. Manfaat lainnya saya jadi lebih bisa berbagi tentang ide-ide, pengalaman, pemikiran dan curhat saya setiap harinya, meski sepetinya tidak bermutu. Tapi bukankah lebih baik di share daripada dipendam dalam otak dan hati? hehehe...semoga saja meski 31 hari menulis berakhir, saya tetap bisa terus menulis setiap harinya dan terus meningkatkan kualitas tulisan saya. Thanks, 31 Hari Menulis :)
Labels:
#31harimenulis
Senin, 30 Mei 2011
Galau Akademik Yang Tercerahkan
Hari ini saya menghadiri sebuah seminar yang mendiskusikan salah satu kewajiban atau mungkin lebih enaknya disebut suatu tahapan yang pasti dilalui oleh mahasiswa S1. Seminar itu bernama Merangkai Sebuah Masterpiece. Sebuah seminar yang dihelat oleh Korps Mahasiswa Komunikasi UGM, yang mencoba menjawab kegalauan mahasiswa angkatan 2008, yang sebentar lagi sudah diperbolehkan untuk memulai merangkai skripsi.
Dalam seminar ini dibicarakan bagaimana sistematika dan alur ketika menjalani tahapan atau masa skripsi. Mulai dari mengajukan form 1, bab 1, form 4 hingga akhirnya ujian skripsi. Kemudian dipaparkan juga tema-tema yang sudah sering diajukan dan tema-tema yang masih jarang, sebagai tips memperbesar peluang diterimanya form 1. Untuk bagian ini mungkin terasa cukup rumit dan membosankan tapi jujur ini cukup mencerahkan. Disinilah saya mulai paham bagaimana skripsi itu sebenarnya.
Pada sesi selanjutnya kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 orang. Disini kami diminta membuat semacam gambaran tema yang mungkin ingin dijadikan tema dan judul skripsi. Di sesi saya menyerah. Benar-benar blank kalau disuruh mikir judul skripsi macam ini. Tapi karena semua pada bikin, yasudahlah akhirnya dicoba-coba meski sepertinya wagu banget hahahaha.
Di sesi terakhir adalah sesi sharing dengan tiga orang senior yang telah lulus beberapa waktu yang lalu. Dua diantaranya adalah mantan mahasiswa yang berhasil melalui tahap skripsi dengan sangat cepat dan seorang mantan mahasiswa yang tidak terhitung tidak cepat skripsinya tapi bisa lulus tepat waktu. Haha entah kenapa saya tidak heran salah satu mantan mahasiswa yang diundang adalah Awe, meski dalam tulisan yang dia bawa dia mengklaim dirinya tidak cocok dijadikan pembicara, tapi menurut saya dia sangat pantas. Memang tidak pantas jika diundang untuk memberi tips bagaimana skripsi dan lulus cepat, tapi dia sangat tepat dijadikan inspirasi bagi mahasiswa yang masih ingin melakukan sesuatu sebelum memikirkan skripsi.
Jadi salahkanlah para pembuat seminar skripsi ini jika suatu saat nanti ada yang protes kenapa saya tidak cepat-cepat menulis skripsi hehehe. Untuk yang terakhir mungkin agak bercanda, karena memang bagaimana mungkin saya akan mengambil skripsi semester depan jika masih ada mata kuliah yang belum saya ambil. Tapi saya setuju dengan apa yang dikatakan mbak Pulung soal skripsi, bahwa skripsi itu masalah momentum, skripsi itu seperti orang yang kebelet e*k, akan sangat sulit rasanya jika dipaksakan ketika belum waktunya ingin menulis skripsi. Ditambah lagi apa yang dikatakan Awe tadi dan waktu di Kindai beberapa minggu yang lalu, "puas-puasin dulu lah jadi mahasiswa, masih banyak hal yang bisa dilakukan saat jadi mahasiswa". Saya paham maksud dari kata-kata itu. Bukan hanya masalah sebuah karya atau hal nyata apa yang telah saya lakukan ketika masih menjadi mahasiswa tapi juga sudah siapkah dengan konsekuensi yang akan datang ketika skripsimu selesai?. Karena masalah kehidupan jauh lebih rumit dari sekedar menulis skripsi.
Entah tujuan apa yang ditulis para panitia seminar ini ketika mengajukan proposal. Jika tujuannya adalah agar mahasiswa menjadi tercerahkan bahwa skripsi itu bukan hal yang begitu menakutkan seperti yang selama ini dibayangkan, sehingga dapat segera menulis skripsi dengan cepat. Hmm.. tunggu dulu, tercerahkan dan tidak setakut dulu lagi mungkin iya, tapi kemudian menjadikan saya bersegera menulis skripsi, mungkin tidak. Justru karena sekarang menjadi semakin tahu bahwa skripsi tak semenakutkan yang dibayangkan, justru saya semakin yakin bahwa saya masih ingin melakukkan banyak hal sebelum lulus. Seperti yang dikatakan mbak Pulung, skripsi itu masalah individu masing-masing, apa lantas temanmu sudah nikah kamu juga akan menikah detik itu juga? apa ketika temanmu punya anak, kamu juga harus punya anak detik itu juga? Dan untungnya lingkungan pertemanan saya juga sepemikiran, bahwa mereka juga masih ingin berbuat banyak mumpung masih mahasiswa dan bukan orang-orang yang mendewakan sebuah hasil akhir.
*mungkin skripsi memang masalah pribadi masing-masing, tapi menurutku kuliah tetap akan sangat berat jika dijalani sendirian, dan sepertinya saya memang tidak bisa ^^
Dalam seminar ini dibicarakan bagaimana sistematika dan alur ketika menjalani tahapan atau masa skripsi. Mulai dari mengajukan form 1, bab 1, form 4 hingga akhirnya ujian skripsi. Kemudian dipaparkan juga tema-tema yang sudah sering diajukan dan tema-tema yang masih jarang, sebagai tips memperbesar peluang diterimanya form 1. Untuk bagian ini mungkin terasa cukup rumit dan membosankan tapi jujur ini cukup mencerahkan. Disinilah saya mulai paham bagaimana skripsi itu sebenarnya.
Pada sesi selanjutnya kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 orang. Disini kami diminta membuat semacam gambaran tema yang mungkin ingin dijadikan tema dan judul skripsi. Di sesi saya menyerah. Benar-benar blank kalau disuruh mikir judul skripsi macam ini. Tapi karena semua pada bikin, yasudahlah akhirnya dicoba-coba meski sepertinya wagu banget hahahaha.
Di sesi terakhir adalah sesi sharing dengan tiga orang senior yang telah lulus beberapa waktu yang lalu. Dua diantaranya adalah mantan mahasiswa yang berhasil melalui tahap skripsi dengan sangat cepat dan seorang mantan mahasiswa yang tidak terhitung tidak cepat skripsinya tapi bisa lulus tepat waktu. Haha entah kenapa saya tidak heran salah satu mantan mahasiswa yang diundang adalah Awe, meski dalam tulisan yang dia bawa dia mengklaim dirinya tidak cocok dijadikan pembicara, tapi menurut saya dia sangat pantas. Memang tidak pantas jika diundang untuk memberi tips bagaimana skripsi dan lulus cepat, tapi dia sangat tepat dijadikan inspirasi bagi mahasiswa yang masih ingin melakukan sesuatu sebelum memikirkan skripsi.
Jadi salahkanlah para pembuat seminar skripsi ini jika suatu saat nanti ada yang protes kenapa saya tidak cepat-cepat menulis skripsi hehehe. Untuk yang terakhir mungkin agak bercanda, karena memang bagaimana mungkin saya akan mengambil skripsi semester depan jika masih ada mata kuliah yang belum saya ambil. Tapi saya setuju dengan apa yang dikatakan mbak Pulung soal skripsi, bahwa skripsi itu masalah momentum, skripsi itu seperti orang yang kebelet e*k, akan sangat sulit rasanya jika dipaksakan ketika belum waktunya ingin menulis skripsi. Ditambah lagi apa yang dikatakan Awe tadi dan waktu di Kindai beberapa minggu yang lalu, "puas-puasin dulu lah jadi mahasiswa, masih banyak hal yang bisa dilakukan saat jadi mahasiswa". Saya paham maksud dari kata-kata itu. Bukan hanya masalah sebuah karya atau hal nyata apa yang telah saya lakukan ketika masih menjadi mahasiswa tapi juga sudah siapkah dengan konsekuensi yang akan datang ketika skripsimu selesai?. Karena masalah kehidupan jauh lebih rumit dari sekedar menulis skripsi.
Entah tujuan apa yang ditulis para panitia seminar ini ketika mengajukan proposal. Jika tujuannya adalah agar mahasiswa menjadi tercerahkan bahwa skripsi itu bukan hal yang begitu menakutkan seperti yang selama ini dibayangkan, sehingga dapat segera menulis skripsi dengan cepat. Hmm.. tunggu dulu, tercerahkan dan tidak setakut dulu lagi mungkin iya, tapi kemudian menjadikan saya bersegera menulis skripsi, mungkin tidak. Justru karena sekarang menjadi semakin tahu bahwa skripsi tak semenakutkan yang dibayangkan, justru saya semakin yakin bahwa saya masih ingin melakukkan banyak hal sebelum lulus. Seperti yang dikatakan mbak Pulung, skripsi itu masalah individu masing-masing, apa lantas temanmu sudah nikah kamu juga akan menikah detik itu juga? apa ketika temanmu punya anak, kamu juga harus punya anak detik itu juga? Dan untungnya lingkungan pertemanan saya juga sepemikiran, bahwa mereka juga masih ingin berbuat banyak mumpung masih mahasiswa dan bukan orang-orang yang mendewakan sebuah hasil akhir.
*mungkin skripsi memang masalah pribadi masing-masing, tapi menurutku kuliah tetap akan sangat berat jika dijalani sendirian, dan sepertinya saya memang tidak bisa ^^
Labels:
#31harimenulis,
kuliah,
sharing
Minggu, 29 Mei 2011
Swiss Legacy
Pada postingan kali ini say ingin berbagi tentang temuan saya hari ini. Karena akhir-akhir ini saya semakin mencintai Swiss Style Design, maka apa yang saya share kali ini juga tidak jauh-jauh dari swiss style design. Nah, kali ini saya sedikit berbagi tentang referensi swiss style design, yaitu Swiss Legacy.
Sebuah blog milik Xavier Encinas yang didalamnya berisi segala hal yang berbau Swiss Style Design dan Graphic Design pada umumnya. Ada sekitar 26 kategori dalam blog ini, diantaranya membahas buku, helvetica, inspiration, magazine, poster, swiss heritage, video, typography, dan masih banyak lagi. Jadi jika ingin mencari inspirasi dan materi untuk belajar tentang Swiss Style Design atau Typography, blog ini saya rasa sangat bermanfaat sekali.
The Alphabet from n9ve on Vimeo.
Sebuah blog milik Xavier Encinas yang didalamnya berisi segala hal yang berbau Swiss Style Design dan Graphic Design pada umumnya. Ada sekitar 26 kategori dalam blog ini, diantaranya membahas buku, helvetica, inspiration, magazine, poster, swiss heritage, video, typography, dan masih banyak lagi. Jadi jika ingin mencari inspirasi dan materi untuk belajar tentang Swiss Style Design atau Typography, blog ini saya rasa sangat bermanfaat sekali.
The Alphabet from n9ve on Vimeo.
Labels:
#31harimenulis,
Desain,
sharing,
Swiss Style
Sabtu, 28 Mei 2011
Simplicity, Clarity, Modern. It's Swiss Style Graphic Design
Beberapa hari yang lalu saya telah menulis sebuah postingan tentang ketertarikan saya pada suatu gaya desain typo art. Semalam ketika menjelajahi dunia maya, saya baru mengetahui kalau gaya tersebut bernama Swiss Style Graphic Design. mungkin dalam postingan kali ini sya ingin sedikit berbagi apa yang saya dapat semalam tentang Swiss Style Design.
Swiss Style juga dikenal sebagai International Style. Meski namanya Swiss style, bukan berarti gaya ini ditemukan di Swiss, hanya saja gaya ini menjadi populer di dunia seni karena seorang graphic designer asal Swiss. Gaya ini pertama kali diperkenalkan di Rusia,Jerman dan Belanda sekitar tahun 1920an. Dan kemudian menjadi semakin populer dan juga dikenal dengan International Style ketika banyak digunakan diberbagai belahan dunia pada tahun 1950an. Dalam Swiss Style keindahan adalah salah satu cara mencapai simplicity dan bukannya keindahan sebagai sebuah tujuan.
Dalam Swiss Style tipografi menjadi elemen utama dalam gaya desain ini. Kunci dari permainan tipografi disini berada pada ukuran font dan kesatuan layoutnya dengan elemen lain seperti warna dan bentuk-bentuk dasar.Font yang sering dipakai dalam swiss style biasanya adalah font keluarga sans serif (tanpa kait) seperti Helvetica yang merupakan salah satu font legendaris. Meski tidak menutup kemungkinan penggunaan font-font serif sebagai elemen dalam gaya desain ini. Dan dalam gaya ini juga sering mempermainkan white space, karena white space dapat memberikan ruang untuk "bernafas" yang juga mempengaruhi tingkat keterbacaan.
Menurut saya ini adalah gaya desain terkeren diantara gaya desain yang lain. Ya, mungkin ini sangat subjektif tapi ada juga alasan objektif yang menurut saya semua orang juga setuju. Gaya desain ini menurut saya sangat eye cathcing atau menarik perhatian. Bayangkan saja ketika sebuah poster dengan swiss style berada di papan pengumuman yang rata-rata standar menampilkan poster dengan foto-foto, banyak tulisan, oranamen sulur-sulur, pasti otomatis mata akan mengarah pada poster dengan swiss style tersebut. Selain itu, swiss style tidak menuntut teknik editing tingkat dewa karena simplicity adalah kunci dari desain ini. Tapi bukan berarti ini gaya yang mudah, tetap saja dibutuhkan sense untuk merangkai font, shape, dan warna agar menjadi satu kesatuan.
Swiss Style juga dikenal sebagai International Style. Meski namanya Swiss style, bukan berarti gaya ini ditemukan di Swiss, hanya saja gaya ini menjadi populer di dunia seni karena seorang graphic designer asal Swiss. Gaya ini pertama kali diperkenalkan di Rusia,Jerman dan Belanda sekitar tahun 1920an. Dan kemudian menjadi semakin populer dan juga dikenal dengan International Style ketika banyak digunakan diberbagai belahan dunia pada tahun 1950an. Dalam Swiss Style keindahan adalah salah satu cara mencapai simplicity dan bukannya keindahan sebagai sebuah tujuan.
Dalam Swiss Style tipografi menjadi elemen utama dalam gaya desain ini. Kunci dari permainan tipografi disini berada pada ukuran font dan kesatuan layoutnya dengan elemen lain seperti warna dan bentuk-bentuk dasar.Font yang sering dipakai dalam swiss style biasanya adalah font keluarga sans serif (tanpa kait) seperti Helvetica yang merupakan salah satu font legendaris. Meski tidak menutup kemungkinan penggunaan font-font serif sebagai elemen dalam gaya desain ini. Dan dalam gaya ini juga sering mempermainkan white space, karena white space dapat memberikan ruang untuk "bernafas" yang juga mempengaruhi tingkat keterbacaan.
Menurut saya ini adalah gaya desain terkeren diantara gaya desain yang lain. Ya, mungkin ini sangat subjektif tapi ada juga alasan objektif yang menurut saya semua orang juga setuju. Gaya desain ini menurut saya sangat eye cathcing atau menarik perhatian. Bayangkan saja ketika sebuah poster dengan swiss style berada di papan pengumuman yang rata-rata standar menampilkan poster dengan foto-foto, banyak tulisan, oranamen sulur-sulur, pasti otomatis mata akan mengarah pada poster dengan swiss style tersebut. Selain itu, swiss style tidak menuntut teknik editing tingkat dewa karena simplicity adalah kunci dari desain ini. Tapi bukan berarti ini gaya yang mudah, tetap saja dibutuhkan sense untuk merangkai font, shape, dan warna agar menjadi satu kesatuan.
Labels:
#31harimenulis,
Desain,
sharing
Jumat, 27 Mei 2011
Acara Jumatan itu Bernama PPC Day
Semua anak komunikasi UGM yang aktif dalam Publicia Photo Club (PPC) pasti tahu sebuah acara yang dihelat setiap jumat malam di Bunderan UGM. PPC Day, ya itulah sebutan untuk sebuah acara yang rutin dihelat oleh anak-anak PPC. Sebuah acara yang menjadi ajang berkumpulnya semua angkatan anak-anak komunikasi UGM yang tergabung dalam PPC. Tak ada agenda dalam acara tersebut, di PPC day kita membicarakan semua hal kecuali masalah kuliah (sepertinya ini diharamkan).Entah bagaimana sejarahnya dulu bisa dinamakan PPC Day, padahal acaranya malam.
Pertama kali ikut PPC Day agak canggung rasanya, karena belum terbiasa ngobrol dengan angkatan atas dan masih agak roaming dengan obrolannya, tapi lama kelamaan mulai terbiasa. Masih ingat ketika awal-awal ikut PPC Day dari angkatan 2008 ada Diani, Diaz, Pipit, Angga, mole, dan "kau tahu lah". Ramai sekali kelihatannya tapi semuanya pada diam menyimak obrolan para senior hahahaha.
Oh iya di PPC Day juga ada sebuah cerita lucu ketika Diani dan Aldi baru jadian. Semuah peserta PPC Day yang malam itu hadir wajib mengintrogasi pengantin baru di komunikasi waktu itu. Jadi geli sendiri ketika ingat bagaimana Diani dan Aldi menjawab dengan malu-malunya, ihhiiiiy.. :D
Di kepemimpinan Intan, PPC Day juga pernah menjadi ajang curhat para peserta yang hadir. Jadi semua yang hadir wajib menceritakan kisah cintanya di depan forum. Sayangnya (dan untungnya) waktu itu yang hadir tidak terlalu banyak, kalau tidak salah waktu itu yang hadir ada Aku, Intan, Cahya, Ijah, Efan, Lisa dan siapa lagi aku lupa. Hahaha..jadi ceritanya waktu itu Intan yang galau sedan mencari teman galau, maka sejak saat itu PPC juga berarti Publicia Persi (versi) Curhat.
Sebenarnya banyak hal yang didapat dan tak bisa disebutkan satu-persatu ketika berkumpul bersama dalam PPC Day. Sungguh disayangkan semakin kesini PPC Day semakin sepi dan hanya dihadiri ketua dan para pengurusnya saja. Berbagai alasan menjadi penghambat kehadiran teman-teman untuk menghadiri PPC Day. Ya memang tidak bisa disalahkan juga sebenarnya. Sepertinya angkatan 2008 menanggung beban moral yang cukup besar ketika semua tradisi di komunikasi satu persatu hilang ketika 2008 mulai memegang "tongkat estafet", tapi ya lagi-lagi kita tak bisa menyalahkan juga, karena banyak faktor yang mungkin membuat mereka tidak bisa memilih. Ketika tulisan ini dibuat pun aku sebenarnya merasa menyesal karena tidak bisa ikut hadir dalam PPC Day terakhirnya Cahya yang minggu depat lengser. Ya, aku hanya berharap pada siapapun yang nantinya meneruskan, semoga bisa meningkatkan semua kebaikan yang pernaha dicapai atau setidaknya mempertahankannya.
Pertama kali ikut PPC Day agak canggung rasanya, karena belum terbiasa ngobrol dengan angkatan atas dan masih agak roaming dengan obrolannya, tapi lama kelamaan mulai terbiasa. Masih ingat ketika awal-awal ikut PPC Day dari angkatan 2008 ada Diani, Diaz, Pipit, Angga, mole, dan "kau tahu lah". Ramai sekali kelihatannya tapi semuanya pada diam menyimak obrolan para senior hahahaha.
Oh iya di PPC Day juga ada sebuah cerita lucu ketika Diani dan Aldi baru jadian. Semuah peserta PPC Day yang malam itu hadir wajib mengintrogasi pengantin baru di komunikasi waktu itu. Jadi geli sendiri ketika ingat bagaimana Diani dan Aldi menjawab dengan malu-malunya, ihhiiiiy.. :D
Di kepemimpinan Intan, PPC Day juga pernah menjadi ajang curhat para peserta yang hadir. Jadi semua yang hadir wajib menceritakan kisah cintanya di depan forum. Sayangnya (dan untungnya) waktu itu yang hadir tidak terlalu banyak, kalau tidak salah waktu itu yang hadir ada Aku, Intan, Cahya, Ijah, Efan, Lisa dan siapa lagi aku lupa. Hahaha..jadi ceritanya waktu itu Intan yang galau sedan mencari teman galau, maka sejak saat itu PPC juga berarti Publicia Persi (versi) Curhat.
Sebenarnya banyak hal yang didapat dan tak bisa disebutkan satu-persatu ketika berkumpul bersama dalam PPC Day. Sungguh disayangkan semakin kesini PPC Day semakin sepi dan hanya dihadiri ketua dan para pengurusnya saja. Berbagai alasan menjadi penghambat kehadiran teman-teman untuk menghadiri PPC Day. Ya memang tidak bisa disalahkan juga sebenarnya. Sepertinya angkatan 2008 menanggung beban moral yang cukup besar ketika semua tradisi di komunikasi satu persatu hilang ketika 2008 mulai memegang "tongkat estafet", tapi ya lagi-lagi kita tak bisa menyalahkan juga, karena banyak faktor yang mungkin membuat mereka tidak bisa memilih. Ketika tulisan ini dibuat pun aku sebenarnya merasa menyesal karena tidak bisa ikut hadir dalam PPC Day terakhirnya Cahya yang minggu depat lengser. Ya, aku hanya berharap pada siapapun yang nantinya meneruskan, semoga bisa meningkatkan semua kebaikan yang pernaha dicapai atau setidaknya mempertahankannya.
Labels:
#31harimenulis,
PPC,
sharing
Kamis, 26 Mei 2011
Jatuh Cinta Pada Typo Art
Hampir satu tahun belakangan ini karya-karya saya dalam desain grafis selalu terpengaruh pada suatu aliran dalam dunia desain grafis yang bernama Typo Art atau Typographic Desain. Ya, harus diakui sepertinya saya semakin jatuh cinta dengan typo art. Typo Art adalah salah satu aliran dalam dunia desain grafis yang menjadikan huruf/font sebagai elemen utama dalam sebuah artworks. Mari kita ingat-ingat bagaimana awal mulanya sehingga saya bisa jatuh cinta dengan aliran ini, hmmmm..baiklah saya lupa, jadi mari kita sedikit bercerita bagaimana awalnya saya belajar desain grafis.
Mungkin ini adalah tahun ke-2 saya belajar sekaligus mengaplikasikan desain grafis dalam kehidupan sehari-hari, dan mungkin ini mungkin tahun ke-7 sejak pertama kali saya mulai menyentuh software-software desain grafis khususnya Adobe Photoshop. Ya, saya pertama kali mengenal photoshop waktu kelas 2 SMP dimana saat itu saya baru saja dibelikan komputer yang pada saat itu mungkin terhebat ke-2 di SMP saya. Dalam komputer itu sejak pertama kali dinyalakan dirumah saya, sudah diinstal berbagai macam software desain grafis, video editing dan beberapa game. Masih ingat ketika pertama kali dinyalakan saya langsung diajarkan bagaimana menggunakan ulead studio, autocad, dan photoshop. Untuk yang terakhir mungkin saya tidak diajari tapi mencoba sendiri (bangga). Tapi tak bertahan hingga sebulan, saya kemudian melupakan software-software tersebut karena tidak ada teman belajar dan beralih bermain game karena teman saya yang bernama Doni sering sekali meminjami saya CD Game koleksinya.
Keinginan saya untuk belajar desain grafis mulai muncul kembali ketika masuk kuliah di jurusan ilmu komunikasi. Waktu itu saya sedikit iri setelah dipameri Angga beberapa karya desain grafisnya, ketika awal perkenalan. Sejak saat itu saya mulai tergerak untuk membuka kembali photoshop saya, dan mulai belajar. Lagi-lagi karena sifat tidak telaten yang saya miliki membuat saya kembali bosan. Namun saya belum sepenuhnya meninggalkan photoshop, karena waktu itu saya cukup aktif dalam Publicia Photo Club (PPC), saya tetap menggunakan photoshop untuk mengedit foto. Baru keadaan mulai berubah ketika saya resmi menjadi anggota komako dan menginjak semster 3, ada matakuliah DKV, disinilah keadaan memaksa saya untuk menjadi bisa desain grafis atau setidaknya bisa menggunakan photoshop untuk menhasilkan sesuatu. Terlebih lagi sepertinya desain grafis bisa menjadi pendukung bahkan senjata utama ilmu yang saya pelajari di jurusan ilmu komunikasi.
Beberapa gaya desain grafis pernah saya coba, salah satunya mungkin gaya desain yang sempat menjadi ciri khas desain karya Angga sebelum teracuni mata kuliah periklanan. Tapi mungkin saya belum pernah mencoba gaya desain yang biasa digunakan Matahari, mungkin karena pemikiran saya yang tidak pernah sampai ke alam pikirannya yang sangar. Lagi-lagi karena saya orangnya tidak telaten, beberapa gaya desain kemudian menjadi tidak cocok karena membutuhkan teknik yang cukup tinggi, seperti gaya desainnya Angga. Sambil terus belajar, akhirnya saya menemukan sebuah gaya desain yang tidak selalu membutuhkan teknik tingkat tinggi, gaya itu adalah typo art. Selain karena alasan teknis, ada banyak alasan lain mengapa saya mulai dan semakin jatuh cinta dengan aliran ini.
Typo art menurut saya adalah gaya desain yang memiliki kesan simple, bersih, jelas, modern namun tetap bermakna dan bisa menyampaikan pesan. Seperti yang kita tahu, terlepas dari kemampuannya membentuk sebuah makna ketika dirangkai dalam kata dan kalimat, sebuah fot itu sendiri sudah memiliki makna dan kesan dari desain typografinya. Dan akan semakin bermakna ketika menjadi suatu elemen dalam sebuah desain. Meski cenderung lebih mudah, bukan berarti aliran ini mudah, pemilihan font dan layout yang tidak tepat, akan mengganggu makna atau pesan yang ingin disampaikan.
Kaiser Permanente Case Study (full version) from Nicole Novak on Vimeo.
WinningQuote - Typography from D-sign on Vimeo.
typographic desain dalam bentuk video
Seperti yang saya katakan di awal tadi, sepertinya saya memang mulai dan semakin jatuh cinta dengan typographic desain atau typo art. Aliran ini sudah cukup mempengaruhi cara berpikir saya dalam merancang sebuah karya desain grafis. Dari sini lah timbul keinginan untuk semakin mendalami aliran ini. Dan sejauh ini sepertinya aliran ini masih sangat jarang di populerkan di jogja khususnya.
| poster typographic |
![]() |
| keren juga kalau jadi iklan |
Mungkin ini adalah tahun ke-2 saya belajar sekaligus mengaplikasikan desain grafis dalam kehidupan sehari-hari, dan mungkin ini mungkin tahun ke-7 sejak pertama kali saya mulai menyentuh software-software desain grafis khususnya Adobe Photoshop. Ya, saya pertama kali mengenal photoshop waktu kelas 2 SMP dimana saat itu saya baru saja dibelikan komputer yang pada saat itu mungkin terhebat ke-2 di SMP saya. Dalam komputer itu sejak pertama kali dinyalakan dirumah saya, sudah diinstal berbagai macam software desain grafis, video editing dan beberapa game. Masih ingat ketika pertama kali dinyalakan saya langsung diajarkan bagaimana menggunakan ulead studio, autocad, dan photoshop. Untuk yang terakhir mungkin saya tidak diajari tapi mencoba sendiri (bangga). Tapi tak bertahan hingga sebulan, saya kemudian melupakan software-software tersebut karena tidak ada teman belajar dan beralih bermain game karena teman saya yang bernama Doni sering sekali meminjami saya CD Game koleksinya.
Keinginan saya untuk belajar desain grafis mulai muncul kembali ketika masuk kuliah di jurusan ilmu komunikasi. Waktu itu saya sedikit iri setelah dipameri Angga beberapa karya desain grafisnya, ketika awal perkenalan. Sejak saat itu saya mulai tergerak untuk membuka kembali photoshop saya, dan mulai belajar. Lagi-lagi karena sifat tidak telaten yang saya miliki membuat saya kembali bosan. Namun saya belum sepenuhnya meninggalkan photoshop, karena waktu itu saya cukup aktif dalam Publicia Photo Club (PPC), saya tetap menggunakan photoshop untuk mengedit foto. Baru keadaan mulai berubah ketika saya resmi menjadi anggota komako dan menginjak semster 3, ada matakuliah DKV, disinilah keadaan memaksa saya untuk menjadi bisa desain grafis atau setidaknya bisa menggunakan photoshop untuk menhasilkan sesuatu. Terlebih lagi sepertinya desain grafis bisa menjadi pendukung bahkan senjata utama ilmu yang saya pelajari di jurusan ilmu komunikasi.
Beberapa gaya desain grafis pernah saya coba, salah satunya mungkin gaya desain yang sempat menjadi ciri khas desain karya Angga sebelum teracuni mata kuliah periklanan. Tapi mungkin saya belum pernah mencoba gaya desain yang biasa digunakan Matahari, mungkin karena pemikiran saya yang tidak pernah sampai ke alam pikirannya yang sangar. Lagi-lagi karena saya orangnya tidak telaten, beberapa gaya desain kemudian menjadi tidak cocok karena membutuhkan teknik yang cukup tinggi, seperti gaya desainnya Angga. Sambil terus belajar, akhirnya saya menemukan sebuah gaya desain yang tidak selalu membutuhkan teknik tingkat tinggi, gaya itu adalah typo art. Selain karena alasan teknis, ada banyak alasan lain mengapa saya mulai dan semakin jatuh cinta dengan aliran ini.
Typo art menurut saya adalah gaya desain yang memiliki kesan simple, bersih, jelas, modern namun tetap bermakna dan bisa menyampaikan pesan. Seperti yang kita tahu, terlepas dari kemampuannya membentuk sebuah makna ketika dirangkai dalam kata dan kalimat, sebuah fot itu sendiri sudah memiliki makna dan kesan dari desain typografinya. Dan akan semakin bermakna ketika menjadi suatu elemen dalam sebuah desain. Meski cenderung lebih mudah, bukan berarti aliran ini mudah, pemilihan font dan layout yang tidak tepat, akan mengganggu makna atau pesan yang ingin disampaikan.
Kaiser Permanente Case Study (full version) from Nicole Novak on Vimeo.
WinningQuote - Typography from D-sign on Vimeo.
typographic desain dalam bentuk video
Seperti yang saya katakan di awal tadi, sepertinya saya memang mulai dan semakin jatuh cinta dengan typographic desain atau typo art. Aliran ini sudah cukup mempengaruhi cara berpikir saya dalam merancang sebuah karya desain grafis. Dari sini lah timbul keinginan untuk semakin mendalami aliran ini. Dan sejauh ini sepertinya aliran ini masih sangat jarang di populerkan di jogja khususnya.
Labels:
#31harimenulis,
Belajar,
Desain,
Komako,
Motion Graphic,
Poster,
sharing
Rabu, 25 Mei 2011
Tak Terasa Secepat Ini
"kuliah kita tinggal satu kali pertemuan lagi.."
Kata-kata itu belakangan ini menjadi sering diucapkan oleh dosen-dosen ketika kuliah hampir selesai. Yaa..ini sudah menginjak minggu terakhir bulan mei dan sebentar lagi minggu tenang akan tiba sebagai pembuka dari UAS semester genap. Dan dengan demikian semester 6 pun sebentar lagi resmi berakhir. Hmmm..sepertinya baru kemarin sore aku menulis postingan tentang semester 6 dan sepertinya juga baru kemarin 31 Hari Menulis dimulai, tapi kini sudah menginjak hari ke 25. Mungkin waktu memang terasa berjalan sangat cepat ketika kita menikmatinya, atau mungkin karena kita telah membuang-buang waktu? semoga saja tidak.
Kata-kata itu belakangan ini menjadi sering diucapkan oleh dosen-dosen ketika kuliah hampir selesai. Yaa..ini sudah menginjak minggu terakhir bulan mei dan sebentar lagi minggu tenang akan tiba sebagai pembuka dari UAS semester genap. Dan dengan demikian semester 6 pun sebentar lagi resmi berakhir. Hmmm..sepertinya baru kemarin sore aku menulis postingan tentang semester 6 dan sepertinya juga baru kemarin 31 Hari Menulis dimulai, tapi kini sudah menginjak hari ke 25. Mungkin waktu memang terasa berjalan sangat cepat ketika kita menikmatinya, atau mungkin karena kita telah membuang-buang waktu? semoga saja tidak.
Labels:
#31harimenulis,
sharing
Selasa, 24 Mei 2011
5 Kemampuan Yang Sangat Dibutuhkan
Di dunia ini tidak ada manusia yang sama persis dan tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ketika seseorang kurang disuatu bidang, pasti dia mempunyai kelebihan di bidang yang lain begitu juga sebaliknya. Misalnya saja seseorang yang tidak pandai berbicara tapi ternyata dia begitu pandai menulis atau pandai dalam komunikasi visual. Seseorang yang ahli di bidang riset tapi ternyata dia sangat kurang di bidang kreatif.
Tapi kadang kita sering berpikir kalau saja memiliki kemampuan tertentu mungkin kita bisa lebih baik. Misalnya saja seorang yang ahli dalam hal copywriting mungkin akan lebih sempurna ketika dia juga ahli dalam hal art directing. Tapi seringkali hal itu hanyalah sebatas angan-angan saja, sulit sekali untuk dilakukan karena mungkin kemampuan kita memang bukan disitu. Mungkin disitulah mengapa kita sesama manusia diciptakan berbeda-beda, karena kita memang harus saling bekerjasama. Kalau disuruh berandai-andai, mungkin ada beberapa kemampuan yang ingin saya miliki dimana kemampuan yang saya sebutkan mungkin adalah hasil dari review permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sebenarnya urutan disini bukanlah menunjukkan sebuah prioritas dan sebenarnya semuanya setara.
1. Telaten
Entah pemilihan kata telaten benar atau tidak, tapi maksudku ingin menjawab permasalahanku yang cepat bosan. Cepat bosan disini lebih pada ketika mencoba mempelajari sesuatu kemudian cepat bosan padahal belum sampai pada tingkatan yang disebut AHLI tapi baru sebatas BISA. Mungkin itu masih mending daripada baru sebatas TAHU sudah berhenti. Hal ini aku alami sejak kecil, waktu itu aku ingin punya hobi berkebun, tapi beberapa bulan kemudian berhenti karena bosan. Lalu pernah juga waktu awal SMP mencoba belajar elektronika tapi lama-lama bosan juga. Selanjutnya dibidang komputer, dulu aku pernah mencoba web programing, software programing, animasi flash, photoshop, tapi semuanya berhenti ditengah jalan karena merasa sudah bosan. Mungkin beberapa berhasil cukup telaten tapi itupun karena memang diharusnkan untuk mempelajarinya dan harus bisa. Jadi ketika mempunyai kemampuan untuk telaten, mungkin aku bisa lebih fokus dalam belajar.
2. Tidak Menunda Pekerjaan
Aku tidak menemukan kata yang cukup simple untuk menyebutkan kemampuan ini. Mungkin menunda pekerjaan sebenarnya sebuah penyakit yang melanda banyak anak muda jaman sekarang. Ketika mendapat sebuah tugas atau pekerjaan, kita seringkali lebih memilih untuk santai-santai dulu baru kemudian mengerjakannya setelah dekat deadline. Dengan alasan belum dapat ide, belum mood, dan semacamnya. Meski aku sering juga beralasan demikian, tapi menurutku sebenarnya ini hanyalah masalah kebiasaan. Seperti halnya dengan penyakit, sebenarnya tak ada penyakit yang tidak bisa diobati, dan bukan tidak mungkin penyakit menunda pekerjaan bisa diobati. Bukankah ketika kita tidak menunda mengerjakan sesuatu, mungkin kita bisa lebih teliti mengerjakannya dan mungkin banyak waktu sisa yang bisa digunakan kalau harus ada perbaikan misalnya. Dan ketika kita menunda pekerjaan kadang berakibat menumpuknya pekerjaan, dan ketika menumpuknya semakin parah, akhirnya ada satu yang harus dikorbankan untuk tidak dikerjakan.
3. Menyuruh Orang
Menyuruh orang disini sebenarnya lebih pada meminta tolong pada orang lain untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan kita. Keinginanku memiliki kemampuan ini sebenarnya dari kebiasaanku yang selalu mengerjakan sendi semua tugas yang diberikan padaku, padahal sebenarnya tugas itu bisa dibagi pada partner kerja yang lain agar lebih ringan. Tapi mungkin karena kadang aku merasa kurang percaya atau kurang puas kalau tidak dikerjakan sendiri jadinya lama-kelamaan aku jadi agak tidak tega ketika harus meminta tolong orang lain untuk membantu. Lalu keinginan ini juga terinspirasi dari seorang senior saya benama Awe yang dia mempunyai semacam kemampuan utnuk menyuruh orang, yang sebenarnya nyaris memiliki arti yang sesungguhnya (bukan meminta tolong). Padahal kalu dipikir-pikir orang yang disuruh itu aku yakin sebenarnya tidak selo, tapi oran itu pasti mau dan benar-benar dikerjakan.
4. Menolak
Mungkin kemampuan ini ada hubungannya dengan kemampuan nomor 3. Kemampuan menolak disini lebih spesifiknya kemampuan menolak permintaan. Kita semua mungkin sepakat bahwa menolong orang adalah hal yang baik, tapi ketika kita tidak memperhitungkan kemampuan kita, justru kita menjadi kerepotan sendiri. Nah disinilah masalah yang sering aku alami, terkadang aku sering merasa tidak enak ketika harus menolak saat dimintai tolong. Padahal aku juga belum tentu bisa, bisa dalam artian yang sesungguhnya dan bisa dalam artian waktu. Mungkin ada sisi positifnya ketika kita dimintai tolong tapi sebenarnya kita tidak bisa, dan kita tidak enak menolaknya, kita menjadi termotivasi untuk menjadi bisa. Tapi sepertinya lebih sering merugikan sih, sifat tidak bisa menolak itu.
5. Multitasking
Multitasking atau bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang relatif bersamaan, adalah kemampuan yang benar-benar aku inginkan. Hal ini berawal dari pengalamanku yang hanya bisa fokus mengerjakan satu pekerjaan (atau dua maklsimal). Ketika aku mendapat banyak tugas yang harus dikerjakan bersamaan, sudah menjadi jaminan yang terselesaikan pasti cuma satu. Atau paling tidak yang terselesaikan dengan baik ya cuma satu, yang lain mungkin juga terselesaikan tapi menjadi kurang memuaskan. Mungkin selain multitasking juga butuh multithinking karena seringkali ketika fokus memikirkan satu hal, maka hal yang lain menjadi tidak aku sadari atau lepas dari pemikiranku. Ahh..entahlah aku tak bisa banyak berkata-kata tentang kemampuan ini, karena menurutku kemampuan ini sangat luar biasa. Kalau ibarat komputer, kemampuan multitasking adalah seperti komputer yang memiliki prosesor dua core atau mungkin quad core.
Tapi kadang kita sering berpikir kalau saja memiliki kemampuan tertentu mungkin kita bisa lebih baik. Misalnya saja seorang yang ahli dalam hal copywriting mungkin akan lebih sempurna ketika dia juga ahli dalam hal art directing. Tapi seringkali hal itu hanyalah sebatas angan-angan saja, sulit sekali untuk dilakukan karena mungkin kemampuan kita memang bukan disitu. Mungkin disitulah mengapa kita sesama manusia diciptakan berbeda-beda, karena kita memang harus saling bekerjasama. Kalau disuruh berandai-andai, mungkin ada beberapa kemampuan yang ingin saya miliki dimana kemampuan yang saya sebutkan mungkin adalah hasil dari review permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sebenarnya urutan disini bukanlah menunjukkan sebuah prioritas dan sebenarnya semuanya setara.
1. Telaten
Entah pemilihan kata telaten benar atau tidak, tapi maksudku ingin menjawab permasalahanku yang cepat bosan. Cepat bosan disini lebih pada ketika mencoba mempelajari sesuatu kemudian cepat bosan padahal belum sampai pada tingkatan yang disebut AHLI tapi baru sebatas BISA. Mungkin itu masih mending daripada baru sebatas TAHU sudah berhenti. Hal ini aku alami sejak kecil, waktu itu aku ingin punya hobi berkebun, tapi beberapa bulan kemudian berhenti karena bosan. Lalu pernah juga waktu awal SMP mencoba belajar elektronika tapi lama-lama bosan juga. Selanjutnya dibidang komputer, dulu aku pernah mencoba web programing, software programing, animasi flash, photoshop, tapi semuanya berhenti ditengah jalan karena merasa sudah bosan. Mungkin beberapa berhasil cukup telaten tapi itupun karena memang diharusnkan untuk mempelajarinya dan harus bisa. Jadi ketika mempunyai kemampuan untuk telaten, mungkin aku bisa lebih fokus dalam belajar.
2. Tidak Menunda Pekerjaan
Aku tidak menemukan kata yang cukup simple untuk menyebutkan kemampuan ini. Mungkin menunda pekerjaan sebenarnya sebuah penyakit yang melanda banyak anak muda jaman sekarang. Ketika mendapat sebuah tugas atau pekerjaan, kita seringkali lebih memilih untuk santai-santai dulu baru kemudian mengerjakannya setelah dekat deadline. Dengan alasan belum dapat ide, belum mood, dan semacamnya. Meski aku sering juga beralasan demikian, tapi menurutku sebenarnya ini hanyalah masalah kebiasaan. Seperti halnya dengan penyakit, sebenarnya tak ada penyakit yang tidak bisa diobati, dan bukan tidak mungkin penyakit menunda pekerjaan bisa diobati. Bukankah ketika kita tidak menunda mengerjakan sesuatu, mungkin kita bisa lebih teliti mengerjakannya dan mungkin banyak waktu sisa yang bisa digunakan kalau harus ada perbaikan misalnya. Dan ketika kita menunda pekerjaan kadang berakibat menumpuknya pekerjaan, dan ketika menumpuknya semakin parah, akhirnya ada satu yang harus dikorbankan untuk tidak dikerjakan.
3. Menyuruh Orang
Menyuruh orang disini sebenarnya lebih pada meminta tolong pada orang lain untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan kita. Keinginanku memiliki kemampuan ini sebenarnya dari kebiasaanku yang selalu mengerjakan sendi semua tugas yang diberikan padaku, padahal sebenarnya tugas itu bisa dibagi pada partner kerja yang lain agar lebih ringan. Tapi mungkin karena kadang aku merasa kurang percaya atau kurang puas kalau tidak dikerjakan sendiri jadinya lama-kelamaan aku jadi agak tidak tega ketika harus meminta tolong orang lain untuk membantu. Lalu keinginan ini juga terinspirasi dari seorang senior saya benama Awe yang dia mempunyai semacam kemampuan utnuk menyuruh orang, yang sebenarnya nyaris memiliki arti yang sesungguhnya (bukan meminta tolong). Padahal kalu dipikir-pikir orang yang disuruh itu aku yakin sebenarnya tidak selo, tapi oran itu pasti mau dan benar-benar dikerjakan.
4. Menolak
Mungkin kemampuan ini ada hubungannya dengan kemampuan nomor 3. Kemampuan menolak disini lebih spesifiknya kemampuan menolak permintaan. Kita semua mungkin sepakat bahwa menolong orang adalah hal yang baik, tapi ketika kita tidak memperhitungkan kemampuan kita, justru kita menjadi kerepotan sendiri. Nah disinilah masalah yang sering aku alami, terkadang aku sering merasa tidak enak ketika harus menolak saat dimintai tolong. Padahal aku juga belum tentu bisa, bisa dalam artian yang sesungguhnya dan bisa dalam artian waktu. Mungkin ada sisi positifnya ketika kita dimintai tolong tapi sebenarnya kita tidak bisa, dan kita tidak enak menolaknya, kita menjadi termotivasi untuk menjadi bisa. Tapi sepertinya lebih sering merugikan sih, sifat tidak bisa menolak itu.
5. Multitasking
Multitasking atau bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang relatif bersamaan, adalah kemampuan yang benar-benar aku inginkan. Hal ini berawal dari pengalamanku yang hanya bisa fokus mengerjakan satu pekerjaan (atau dua maklsimal). Ketika aku mendapat banyak tugas yang harus dikerjakan bersamaan, sudah menjadi jaminan yang terselesaikan pasti cuma satu. Atau paling tidak yang terselesaikan dengan baik ya cuma satu, yang lain mungkin juga terselesaikan tapi menjadi kurang memuaskan. Mungkin selain multitasking juga butuh multithinking karena seringkali ketika fokus memikirkan satu hal, maka hal yang lain menjadi tidak aku sadari atau lepas dari pemikiranku. Ahh..entahlah aku tak bisa banyak berkata-kata tentang kemampuan ini, karena menurutku kemampuan ini sangat luar biasa. Kalau ibarat komputer, kemampuan multitasking adalah seperti komputer yang memiliki prosesor dua core atau mungkin quad core.
Labels:
#31harimenulis,
sharing
Langganan:
Postingan (Atom)




